JATIMTIMES - Musim kemarau tidak hanya identik dengan cuaca panas dan berkurangnya ketersediaan air saja. Di jalanan, kondisi ini juga kerap membuat debu lebih mudah beterbangan, terutama ketika kendaraan melintas di jalan kering atau angin bertiup cukup kencang. Bagi masyarakat yang setiap hari beraktivitas di luar rumah, paparan debu bisa menjadi gangguan yang tidak bisa dihindari begitu saja.

Mata terasa perih, hidung gatal, tenggorokan kering, hingga batuk terkadang muncul setelah seseorang beraktivitas cukup lama di luar ruangan. Keluhan tersebut sering dianggap sepele karena diperkirakan akan hilang dengan sendirinya. Padahal, paparan debu yang berulang dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan, terlebih jika kondisi udara juga tercemar asap atau partikel polutan lainnya.

Karena itu, menjaga kesehatan selama musim kemarau bukan hanya soal menghindari terik matahari. Perlindungan terhadap mata dan saluran pernapasan juga perlu diperhatikan, khususnya bagi pengendara motor, pekerja lapangan, pedagang kaki lima, serta warga yang tinggal di dekat jalan ramai.

Mengapa Debu Lebih Mengganggu Saat Musim Kemarau?

Ketika hujan jarang turun, permukaan tanah dan jalan cenderung mengering. Debu yang menumpuk di permukaan lebih mudah terangkat oleh angin maupun pergerakan kendaraan. Partikel tersebut kemudian beterbangan dan berpotensi terhirup atau masuk ke mata.

Mengacu pada informasi Kementerian Kesehatan RI melalui laman Ayo Sehat tentang bahaya polusi udara, paparan udara kotor dan debu dapat memicu iritasi mata serta saluran pernapasan. Dampaknya bisa berbeda pada setiap orang, bergantung pada tingkat paparan dan kondisi kesehatannya.

Debu yang masuk ke mata dapat menimbulkan rasa mengganjal, perih, kemerahan, dan membuat mata berair. Sementara itu, partikel yang terhirup bisa mengganggu hidung dan tenggorokan hingga memicu batuk atau memperburuk keluhan pada orang yang memiliki asma maupun penyakit pernapasan lainnya.

Perlu diingat, debu jalanan tidak selalu menjadi satu-satunya penyebab gangguan pernapasan. Asap kendaraan, asap rokok, dan polusi udara lain juga dapat memperburuk kondisi, terutama ketika kualitas udara sedang tidak sehat.

Cara Melindungi Mata dari Debu Jalanan

Mata termasuk bagian tubuh yang mudah terpapar debu saat seseorang berada di luar ruangan. Pengendara motor yang melintasi jalan berdebu, misalnya, berisiko mengalami iritasi jika partikel masuk melalui celah pelindung mata.

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan debu.

1. Gunakan kacamata pelindung

Saat berkendara atau beraktivitas di jalanan berdebu, gunakan kacamata yang dapat membantu menghalangi partikel masuk ke mata. Pengendara motor juga sebaiknya memastikan visor helm berfungsi dengan baik dan digunakan selama perjalanan.

2. Hindari mengucek mata

Ketika mata terasa gatal atau seperti kemasukan benda asing, menguceknya justru berisiko memperparah iritasi. Partikel yang menempel dapat menggesek permukaan mata dan menimbulkan luka.

Jika debu masuk ke mata, bilas secara perlahan menggunakan air bersih. Apabila keluhan tidak mereda, mata terasa sangat sakit, penglihatan menjadi kabur, atau muncul gangguan lain, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.

3. Jaga kebersihan tangan

Tangan yang digunakan untuk memegang kendaraan, menyentuh permukaan berdebu, atau melakukan pekerjaan di luar ruangan bisa membawa kotoran. Karena itu, biasakan mencuci tangan sebelum menyentuh area mata.

Kebiasaan ini juga membantu mengurangi risiko perpindahan kotoran dari tangan ke bagian tubuh lain.

Pakai Masker dan Kurangi Paparan Debu

Selain mata, saluran pernapasan juga perlu mendapat perhatian. Debu yang terhirup dapat mengganggu kenyamanan bernapas, terutama pada orang yang sensitif terhadap partikel di udara.

Kementerian Kesehatan RI dalam edukasi pencegahan dampak polusi udara mengimbau masyarakat untuk memeriksa kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika polusi tinggi, menggunakan masker saat diperlukan, serta segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika mengalami keluhan pernapasan.

Langkah tersebut dapat diterapkan selama musim kemarau, terutama ketika jalanan tampak sangat berdebu atau udara tercampur asap.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:

• Gunakan masker yang pas di wajah. Masker dapat membantu mengurangi paparan partikel, tetapi tingkat perlindungannya bergantung pada jenis, kecocokan, dan cara pemakaian. Untuk paparan debu pekat atau partikel halus, respirator yang sesuai dapat memberikan perlindungan lebih baik jika digunakan dengan benar.

• Pilih waktu dan jalur perjalanan. Jika memungkinkan, hindari jalan yang sedang mengalami pekerjaan konstruksi atau memiliki banyak debu beterbangan.

• Kurangi aktivitas berat di luar ruangan. Bernapas lebih cepat saat beraktivitas berat dapat meningkatkan jumlah udara dan partikel yang masuk ke saluran pernapasan.

• Bersihkan diri setelah beraktivitas. Cuci tangan dan wajah, lalu ganti pakaian jika banyak debu menempel. Hindari membawa debu dari pakaian ke tempat tidur atau ruang keluarga.

• Jaga kualitas udara di dalam rumah. Tutup pintu dan jendela ketika debu dari luar sedang pekat. Bersihkan permukaan rumah menggunakan kain lembap agar debu tidak kembali beterbangan.

Meski demikian, masker bukan pengganti upaya mengurangi sumber polusi. Jika paparan debu atau asap sangat tinggi, menghindari sumber paparan dan membatasi waktu di luar ruangan tetap menjadi langkah penting.

Jangan Lupakan Kebutuhan Cairan

Cuaca panas dan udara kering selama musim kemarau juga dapat membuat tubuh kehilangan lebih banyak cairan. Kondisi tersebut bisa menambah rasa tidak nyaman, termasuk sensasi kering pada tenggorokan.

Minumlah air putih secara teratur sesuai kebutuhan tubuh, terutama setelah berjalan jauh, berkendara, atau bekerja di bawah terik matahari. Jika memungkinkan, beristirahatlah di tempat teduh dan hindari memaksakan aktivitas ketika tubuh mulai terasa lelah.

Menjaga asupan cairan bukan berarti debu yang sudah terhirup bisa langsung dikeluarkan. Namun, kebiasaan tersebut membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan menjaga kenyamanan selama beraktivitas.

Siapa yang Perlu Lebih Waspada?

Tidak semua orang merasakan dampak paparan debu dengan tingkat yang sama. Ada kelompok yang perlu lebih berhati-hati, khususnya ketika kondisi udara memburuk.

Mereka meliputi:

• Anak-anak dan lanjut usia.

• Ibu hamil.

• Orang dengan riwayat asma atau penyakit paru kronis.

• Orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan kardiovaskular.

• Pekerja yang menghabiskan banyak waktu di luar ruangan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa anak-anak, ibu hamil, lansia, orang dengan penyakit jantung atau pernapasan, serta pekerja luar ruangan termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara.

Bagi kelompok tersebut, mengurangi paparan debu dan polusi menjadi penting, terutama ketika muncul peringatan kualitas udara yang buruk.

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Mata perih atau batuk ringan setelah melewati jalan berdebu tidak selalu menandakan penyakit serius. Namun, keluhan yang menetap atau semakin berat sebaiknya tidak diabaikan.

Segera cari pertolongan medis jika muncul sesak napas, nyeri dada, atau gangguan penglihatan. Pemeriksaan juga diperlukan apabila mata terus terasa sakit setelah dibilas, batuk tidak kunjung membaik, atau keluhan pernapasan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Bagi orang yang memiliki asma atau penyakit paru, segera ikuti rencana penanganan yang diberikan dokter dan cari pertolongan apabila gejalanya memburuk.

Pada akhirnya, melindungi mata dan saluran pernapasan saat musim kemarau tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit. Menggunakan pelindung yang sesuai, mengurangi paparan debu, menjaga kebersihan diri, serta memperhatikan kondisi tubuh merupakan langkah sederhana yang dapat diterapkan setiap hari.

Dengan kebiasaan tersebut, aktivitas di tengah cuaca panas dan jalanan berdebu dapat dijalani dengan lebih aman tanpa mengabaikan kesehatan.