JATIMTIMES – Pemerintah Kota Blitar terus mematangkan konsep Kota Blitar 24 Jam. Gagasan yang diusung Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin itu tidak sekadar menghidupkan aktivitas ekonomi malam, tetapi juga memperluas layanan publik, memperkuat pariwisata, serta menciptakan kota yang aman dan nyaman sepanjang waktu.

Konsep tersebut menjadi pembahasan dalam Blitar 24 Jam Podcast yang digelar melalui kolaborasi Mahardhika FM dan Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Kota Blitar di kawasan CityWalk Makam Bung Karno, Minggu (11/10/2026) malam.

Dalam dialog yang dipandu Ketua Stand Up Indo Blitar, Istajib Lana, bersama Sadewo, Mas Ibin menjelaskan arah kebijakan sekaligus menyerap aspirasi komunitas anak muda mengenai pelayanan publik, keamanan, pariwisata, dan pengembangan ekonomi malam.

Menurut Mas Ibin, kota yang maju membutuhkan aktivitas ekonomi yang terus bergerak. Semakin panjang waktu kegiatan masyarakat, semakin besar pula peluang usaha dan perputaran ekonomi yang dapat tercipta.

“Konsep kota 24 jam itu bagaimana kita memberikan peluang kepada masyarakat, kepada perekonomian, kepada semuanya untuk mendapatkan peluang keberhasilan yang lebih tinggi,” ujar Mas Ibin.

Ia mengaku semakin optimistis melihat aktivitas malam Kota Blitar yang mulai berkembang. Sejumlah warung dan tempat usaha kini tetap melayani pembeli hingga dini hari.

“Sekarang jam 01.30 atau 02.00 masih banyak warung yang buka. Berarti ada yang beli, ada perputaran ekonomi. Ini yang membuat saya bangga,” katanya.

Pelayanan Publik Diperluas, Pariwisata Diperkuat

Mas Ibin menegaskan, konsep Kota Blitar 24 Jam harus dimulai dari kesiapan pemerintah. Karena itu, tidak semua tempat usaha diwajibkan beroperasi sepanjang malam. Pemerintah justru harus lebih dahulu memastikan layanan yang dibutuhkan masyarakat tersedia pada waktu yang tepat.

“Sebenarnya konsep 24 jam itu mulai dari pemerintah. Kita tidak meminta masyarakat beraktivitas sendiri. Kita meminta layanan pemerintah itu buka 24 jam. Itu yang penting,” tegasnya.

Sejumlah layanan telah berjalan sepanjang hari, termasuk rumah sakit dan layanan kunjungan wisata di Makam Bung Karno (MBK) yang dibuka 24 jam. Pemkot juga membuka pelayanan tertentu pada akhir pekan, antara lain melalui kehadiran organisasi perangkat daerah (OPD) di kawasan car free day (CFD).

Penyesuaian juga disiapkan untuk sektor pariwisata. Mas Ibin meminta pola kerja petugas lebih menyesuaikan waktu kunjungan wisatawan yang umumnya meningkat pada Jumat hingga Minggu.

Meski demikian, penataan jadwal tidak boleh menambah beban pegawai. Sistem kerja bergilir akan diterapkan dengan tetap memperhatikan ketentuan jam kerja ASN maupun non-ASN.

“Jam kerjanya misalkan delapan jam, ya tetap delapan jam. Namun, delapan jamnya tidak hanya Senin sampai Kamis, tetapi digilir supaya bisa juga Jumat, Sabtu, Minggu,” jelasnya.

Langkah tersebut diharapkan memperkuat ekosistem wisata sekaligus memastikan masyarakat dan wisatawan memperoleh pelayanan optimal, termasuk pada hari libur.

Keamanan Diperkuat, Pengamen dan Gepeng Diberdayakan

Pengembangan Kota Blitar 24 Jam juga diikuti penguatan keamanan dan ketertiban. Mas Ibin meminta Satpol PP dan Dinas Perhubungan menyesuaikan kesiapan personel hingga malam hari.

Patroli dan langkah pencegahan akan diperkuat untuk mengantisipasi potensi kriminalitas, balap liar, serta gangguan kenyamanan di ruang publik.

“Patroli-patroli juga akan kita jalankan. Upaya preventif terhadap potensi kejahatan dan ketidaknyamanan harus kita jalankan,” ujarnya.

Perhatian khusus juga diberikan kepada anak jalanan, gelandangan, pengemis, dan pengamen. Mas Ibin menekankan penanganan harus mengutamakan pendekatan persuasif, pembinaan, dan pemberdayaan ekonomi, bukan semata-mata penertiban.

Bagi pengamen, Pemkot ingin mengembangkan ruang-ruang kreatif di lokasi yang ramai dikunjungi masyarakat. Mereka didorong menampilkan kemampuan bermusik melalui pertunjukan yang lebih tertata, bukan berkeliling mendatangi pengunjung yang sedang makan atau beraktivitas.

“Nanti semua potensi tempat yang banyak dikunjungi masyarakat kita jadikan ruang kreatif, termasuk ruang kesenian. Teman-teman yang kreatif tidak perlu ngamen keliling. Konser, tunjukkan bakatnya,” kata Mas Ibin.

Pertunjukan tersebut dapat membuka peluang penghasilan melalui apresiasi sukarela penonton. Dengan demikian, bakat seni tetap berkembang tanpa mengurangi kenyamanan pengunjung.

Sementara itu, gelandangan dan pengemis, terutama mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi maupun keterampilan, diarahkan memperoleh pendampingan melalui Dinas Sosial dan perangkat daerah yang membidangi UMKM.

Pembinaan dapat berupa pelatihan keterampilan, pengembangan kreativitas, hingga fasilitasi pekerjaan atau kegiatan produktif sesuai kemampuan masing-masing.

“Ke Dinsos ataupun Dinas UMKM supaya dilatih, supaya dicarikan pekerjaan, supaya dilatih kreativitas sehingga bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ringan tetapi juga menghasilkan,” jelasnya.

Mas Ibin memastikan penataan tersebut bukan untuk mempersulit masyarakat mencari nafkah. Sebaliknya, pemerintah ingin menghadirkan kesempatan ekonomi yang lebih baik sekaligus menjaga ketertiban kota.

“Kita tidak berniat membuat orang susah. Semuanya harus terkoordinasikan dan tertata dengan rapi demi menjaga keberlangsungan perekonomian masyarakat Kota Blitar,” tegasnya.

Aspirasi Anak Muda Perkuat Pembangunan Kota

Dalam podcast tersebut, sejumlah komika turut menyampaikan aspirasi melalui humor dan roasting. Arnet Sund, misalnya, mengajak masyarakat memahami konsep Kota Blitar 24 Jam sebagai langkah pengembangan aktivitas kota yang perlu didukung kesiapan fasilitas publik, tempat wisata, dan pusat kegiatan ekonomi.

Melalui gaya komedinya, Arnet turut mengapresiasi pelayanan Pemadam Kebakaran Kota Blitar yang selalu siaga sepanjang waktu.

“Yang paling ready 24 jam, yang saya tahu, yaitu Pemadam Kebakaran Kota Blitar. Tepuk tangan buat Pemadam Kota Blitar,” ujar Arnet disambut suasana hangat dalam podcast tersebut.

Sementara itu, tokoh pemuda Blitar, Argo Wahyu Jati, turut memberikan masukan mengenai pentingnya keamanan dan kenyamanan masyarakat dalam mendukung konsep Kota Blitar 24 Jam. Menurutnya, berkembangnya aktivitas ekonomi malam perlu diimbangi dengan suasana kota yang kondusif, terutama bagi warga yang ingin menikmati kuliner bersama keluarga hingga dini hari.

Di tengah berbagai masukan yang disampaikan melalui humor dan roasting, Argo juga memberikan apresiasi terhadap program pembangunan yang dijalankan Pemerintah Kota Blitar.

“Terima kasih, Mas Ibin, atas program-programnya. Kita doakan Mas Ibin selalu sehat, selalu istiqomah, selalu bersemangat untuk perkembangan Kota Blitar tercinta,” ujar Argo.

Masukan tersebut memperkaya dialog mengenai pengembangan Kota Blitar 24 Jam. Dengan dukungan pengamanan yang optimal, geliat ekonomi malam diharapkan semakin berkembang sekaligus menjadikan Kota Blitar sebagai destinasi yang aman dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.

Ketua Stand Up Indo Blitar, Istajib Lana, mengapresiasi dialog yang semakin terarah dan membahas persoalan kota secara spesifik. Ia berharap forum serupa terus berlanjut dengan melibatkan lebih banyak komunitas.

“Dari kami senang dengan jagongan yang spesifik seperti ini. Asal nanti bisa berkelanjutan dan bisa ditindaklanjuti,” ujar Lana.

Menurut dia, aktivitas malam Kota Blitar kini mulai berkembang, termasuk dengan hadirnya kafe yang beroperasi hingga larut malam. Perkembangan tersebut perlu diimbangi kegiatan positif agar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Mas Ibin menegaskan, keberhasilan Kota Blitar 24 Jam bukan hanya diukur dari ramainya jalan dan tempat usaha, melainkan juga kualitas pelayanan, keamanan, dan peluang ekonomi yang dinikmati warga.

“Karena kunci utama Kota Blitar 24 jam ramai itu adalah kota yang betul-betul nyaman dan aman,” pungkasnya.