JATIMTIMES - Pernyataan sejarawan Prancis Louis Blin yang menyebut Napoleon Bonaparte sebagai seorang Muslim kembali memicu perdebatan mengenai hubungan mantan kaisar Prancis tersebut dengan Islam. Klaim itu tidak hanya menyentuh persoalan keyakinan pribadi Napoleon, tetapi juga membuka kembali pertanyaan tentang penggunaan agama sebagai instrumen kekuasaan dalam ekspansi Prancis ke Mesir pada akhir abad ke-18.
Blin menyampaikan pandangannya dalam ceramah di Masjid Agung Paris pada 30 September 2026. Pernyataan tersebut kemudian menyebar melalui video yang diunggah pihak masjid. Namun, klaim itu belum memperoleh penerimaan luas di kalangan sejarawan. Sejumlah dokumen memperlihatkan ketertarikan Napoleon terhadap Islam, sedangkan catatan sejarah lainnya menunjukkan sikap pragmatisnya dalam memanfaatkan agama untuk kepentingan politik.
Perdebatan mengenai keyakinan Napoleon bahkan menjadi pertanyaan utama dalam buku Napoléon et l’islam yang diterbitkan Erick Bonnier di Paris pada 23 Oktober 2025. Buku setebal sekitar 290 halaman tersebut masuk dalam seri Encre d’Orient dan dilengkapi referensi serta indeks. Hingga kini, buku itu belum diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Penerbit buku tersebut tidak langsung memberikan jawaban pasti mengenai agama yang dianut Napoleon. Sebaliknya, mereka mengajukan pertanyaan yang menggambarkan kontroversi tersebut: “Berpura-pura atau tulus? Kristen atau Muslim?”
Pertanyaan itu memperlihatkan dua kemungkinan yang terus diperdebatkan: apakah ketertarikan Napoleon terhadap Islam merupakan keyakinan pribadi atau strategi untuk mendapatkan dukungan masyarakat di wilayah yang hendak dikuasainya.
Napoleon pernah memperlihatkan sikap terbuka terhadap Islam ketika memimpin ekspedisi militer ke Mesir pada 1798. Maklumat yang disampaikan kepada masyarakat setempat diawali dengan basmalah serta memuat pernyataan penghormatan terhadap Nabi Muhammad dan Alquran. Namun, sekitar tiga bulan kemudian, pasukannya menyerang kawasan Al-Azhar di Kairo.
Kontradiksi serupa terlihat dalam perjalanan politiknya. Pada 1800, Napoleon mengakui bahwa agama dapat digunakan untuk memperoleh dukungan masyarakat. Dalam sidang Dewan Negara pada 16 Agustus tahun itu, ia menyatakan bahwa dirinya dapat memenangkan perang di Vendée dengan menjadikan diri sebagai seorang Katolik, kemudian bertahan di Mesir dengan menjadikan diri sebagai seorang Muslim.
Ia bahkan mengatakan bahwa apabila memerintah bangsa Yahudi, dirinya akan membangun kembali Kuil Sulaiman.
Pernyataan tersebut kerap dipandang sebagai bukti bahwa Napoleon memperlakukan agama secara oportunistis. Namun, Roland Lafitte, peneliti independen asal Prancis yang mengulas buku Blin melalui situs Musulmans en France, menawarkan penafsiran lain. Menurutnya, penghormatan terhadap agama mayoritas dapat dipahami sebagai cara seorang penguasa membangun legitimasi politik di wilayah yang dikuasainya.
Lafitte juga menelusuri berbagai pengalaman yang dinilai membentuk ketertarikan Napoleon terhadap dunia Islam, mulai dari masa kecilnya di Korsika hingga ekspedisi militernya ke Mesir.
Napoleon disebut pernah menulis cerita tentang seorang pemuda yang bermimpi mengikuti jejak Nabi Muhammad. Ia juga tertarik pada pemikiran Jean-Jacques Rousseau dan membaca terjemahan makna Alquran karya Claude-Étienne Savary ketika berada di kapal menuju Alexandria.
Meski demikian, Lafitte tidak menyimpulkan bahwa Napoleon memeluk Islam dalam pengertian keagamaan yang lazim. Ia menggambarkan Bonaparte sebagai seorang deist, yakni orang yang meyakini keberadaan Tuhan tanpa terikat pada agama tertentu, sekaligus sebagai produk Zaman Pencerahan yang tidak menjalankan ritual agama secara konsisten.
Dalam penafsiran tersebut, status Napoleon sebagai seorang Katolik tidak serta-merta meniadakan kemungkinan bahwa ia pernah mengucapkan dua kalimat syahadat ketika berada di Kairo. Namun, kemungkinan itu tetap berbeda dari bukti yang memastikan bahwa ia secara resmi memeluk Islam.
Salah satu dokumen yang menjadi perhatian adalah surat Napoleon kepada Syekh Muhammad al-Misiri, ulama terkemuka Alexandria, pada 28 Agustus 1798. Surat tersebut tercatat dalam kumpulan Correspondance de Napoléon Ier. Di dalamnya, Napoleon menyampaikan keinginan untuk menghimpun para ulama Mesir dan membangun pemerintahan berdasarkan prinsip-prinsip Alquran.
Dokumen lain berasal dari catatan Jenderal Gaspard Gourgaud, yang mendampingi Napoleon selama pengasingannya di Pulau Saint Helena. Dalam catatan pada 1817, Gourgaud menyebut Napoleon lebih menyukai agama Muhammad karena dianggap memiliki lebih sedikit hal yang tidak masuk akal dibandingkan dengan agamanya sendiri.
Bagi Lafitte, pernyataan itu menarik karena muncul ketika Napoleon sudah kehilangan kekuasaan dan tidak lagi memimpin ekspedisi militer di dunia Muslim. Ia mempertanyakan alasan mantan kaisar tersebut terus membicarakan Islam selama pengasingan apabila ketertarikan itu semata-mata ditujukan untuk memengaruhi masyarakat Mesir.
Akan tetapi, dokumen lain memperlihatkan sisi berbeda. Dalam surat wasiat bertanggal 15 April 1821, Napoleon secara tegas menyatakan meninggal dalam keyakinan Katolik Roma.
Catatan sejarah mengenai ekspedisi Prancis juga memperlihatkan kekerasan yang tidak dapat dipisahkan dari pembahasan tersebut. Sejarawan Mesir Abdurrahman al-Jabarti, yang hidup sezaman dengan invasi Prancis, mencatat pasukan Napoleon memasuki Masjid Al-Azhar dengan menunggang kuda. Ia juga mengkritik maklumat pertama Napoleon karena penggunaan bahasa Arab yang dinilainya buruk, termasuk kesalahan tata bahasa di dalamnya.
Pada Maret 1799, pasukan Prancis mengeksekusi tawanan Ottoman di Jaffa, Palestina. Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dari catatan mengenai kekerasan militer selama ekspedisi Napoleon di kawasan Timur Tengah.
Lafitte tidak menyangkal tindakan represif di Kairo maupun pembantaian di Palestina. Namun, ia menilai perlawanan masyarakat setempat terutama berkaitan dengan penolakan terhadap pendudukan asing, bukan semata-mata konflik agama.
Pandangan yang lebih politis disampaikan Henri Laurens, profesor di Collège de France yang menulis mengenai ekspedisi Napoleon ke Mesir. Dalam ceramah yang dilaporkan surat kabar L’Orient-Le Jour, Laurens menilai Bonaparte dan para penasihatnya yang berlatar belakang orientalis memahami Islam sebagai instrumen politik untuk menguasai kawasan Timur.
Sementara itu, Juan Cole, profesor sejarah Universitas Michigan, dalam bukunya Napoleon’s Egypt menguraikan penggunaan retorika pembebasan oleh Prancis untuk membenarkan pendudukan Mesir. Bahasa yang menampilkan Napoleon sebagai pembebas masyarakat setempat menjadi bagian dari strategi untuk memperoleh dukungan di wilayah yang ditaklukkan.
John Tolan, profesor sejarah Universitas Nantes, melalui bukunya Faces of Muhammad, mengakui adanya kekaguman Napoleon terhadap Nabi Muhammad. Namun, menurut Tolan, gambaran mengenai Nabi Muhammad yang dibentuk para penulis Eropa sering kali mencerminkan kegelisahan dan persoalan yang mereka hadapi sendiri.
Dalam konteks Napoleon, sosok Nabi Muhammad yang digambarkannya dapat menyerupai citra dirinya sendiri seandainya ia berhasil mencapai ambisi politiknya. Sementara itu, sejarawan Prancis Jean Tulard mengingatkan agar Napoleon tidak terburu-buru dicap munafik, mengingat ia mengenal Alquran dan mengagumi Nabi Muhammad.
Di luar perdebatan mengenai keyakinan pribadi, persoalan yang lebih besar terletak pada hubungan antara pemikiran Eropa tentang Islam dan ekspansi kolonial. Lafitte menilai ketertarikan sebagian pemikir Zaman Pencerahan terhadap Islam pada akhirnya memudar di tengah perkembangan kolonialisme. Dalam tesis Blin, dimensi hubungan Napoleon dengan Islam juga dinilai tersisih dari narasi kepahlawanan nasional Prancis ketika ekspansi kolonial di Aljazair berkembang.
Perdebatan mengenai Napoleon dan Islam sebelumnya berlangsung terbatas melalui situs yang dekat dengan komunitas Muslim Prancis, ceramah masjid, pusat penelitian, dan perpustakaan. Setelah video pernyataan Blin menyebar luas, situs sayap kanan Fdesouche mengkritik tesis tersebut dan menyebutnya sebagai berita bohong. Situs itu menilai agama bagi Napoleon terutama merupakan alat politik, tetapi tidak menyebutkan nama sejarawan yang mendukung pandangan tersebut.
Pada 5 Oktober 2026, Masjid Agung Paris menerbitkan klarifikasi. Pihak masjid menegaskan bahwa pandangan Blin merupakan gagasan pribadi yang masih menjadi pendapat minoritas di kalangan sejarawan. Tesis tersebut, menurut pihak masjid, didukung sumber tertulis dan visual, tetapi tetap perlu ditempatkan dalam konteks pragmatisme politik Napoleon.
Pihak masjid juga menyatakan bahwa diskusi ilmiah mengenai hubungan Napoleon dengan Islam bukanlah upaya untuk menulis ulang sejarah. Perdebatan itu menunjukkan keterkaitan sejarah Prancis dengan Islam, sekaligus membuka ruang pembahasan mengenai kolonialisme, identitas nasional, dan hubungan Eropa dengan dunia Muslim.
Sejumlah peneliti mengaitkan perhatian baru terhadap buku Blin dengan situasi kontemporer di Prancis, khususnya perdebatan mengenai Islamofobia dan posisi komunitas Muslim. Keyakinan Napoleon yang meninggal pada 1821 pun kembali menjadi bahan perdebatan politik masa kini, ketika dokumen sejarah dan penafsiran atas masa lalu digunakan untuk memperkuat pandangan yang saling berseberangan.



