JATIMTIMES - Polemik jalan tembus di Perumahan Griyashanta, Kota Malang, masib terus berlanjut. Bahkan dalam audiensi yang digelar di Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, Kamis (8/10/2026), justru bergeser menjadi konflik antar kelompok warga.

Persoalan mencuat ketika dua warga Griyashanta hadir untuk menyampaikan aspirasi, tetapi tidak masuk dalam kelompok 18 warga yang sebelumnya dikoordinasikan Ketua RW 12 Jusuf Thoyib. Situasi tersebut kemudian memunculkan perdebatan mengenai adanya kelompok warga yang berhak menyampaikan aspirasi, termasuk melalui sebuah audiensi. 

Sebelum pembahasan dimulai, staf Dishub melakukan absensi terhadap peserta. Dalam proses itu, diketahui pula terdapat salah satu peserta yang bukan warga Perumahan Griyashanta.

Kepala Dishub Kota Malang Widjaja Saleh Putra kemudian meminta peserta tersebut meninggalkan ruangan. Keputusan itu ternyata diikuti sejumlah warga Griyashanta yang turut meninggalkan forum.

Situasi tersebut membuat audiensi praktis tidak berjalan sebagaimana mestinya. Jaya, sapaan Widjaja, kemudian meminta Ketua RW 12 tetap berada di lokasi untuk membahas persoalan tersebut secara lebih internal.

"Sesuai dengan opsi kami, ini masalah ke-RW-an. RW ya, kita selesaikan rukun warga. Kita bicarakan dengan baik-baik. Kalau sesuai ketentuan, sudah bongkar itu," ujar Jaya.

Persoalan dua warga yang tidak masuk dalam kelompok 18 orang sebelumnya juga sempat membuat keduanya batal menyampaikan aspirasi. Jusuf menjelaskan, pihak RW memang telah melakukan koordinasi dengan para ketua RT untuk menentukan warga yang akan hadir dalam audiensi.

"Kami sebenarnya RW mengundang RT koordinasi siapa yang bisa datang. Ini ada 18 warga yang akan hadir. Akan tetapi di awal ternyata ada warga lain yang hadir tanpa sepengetahuan kami," jelas Jusuf.

Menurut Jusuf, terdapat dua warga Griyashanta yang hadir di luar kelompok yang telah dikoordinasikan tersebut. Karena itu, pihaknya meminta Dishub menentukan kelompok warga yang akan diterima dalam forum.

"Ada dua, sehingga kami tadi minta supaya Pak Kadis memilih, menerima yang dua itu atau menerima kami yang 18. Setelah dialog baru yang beliau berdua izin keluar," tutur Jusuf.

Perbedaan tersebut akhirnya membuat pembahasan mengenai jalan tembus tidak menghasilkan keputusan berarti. Persoalan akses yang menjadi pokok polemik di kawasan Griyashanta pun masih belum menemui penyelesaian.

Jalan tembus tersebut memiliki akses yang berhadapan dengan ruas Jalan Soekarno-Hatta. Saat ini, akses tersebut masih diblokade oleh sebagian warga RW 12 yang menolak keberadaan jalan tembus.

Blokade dilakukan menggunakan papan berbahan anyaman bambu. Papan tersebut dipasang ketika jalan baru yang menjadi akses jalan tembus mulai dibuka dan resmi beroperasi.

Padahal, akses baru itu menghubungkan kawasan Griyashanta dengan Jalan Simpang Candi Panggung dan Jalan Vinolia. Dengan belum terselesaikannya persoalan antar-kelompok warga, keberadaan jalan tembus tersebut masih menyisakan polemik di lingkungan RW 12.