JATIMTIMES - Rasa sedih setelah kehilangan kesempatan menjalankan ibadah dapat menjadi tanda kebaikan seorang Muslim. Namun, Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan agar penyesalan tersebut tidak berhenti sebagai kesedihan tanpa diikuti upaya untuk kembali menjalankan ketaatan.

Pesan tersebut disampaikan Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam. Dalam kitab itu, dijelaskan perbedaan antara penyesalan yang mendorong seseorang memperbaiki diri dan penyesalan yang justru membuat seseorang berhenti dalam kesedihan.

Ia mengingatkan bahwa kesedihan akibat kehilangan kesempatan beribadah dapat berubah menjadi tanda seseorang terpedaya apabila tidak disertai usaha untuk memperbaiki diri.

“Bersedih ketika kehilangan kesempatan menjalankan ketaatan tanpa adanya usaha untuk bangkit dan mengerjakannya kembali, merupakan salah satu tanda seseorang telah tertipu.”

Ketika seseorang melewatkan suatu amal kebaikan kemudian merasa sedih, perasaan tersebut masih menunjukkan adanya perhatian terhadap ketaatan. Bahkan, penyesalan itu dapat menjadi dorongan untuk kembali melakukan amal serupa ketika kesempatan berikutnya datang.

Namun, kondisi berbeda apabila seseorang hanya meratapi amal yang telah ditinggalkan tanpa berusaha memperbaikinya. Dalam keadaan tersebut, kesedihan tidak lagi menghasilkan perubahan dalam perilaku.

Ustaz Bahreisy dalam terjemah Al-Hikam memberikan penjelasan mengenai hal tersebut. Menurutnya, rasa sedih karena tertinggal melakukan amal kebaikan merupakan sesuatu yang baik. Akan tetapi, persoalannya muncul ketika seseorang kembali memperoleh kesempatan berbuat baik tetapi tidak segera melakukannya.

“Jika ketinggalan melakukan amal kebaikan merasa sedih. Tapi jika mendapat kesempatan melakukan amal kebaikan, malah tidak segera melakukannya. Maka itu tandanya telah dipermainkan oleh setan.”

Sebagai gambaran, seseorang yang tidak sempat menjalankan puasa sunnah kemudian merasa menyesal masih memiliki kesempatan memperbaiki keadaan dengan menjalankan puasa sunnah pada waktu lain.

Sebaliknya, apabila penyesalan tersebut hanya membuatnya terus bersedih tanpa ada usaha untuk kembali beribadah, maka kondisi itu tidak memberikan perubahan terhadap amalnya.

Dalam penjelasan yang dikutip dari Al-Hikam dengan tambahan keterangan dari penyusun dan penerjemahnya, DA Pakih Sati Lc, seseorang dianjurkan segera bergerak memperbaiki keadaan setelah menyadari kelalaiannya.

“Sesali momen ketaatan yang kalian lewatkan, tetapi jangan larut dalam kesedihan. Segeralah beraksi memperbaiki keadaan dengan menghempaskan segala kelalaian.”

DA Pakih Sati juga memberikan gambaran bahwa keinginan tanpa tindakan tidak akan mengubah keadaan. Hal itu dianalogikan dengan seseorang yang memiliki cita-cita menjadi pengusaha sukses, tetapi hanya menghabiskan waktu dengan tidur dan bermimpi tanpa melakukan usaha.

Dalam konteks ibadah, pola yang sama dapat terjadi ketika seseorang menginginkan kehidupan yang lebih taat tetapi tidak mengambil tindakan setelah menyadari kelalaiannya.

Karena itu, kesempatan melakukan amal yang telah terlewat tidak perlu menjadi alasan untuk terus larut dalam kesedihan. Perasaan menyesal dapat menjadi awal untuk kembali menjalankan ketaatan ketika kesempatan berikutnya terbuka.