JATIMTIMES - Setiap orang tentu ingin meraih kemenangan dalam hidup. Ada yang mengejarnya melalui pekerjaan, pendidikan, usaha, atau berbagai perjuangan yang dijalani setiap hari.
Namun, dalam Islam, kemenangan tidak berhenti pada keberhasilan mendapatkan apa yang diinginkan. Ada nilai yang lebih penting, yakni bagaimana seseorang tetap berada di jalan yang diridhai Allah SWT ketika berjuang dan setelah memperoleh hasil.
Perjalanan menuju kemenangan juga membutuhkan kesabaran, keteguhan hati, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Kegagalan tidak selalu berarti akhir dari perjuangan, sebagaimana keberhasilan juga bukan alasan untuk merasa paling unggul. Seorang Muslim perlu memahami bahwa setiap usaha memiliki proses dan ujian yang harus dihadapi dengan iman serta ikhtiar.
Khutbah Jumat kali ini membahas bekal yang perlu dimiliki seorang Muslim untuk meraih kemenangan yang sebenarnya. Kemenangan yang membawa kebaikan di dunia sekaligus menjadi jalan menuju keselamatan di akhirat. Dari khutbah ini, kita belajar bahwa hasil akhir bukan satu-satunya ukuran, karena cara menjalani perjuangan juga memiliki nilai di hadapan Allah SWT.
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلى يَوْمِ الدّيْن. فَيَا آيُّهَاالْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِه لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang masih memberikan kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan. Dengan nikmat tersebut, pagi hingga siang hari ini kita dapat meninggalkan sejenak kesibukan dunia, melangkahkan kaki menuju masjid, kemudian duduk bersama untuk melaksanakan salat Jumat dan mengharap ridha Allah Swt.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., kepada keluarga, para sahabat, serta seluruh umat beliau yang istiqamah mengikuti ajarannya hingga hari kiamat.
Pada kesempatan ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jemaah agar terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Ketakwaan kita buktikan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Barangkali sebagian dari kita masih terbawa suasana bahagia setelah menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia tadi malam.
Timnas Indonesia berhasil mengalahkan Bangladesh dengan skor 9-2 dalam laga Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kemenangan tersebut sekaligus mengantarkan Indonesia ke final.
Kita tentu boleh bergembira. Namun, di balik sebuah pertandingan sepak bola, ada pelajaran yang menarik untuk kita renungkan bersama.
Kemenangan tidak datang begitu saja. Ada latihan yang panjang. Ada strategi yang disiapkan. Ada kerja sama antarpemain. Ada perjuangan ketika pertandingan belum selesai. Bahkan ketika keadaan berubah dan tekanan datang, sebuah tim harus tetap menjaga konsentrasi sampai peluit akhir berbunyi.
Dari sini kita bisa bertanya kepada diri sendiri, kalau kemenangan dalam pertandingan saja membutuhkan persiapan, kerja keras, kekompakan, dan keteguhan, bagaimana dengan kemenangan yang sesungguhnya dalam kehidupan?
Sebab, sebagai seorang Muslim, ukuran kemenangan kita tidak berhenti pada keberhasilan mendapatkan sesuatu di dunia.
Kita boleh mendapatkan jabatan, harta, popularitas, usaha yang berkembang, atau prestasi yang membanggakan. Namun, semua itu belum tentu menjadi kemenangan di hadapan Allah.
Bisa jadi seseorang terlihat berhasil di mata manusia, tetapi justru mengalami kerugian dalam kehidupan akhirat. Karena itu, Al-Qur’an mengajarkan kepada kita tentang siapa saja yang memperoleh kemenangan yang hakiki.
Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah.
Kunci kemenangan yang pertama adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Menjadi seorang Muslim berarti mengikrarkan syahadat sebagai kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Syahadat bukan sekadar identitas, tetapi juga ikrar untuk tunduk dan patuh kepada ajaran Allah dan Rasul-Nya.
Allah Swt. berfirman:
تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يُطِعِ ٱللّهَ وَرَسُولَهُۥ يُدْخِلْهُ جَنَّـٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
Artinya: “Itulah batas-batas (hukum) Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang agung.” (QS An-Nisa [4]: 13).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kemenangan terbesar bukanlah ketika manusia berhasil mengalahkan orang lain. Kemenangan terbesar adalah ketika kita mampu menundukkan diri sendiri untuk taat kepada Allah.
Sebab, tidak sedikit orang yang mampu mengendalikan orang lain, namun kesulitan mengendalikan hawa nafsunya sendiri.
Tidak sedikit yang mampu mengejar keberhasilan dunia, tetapi gagal menjaga salatnya. Ada yang mampu mendapatkan banyak harta, tetapi kehilangan kejujuran. Ada yang memperoleh kedudukan tinggi, tetapi lupa bahwa semua kedudukan pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Maka, kemenangan seorang Muslim dimulai dari ketaatan.
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kunci kemenangan berikutnya adalah senang melakukan kebaikan. Kebaikan tidak pernah benar-benar hilang. Sekecil apa pun amal yang kita lakukan, Allah mengetahuinya dan akan memberikan balasan.
Terkadang kita menganggap membantu orang lain sebagai sesuatu yang kecil. Memberikan makanan kepada tetangga, membantu orang yang sedang kesulitan, menyisihkan sebagian rezeki, tersenyum kepada saudara, atau memberikan tenaga untuk kepentingan bersama.
Kita mungkin menganggapnya sederhana. Namun, di sisi Allah, tidak ada kebaikan yang sia-sia.
Allah Swt. berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ لَهُمْ جَنَّـٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْكَبِيرُ
Artinya: “Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah kemenangan yang agung.” (QS Al-Buruj [85]: 11).
Allah bahkan menjelaskan bahwa amal kebaikan dapat dilipatgandakan pahalanya. Dalam QS Al-Baqarah ayat 261, Allah menggambarkan pahala infak seperti satu benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan setiap bulir menghasilkan seratus biji.
Artinya, jangan pernah meremehkan kebaikan hanya karena bentuknya kecil. Boleh jadi sesuatu yang menurut kita tidak berarti justru menjadi amal yang menyelamatkan kita di akhirat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Kunci kemenangan yang ketiga adalah memegang kebenaran dan kejujuran. Kebenaran dan kejujuran tidak seharusnya hanya menjadi ucapan. Keduanya harus tampak dalam kehidupan.
Jujur ketika berbicara. Jujur ketika berdagang. Jujur ketika bekerja. Jujur ketika menjalankan amanah. Bahkan jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat kita.
Sebab, manusia mungkin tidak mengetahui apa yang kita sembunyikan. Namun, Allah mengetahui semuanya.
Orang yang memilih kejujuran terkadang memang harus melewati jalan yang tidak mudah. Ada keuntungan yang mungkin terlepas. Ada kesempatan yang harus ditolak. Ada godaan yang harus dilawan.
Namun, istiqamah dalam kebenaran itulah yang pada akhirnya membawa seseorang kepada kemenangan yang diridhai Allah.
Allah Swt. berfirman:
قَالَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْ ۗ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Artinya: “
Allah berfirman, inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.”
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kunci kemenangan yang keempat adalah menepati janji. Ada ungkapan yang sangat kita kenal, yakni janji adalah utang.
Ketika seseorang berjanji, ada tanggung jawab yang melekat di dalamnya. Karena itu, jangan mudah mengucapkan janji jika kita sendiri tidak bersungguh-sungguh untuk menepatinya.
Janji kepada keluarga harus dijaga. Janji dalam pekerjaan harus dipenuhi. Janji dalam perdagangan harus dilaksanakan. Amanah yang sudah dipercayakan kepada kita juga harus ditunaikan.
Allah Swt. berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Artinya: “…Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS At-Taubah: 111).
Ayat ini menunjukkan betapa mulianya orang yang menjaga janji dan amanah.
Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah.
Kunci kemenangan yang kelima adalah kesabaran. Inilah bagian yang sering kali paling berat.
Sabar bukan berarti tidak merasakan sakit. Sabar juga bukan berarti seseorang tidak boleh sedih ketika menghadapi masalah. Sabar berarti mampu menahan diri agar kesulitan tidak membuat kita keluar dari jalan yang diridhai Allah.
Ketika dihina, kita menahan diri agar tidak membalas dengan penghinaan. Ketika diuji, kita tidak berputus asa. Ketika gagal, kita tidak berhenti berusaha. Ketika doa belum dikabulkan, kita tetap percaya bahwa Allah mengetahui waktu yang terbaik.
Allah menggambarkan orang-orang yang memperoleh kemenangan karena kesabaran mereka dalam surat Al-Mu’minun ayat 109-111:
إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْ عِبَادِى يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلرَّٰحِمِينَ . فَٱتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا حَتَّىٰٓ أَنسَوْكُمْ ذِكْرِى وَكُنتُم مِّنْهُمْ تَضْحَكُونَ . إِنِّى جَزَيْتُهُمُ ٱلْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوٓا۟ أَنَّهُمْ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ
Artinya: “
Sungguh ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa, ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik.’ Lalu kamu jadikan mereka buah ejekan, sehingga kamu lupa mengingat Aku, dan kamu (selalu) menertawakan mereka. Sungguh pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka, karena kesabaran mereka; sungguh mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan
.” (QS Al-Mu’minun: 109-111).
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Kalau semalam kita menyaksikan Timnas Indonesia berjuang sampai menit-menit akhir dan akhirnya memastikan tiket ke final, kita bisa mengambil satu pelajaran sederhana, bahwa sebuah kemenangan membutuhkan perjuangan yang tidak berhenti sebelum pertandingan benar-benar selesai.
Namun, bagi seorang Muslim, ada pertandingan yang jauh lebih panjang. Pertandingan melawan hawa nafsu. Perjuangan menjaga kejujuran. Perjuangan mempertahankan amanah. Perjuangan untuk tetap taat ketika godaan datang. Perjuangan untuk tetap sabar ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.
Dan pertandingan kehidupan ini tidak selesai ketika kita mendapatkan tepuk tangan manusia. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika kita menghadap Allah dalam keadaan membawa iman, amal saleh, kejujuran, amanah, dan kesabaran.
Karena itu, mari kita periksa kembali diri kita. Apakah kita sudah taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Apakah kita terbiasa berbuat baik? Apakah kita masih menjaga kejujuran ketika tidak ada yang melihat? Apakah janji dan amanah sudah kita tunaikan? Dan apakah kita mampu bersabar ketika mendapatkan ujian?
Semoga Allah membimbing kita menjadi orang-orang yang memperoleh kemenangan, bukan sekadar kemenangan yang terlihat di dunia, tetapi kemenangan yang abadi di akhirat.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang taat, gemar berbuat baik, selalu jujur, mampu menjaga amanah dan janji, serta diberi kesabaran dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.
فَاسْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Semoga kita semua termasuk golongan yang memperoleh al-fauzul ‘azhim, kemenangan yang agung di sisi Allah Swt.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَة وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّه هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إلى رِضْوَانِهِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى اٰلِه وَأَصْحَابِه وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا آيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِه لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
إِنَّ اللّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلى سيّدنا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِ سيّدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلى سيّدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلى آلِ سيّدنا إِبْرَاهِيْمَ ،
وَبَارِكْ عَلى سيّدنا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِ سيّدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيّدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلى سيّدنا آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا - بِذُنُوْبِنَا - مَنْ لَا يَخَافُكَ وَلَا يَرْحَمُناَ
.اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيمَاناً لاَ يَرْتَدُّ وَنَعِيماً لاَ يَنْفَدُ وَمُرَافَقَةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- فِى أَعلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ .رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا .رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .
وَصَلَّى اللهُ عَلى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِه وَصَحْبِه و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ



