JATIMTIMES – Sejak berusia delapan tahun, Mustika Puspa Dewi (36) harus menjalani transfusi darah akibat penyakit talasemia yang dideritanya. Hingga kini, warga Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, itu masih membutuhkan pengobatan secara berkala.
Di balik perjalanan panjang tersebut, Mustika dan keluarganya pernah merasakan beratnya biaya perawatan sebelum akhirnya terbantu melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Mustika didiagnosis talasemia pada 1998, setelah keluarganya menyadari pertumbuhannya berbeda dari anak-anak seusianya. Sejak saat itu, ia harus menjalani transfusi darah secara rutin dengan biaya yang ditanggung sendiri oleh keluarga. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan pengobatan Mustika.
“Seingat saya, saat itu biaya transfusi darah mencapai sekitar Rp200 ribu untuk setiap tindakan. Dengan ayah saya yang bekerja di armada bus dan ibu saya yang berjualan di pasar, hal tersebut cukup memberatkan keluarga kami,” ungkap Mustika saat ditemui di RSUD Blambangan, Selasa (13/10).
Seiring waktu, Mustika semakin memahami bahwa pengobatan yang dijalaninya membutuhkan biaya secara berkelanjutan. Ia mengaku sempat mengkhawatirkan kemampuan keluarganya untuk memenuhi kebutuhan tersebut dalam jangka panjang.
“Dulu saya sempat khawatir terkait biaya pengobatan, karena pengobatan yang saya jalani ini bukan hanya sekali atau dua kali saja, tetapi terus berlanjut seumur hidup. Kalau harus menanggung semuanya sendiri, tentu terasa berat bagi saya dan keluarga,” jelas Mustika.
Kekhawatiran tersebut mulai berkurang setelah Mustika terdaftar sebagai peserta JKN dari segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) pada 2014. Sejak menjadi peserta JKN, ia dapat melanjutkan pengobatan di RSUD Blambangan tanpa harus menanggung sendiri biaya pelayanan kesehatan yang dijamin sesuai ketentuan.
“Alhamdulillah, sekarang saya bisa lebih fokus menjalani pengobatan. Bahkan selama pengobatan tidak pernah mengeluarkan biaya tambahan untuk pelayanan yang saya terima sesuai ketentuan JKN,” ungkap Mustika.
Selain terbantu dari sisi pembiayaan, Mustika juga merasa nyaman dengan pelayanan yang diterimanya selama menjalani pengobatan. Menurutnya, tenaga kesehatan tidak hanya memberikan penanganan medis, tetapi juga penjelasan yang membantunya memahami cara menjaga kondisi kesehatan.
“Tidak hanya mendapatkan penjelasan terkait pengobatan, tenaga medis juga sering melakukan edukasi bagaimana saya harus menjalani pola hidup yang meningkatkan kesehatan saya. Hal seperti itu membuat saya merasa lebih nyaman selama menjalani perawatan. Saya ingin terus menjalani pengobatan dengan baik supaya kondisi kesehatan tetap terjaga,” tuturnya.
Di tengah pengobatan yang masih harus dijalaninya, Mustika berharap Program JKN terus memberikan perlindungan bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Pengalamannya selama bertahun-tahun juga membuatnya menyadari pentingnya semangat gotong royong antarpeserta dalam mendukung keberlangsungan program tersebut.
“Saya berterima kasih kepada peserta yang tetap membayar iuran setiap bulan, termasuk yang sedang sehat dan belum menggunakan layanan JKN. Berkat gotong royong ini, saya bisa terus menjalani pengobatan yang dibutuhkan. Semoga JKN terus berjalan agar semakin banyak orang yang terbantu seperti saya,” pungkas Mustika.



