JATIMTIMES – Olahraga tenis semakin mendapat tempat di tengah masyarakat. Tak lagi sebatas aktivitas fisik atau ajang mengejar prestasi, tenis kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup. Lapangan menjadi ruang untuk menjaga kebugaran, membangun pertemanan, sekaligus menempa disiplin dan mental menghadapi tantangan kehidupan.
Gairah tersebut juga terasa di Blitar Raya. Kehadiran komunitas dan turnamen tenis menjadi ruang pertemuan para penghobi dari beragam latar belakang, mulai dari pengusaha hingga prajurit TNI. Mereka dipertemukan oleh kecintaan terhadap olahraga yang menuntut ketangkasan, strategi, dan konsistensi.
Fenomena itu tercermin dalam keseharian Rendy Nanda Permana dan Amira Malinda. Pasangan suami istri asal Blitar ini menjadikan tenis sebagai bagian dari rutinitas. Dalam setahun terakhir, keduanya hampir setiap hari menyempatkan waktu datang ke lapangan untuk berlatih, bermain, maupun mengikuti pertandingan.
Kegemaran tersebut membawa Rendy meraih podium dalam kategori Men's Upper Beginner. Bagi pengusaha ini, pencapaian tersebut bukan semata tentang medali. Ada proses latihan, kesabaran, dan keberanian menghadapi kegagalan yang justru menjadi pelajaran berharga.
Dalam wawancara, Kamis (8/10/2026), Rendy mengungkapkan bahwa tenis memiliki banyak kesamaan dengan dunia bisnis. Keduanya menuntut ketenangan, ketepatan mengambil keputusan, serta kemampuan menghadapi keadaan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
"Dalam bisnis juga begitu. Ketika ada kegagalan, jangan berhenti. Evaluasi, perbaiki, kemudian coba lagi," ujar Rendy.
Dari Lapangan Tenis ke Filosofi Bisnis

Bagi Rendy, setiap pukulan menyimpan pelajaran. Pemain tidak selalu menerima bola sesuai keinginannya. Ada pukulan keras, arah bola yang sulit ditebak, hingga perubahan strategi lawan yang menuntut respons cepat.
Situasi serupa terjadi dalam dunia usaha. Peluang, persaingan, dan risiko tidak selalu dapat dikendalikan. Karena itu, kemampuan membaca keadaan menjadi sama pentingnya dengan keberanian mengambil keputusan.
Menurut Rendy, kehilangan satu poin tidak berarti pertandingan berakhir. Pemain harus segera mengembalikan konsentrasi, memperbaiki kesalahan, dan mempersiapkan pukulan berikutnya.
"Kalau kehilangan satu poin, bukan berarti kita kalah. Masih ada kesempatan untuk mengejar poin berikutnya. Dalam bisnis juga begitu, ketika menghadapi kegagalan, kita harus bangkit, mengevaluasi kesalahan, dan mencoba lagi," ujarnya.
Tenis juga mengajarkan kesabaran. Tidak semua poin harus direbut melalui pukulan keras. Terkadang, pemain perlu bertahan, mengatur tempo, dan menunggu kesempatan terbaik untuk menyerang.
Prinsip tersebut diterapkan Rendy dalam menjalankan usaha. Ada saatnya mengambil risiko, tetapi ada pula waktunya menahan diri dan menyusun strategi lebih matang.
Bersama Amira, tenis bukan hanya menjadi sarana menjaga kebugaran, melainkan juga mempererat kebersamaan. Keduanya menemukan ruang untuk terus belajar, menerima kekalahan, dan menikmati perkembangan kemampuan bermain.
"Tenis sekarang sudah jadi bagian dari keseharian kami. Selain sehat, kami juga bisa menikmati waktu bersama," kata Rendy.
Dari Prajurit TNI, Belajar Disiplin dan Kepercayaan
Pengalaman menarik juga dirasakan Kapten Inf Puji Rahmansyah, Wakil Komandan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Wadanyonif TP) 934/Satria Buwana Yudha yang bermarkas di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Dalam turnamen tenis yang digelar di WWS Arena, Kota Blitar, beberapa waktu lalu, Puji bersama rekannya berhasil meraih posisi runner-up kategori Men's Upper Beginner.
Pencapaian tersebut menjadi buah dari proses latihan yang menuntut konsistensi. Menurut Puji, kemampuan bermain tidak terbentuk secara instan. Pemain harus terus memperbaiki teknik, menjaga stamina, serta membangun ketahanan mental.
"Kemampuan tidak datang secara instan. Harus konsisten berlatih, belajar dari kesalahan, dan terus memperbaiki diri," ujar Puji.
Bagi Puji, tenis juga menjadi ruang untuk melatih pengendalian emosi. Kesalahan kecil dapat mengubah jalannya pertandingan. Namun, terlalu lama menyesali kehilangan poin justru berpotensi membuat pemain kehilangan konsentrasi.
“Dalam tenis, kita harus bisa mengendalikan emosi. Kalau melakukan kesalahan, jangan terus dipikirkan. Harus segera fokus pada poin berikutnya,” ujar Puji.

Dalam permainan ganda, tantangannya semakin kompleks. Setiap pemain memiliki tanggung jawab, tetapi keberhasilan hanya dapat diraih melalui komunikasi, kerja sama, dan kepercayaan.
Ketika salah seorang melakukan kesalahan, pasangan bermain perlu memberikan dukungan, bukan saling menyalahkan. Nilai tersebut, menurut Puji, juga relevan dalam kehidupan sehari-hari.
"Dalam permainan ganda, kuncinya saling percaya dan mendukung. Kalau ada yang salah, jangan saling menyalahkan," ujar Puji.
Bagi Rendy, Amira, dan Puji, tenis kini menjadi bagian dari gaya hidup. Olahraga ini tidak hanya menjaga kebugaran, tetapi juga menghadirkan kesenangan, memperluas pergaulan, dan menjadi aktivitas yang semakin lekat dengan keseharian.



