JATIMTIMES - Kisah sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang satu ini menyimpan pelajaran berharga bagi umat Muslim di segala zaman. Cerita tersebut datang dari Sa’ad bin Hisyam, seorang sahabat yang memiliki tekad kuat untuk mengabdikan seluruh hidupnya di jalan Allah.
Niatnya murni, hanya mengharap surga dan ridha-Nya, namun langkah yang hendak ia ambil ternyata tidak sepenuhnya sejalan dengan teladan Rasulullah.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Al-Hasan, kisah ini berawal ketika Sa’ad bin Hisyam memutuskan untuk meninggalkan segala urusan duniawi yang ia anggap bisa menghalangi ibadahnya. Ia menceraikan istrinya, lalu berencana menjual rumahnya di Madinah.
Uang hasil penjualan itu akan ia gunakan untuk membeli kuda dan senjata, semata-mata agar bisa terjun berjihad. Tekadnya semakin bulat untuk hidup membujang dan memutuskan hubungan dengan hal-hal yang menurutnya bisa mengurangi fokus beribadah.
Dengan niat tersebut, Sa’ad kemudian mendatangi Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia menceritakan semua rencana hidupnya kepada istri Rasulullah, termasuk tekadnya untuk tidak menikah lagi. Sa’ad yakin, dengan hidup membujang, ia bisa sepenuhnya mengarahkan hidupnya untuk ibadah dan perjuangan di jalan Allah.
Namun, Aisyah memberikan nasihat yang penuh hikmah. Beliau mengingatkan Sa’ad dengan mengutip firman Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 21: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”.
Beliau menegaskan bahwa Rasulullah sendiri menikah dan memiliki keturunan. Kehidupan rumah tangga tidak pernah menghalangi beliau untuk tetap menjadi hamba yang taat, pemimpin yang bijak, sekaligus pejuang di jalan Allah.
Aisyah mengajarkan bahwa meneladani Rasulullah bukan hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk pernikahan. Pernikahan bukanlah penghalang untuk beribadah, justru dapat menjadi bagian dari ibadah itu sendiri. Dalam pandangan beliau, meninggalkan pernikahan seumur hidup demi alasan ibadah semata bukanlah jalan yang sesuai dengan sunnah Nabi.
Kisah ini memberi pelajaran mendalam bahwa semangat ibadah yang benar adalah semangat yang selaras dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Niat baik harus berjalan seiring dengan tuntunan syariat. Jika Nabi melakukan suatu amalan, maka itulah yang patut diikuti. Jika Nabi menikah dan tetap mampu beribadah dengan sempurna, maka membujang selamanya bukanlah pilihan yang tepat bagi seorang Muslim yang ingin meneladani beliau.
Selain itu, kisah ini mengingatkan bahwa ukuran kebaikan suatu amalan tidak terletak pada beratnya atau banyaknya amalan tersebut, tetapi pada kesesuaiannya dengan sunnah Nabi. Ibadah yang dilakukan dengan susah payah namun tidak sesuai dengan tuntunan beliau, pada akhirnya akan kehilangan nilainya. Kesungguhan dalam beribadah harus dibarengi dengan kesesuaian pada petunjuk yang telah dicontohkan.
Sa’ad bin Hisyam akhirnya memahami bahwa teladan Nabi adalah jalan terbaik dalam meraih ridha Allah. Pernikahan, keluarga, dan ibadah dapat berjalan beriringan jika dijalankan dengan niat yang benar. Pesan yang disampaikan Aisyah radhiyallahu ‘anha ini pun menjadi pengingat bagi generasi Muslim sepanjang masa, bahwa meneladani Rasulullah adalah kunci utama dalam menapaki jalan kehidupan.



