JATIMTIMES - Setelah 14 tahun jadi kepala dapur di sebuah restoran di Kota Malang, pria bernama Ari Iriyanto memilih mengembangkan kemampuannya di bidang bisnis. Warga Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, itu memilih untuk berjualan sambal yang diberi nama Sambel Cak Gundul yang kini mampu menembus pasar luar negeri.
Pada 2019, Ari mulai menjajal peruntungannya di dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hanya, aat itu ia masih bekerja di rumah makan tersebut.

“Waktu covid-19, kerjaan mulai sepi. Jadi, kerjanya gak penuh. Tiga hari masuk, tiga hari libur. Jadi, saya mulai kepikiran buat apa ya. Akhirnya mencoba buat sambal,” ucap Ari, Senin (11/8/2025).
Dari pengalamannya selama 14 tahun bekerja di dapur, memasak sambal merupakan pekerjaan yang simpel dan tidak ribet. Karena itu, Ari memilih berbisnis sambal.
Saat mencoba bisnis sambal, ada lima varian yang dibuat. Yakni sambal rica, sambal gobyos, sambal bawang, sambal ijo, dan sambal matah. Saat bisnisnya itu mulai berkembang, Ari pun memutuskan untuk serius mengembangkan usahanya tersebut.
Ari pun mulai kreatif dengan menghadirkan beragam varian untuk memanjakan lidah konsumennya. Saat ini sudah ada 26 varian yang dijualnya setiap hari melalui online maupun offline.

“Kebetulan saya buatnya kalau ada permintaan dari konsumen masuk. Kemudian juga menjualnya di outlet-outlet di Kota Malang dan Kabupaten Pasuruan,” imbuh pria 40 tahun tersebut.
Dari dua daerah tersebut, kurang lebih Ari menjualnya di 8 outlet. Ia pun menjualnya dengan kemasan botol seberat 100 gram dengan harga mulai Rp 12 ribu hingga Rp 24 ribu, tergantung varian.
Tak hanya dipasarkan di daerah-daerah Indonesia. Sambal buatan Ari pun sudah terbang di berbagai negara. Yakni di Hongkong, Taiwan, Macau, Rusia hingga Jerman.
Sambalnya bisa terbang ke beberapa negara karena bisa bertahan pada suhu ruang hingga dua minggu. Jika diletakkan di dalam freezer, bisa tahan sampai satu bulan.
Apalagi Ari membuatnya tanpa menggunakan bahan pengawet. Selain itu, Ari konsisten tidak menaikkan harga di kala harga cabai naik.
“Kalau saya tetap, nggak ada perubahan harga. Meskipun saat harga cabai Rp 125 ribu sampai Rp 150 ribu per kilogram, tetap stabil timbangannya maupun bahannya, meskipun pendapatan sedikit,” tambah lulusan SMKN 5 Kota Malang ini.
Produk sambalnya telah diverifikasi dan disertifikasi memenuhi standar kehalalan. Hanya, memang saat ini Ari masih terkendala beberapa outlet yang menolak produknya. Meski demikian, Ari pun berharap semakin banyak produknya dikenal masyarakat.



