JATIMTIMES - Terjadi 122 gempa bumi di Jawa Timur (Jatim) dan sekitarnya pada awal Oktober 2026. Dari ratusan peristiwa gempa bumi tersebut didominasi dengan klasifikasi gempa bumi dangkal.

Secara umum, disampaikan Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Malang Ricko Kardoso, gempa bumi yang terjadi di awal Oktober 2026 tersebut terdiri dari tiga klasifikasi. Pertama ialah gempa bumi dangkal yang terjadi pada kedalaman kurang dari 60 kilometer dari permukaan laut.

Selanjutnya ialah gempa bumi menengah yang terjadi pada kedalaman antara 60-300 kilometer dari permukaan laut. Kemudian gempa bumi dalam yang terjadi pada kedalaman lebih dari 300 kilometer dari permukaan laut.

"Pada periode 2-8 Oktober (2026) di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya terjadi 122 kejadian gempa bumi. Sedangkan magnitudo terbesar pada periode ini adalah M 4.65 dan magnitudo terkecil yaitu M 1.18," ujarnya kepada JatimTIMES.

Dari ratusan gempa bumi yang terekam dalam sepekan pada awal Oktober 2026 itulah, disampaikan Ricko, yang didominasi oleh gempa bumi dengan klasifikasi dangkal. "Pada periode ini terdapat 89 kejadian gempa bumi dangkal, 33 kejadian gempa bumi menengah dan nihil kejadian gempa bumi dalam," bebernya.

Secara intensitas, dijelaskan Ricko, kejadian gempa bumi terbanyak pada periode ini terekam pada 6 Oktober 2026 dengan jumlah 25 kejadian gempa bumi. Sementara untuk kejadian gempa bumi paling sedikit terekam pada 3 Oktober 2026 dengan jumlah sembilan kejadian.

"Kejadian gempa bumi pada periode ini disebabkan oleh aktivitas pertemuan lempeng tektonik IndoAustralia dengan lempeng Eurasia serta aktivitas patahan lokal," ujarnya.

Dari ratusan gempa bumi yang terjadi pada awal Oktober 2026 tersebut, dua di antaranya dapat dirasakan secara langsung oleh manusia. Kejadiannya pada dua hari berturut-turut yakni pada tanggal 4 dan 5 Oktober 2026.

Sementara itu, di penghujung awal bulan yakni pada Sabtu, 10 Oktober 2026 pukul 18:53 WIB, wilayah Pacitan dan sekitarnya juga diguncang gempa bumi tektonik. Berdasarkan hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi tersebut memiliki parameter dengan magnitudo M4.4.

Sementara untuk episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8.98 LS; 110.69 BT. Tepatnya berlokasi di laut pada jarak 100 kilometer (km) arah barat daya Pacitan, Jatim dengan kedalaman 75 km.

"Jika memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi di wilayah Pacitan tersebut merupakan jenis gempa bumi menengah akibat aktivitas tumbukan lempeng," jelas Ricko.

Gempa bumi tektonik tersebut dirasakan di Pacitan dengan skala intensitas II Modified Mercalli Intensity (MMI). Di mana, getaran hanya dapat dirasakan oleh sedikit orang, hingga benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

"Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan juga menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami. Hasil monitoring BMKG juga belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock," pungkasnya.