JATIMTIMES - Sesak di dada yang awalnya dianggap sebagai kelelahan membuat Sugianto (65), warga Krampyangan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, harus menghentikan aktivitasnya sebagai penjaga kos dan menjalani perawatan di RSUD Soedarsono.
Di tengah kondisi tersebut, kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi sumber ketenangan bagi Sugianto untuk menjalani pengobatan.
“Awalnya saya pikir hanya kecapekan. Tapi semakin hari sesaknya semakin terasa sampai akhirnya saya dibawa ke rumah sakit. Kalau sudah seperti ini, tentu yang dipikirkan bukan hanya kesehatan, tetapi juga bagaimana pengobatannya,” ujar Sugianto saat ditemui di sela-sela perawatannya, Selasa (06/10).
Sugianto merupakan peserta JKN segmen Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja (PBPU BP) yang didaftarkan oleh Pemerintah Kota Pasuruan. Iurannya ditanggung oleh pemerintah daerah tersebut. Saat membutuhkan perawatan akibat infeksi jantung, ia dapat mengakses pelayanan kesehatan sesuai ketentuan Program JKN tanpa terus dibayangi kekhawatiran mengenai biaya pengobatan.
“Yang paling saya rasakan, saya bisa lebih tenang menjalani pengobatan. Tidak terus kepikiran soal biaya. Sekarang saya fokus bagaimana supaya kondisi saya membaik,” katanya.
Selain manfaat perlindungan kesehatan, dukungan keluarga turut memberikan ketenangan bagi Sugianto selama menjalani perawatan. Keluarganya mendampingi saat pemeriksaan maupun selama berada di rumah sakit. Ia juga mengapresiasi pelayanan dokter dan perawat yang dinilainya memberikan perhatian terhadap kebutuhan pengobatannya.
“Obat-obatan diperhatikan, saya juga diingatkan kapan harus minum obat. Pemeriksaan dilakukan secara rutin. Jadi saya merasa diperhatikan,” tuturnya.
Pengalaman tersebut membuat Sugianto semakin memahami arti penting jaminan kesehatan. Baginya, JKN bukan sekadar kepesertaan administratif, tetapi menjadi perlindungan yang terasa ketika kondisi kesehatan membutuhkan penanganan.
“Di situ saya merasa, syukurlah saya punya JKN. Kalau sedang sakit seperti ini, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Yang penting bisa mendapatkan pengobatan dan fokus untuk sembuh,” ungkapnya.
Dari pengalaman tersebut, Sugianto mengajak masyarakat untuk tidak menunggu sakit sebelum menyadari pentingnya memiliki jaminan kesehatan. Menurutnya, kondisi sehat saat ini tidak menjamin seseorang terbebas dari risiko sakit di kemudian hari.
“Jangan merasa karena sekarang masih sehat lalu JKN tidak penting. Sakit bisa datang kapan saja. Lebih baik sudah punya jaminan, jadi kalau suatu saat membutuhkan pengobatan, kita lebih tenang,” tutupnya.
Kini, Sugianto berharap segera pulih agar dapat kembali bekerja dan menjalani aktivitas sehari-hari bersama keluarga.



