JATIMTIMES - Universitas Brawijaya (UB) bersama PT Biocare Sejahtera terus mengembangkan teknologi untuk mendeteksi spesies hewan non-halal pada produk pangan. Riset yang dimulai sejak 2021 itu kini telah berkembang hingga tahap produksi dan komersialisasi kit deteksi berbasis Real Time PCR.

Kolaborasi tersebut melibatkan Prof. Dr. Ir. Joni Kusnadi, M.Si. dari Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem UB. Pengembangannya dilakukan bertahap, mulai dari pembuatan purwarupa, penyempurnaan metode ekstraksi DNA, hingga pengembangan komponen yang ditujukan untuk meningkatkan keandalan hasil pengujian.

Pada 2021, UB dan PT Biocare Sejahtera memulai kerja sama melalui pengembangan purwarupa kit untuk mendeteksi adulterasi dan melakukan autentikasi halal menggunakan metode Direct Real Time PCR.

Riset kemudian berlanjut pada 2022 dengan penyempurnaan metode ekstraksi DNA menggunakan kolom spin. Tahap ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi produksi kit deteksi.

Pengembangan teknologi berlanjut pada 2023. Tim mengembangkan metode Direct qPCR berbasis magnetic bead.

Setahun kemudian, fokus kerja sama mulai mengarah pada produksi dan komersialisasi kit Real Time PCR untuk mendeteksi hewan non-halal. Selain itu, dikembangkan juga kit ekstraksi DNA berbasis paper filter untuk mendukung proses autentikasi halal.

Menurut Prof. Joni Kusnadi, proses pengembangan tersebut menunjukkan pentingnya kesinambungan antara penelitian di perguruan tinggi dan kebutuhan industri.

“Keberhasilan inovasi tidak hanya ditentukan oleh hasil penelitian, tetapi juga oleh kolaborasi berkelanjutan dengan industri agar teknologi dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Joni.

Melalui kolaborasi tersebut, kit deteksi halal yang dikembangkan UB dan PT Biocare Sejahtera telah mencapai tahap siap diproduksi. Teknologi ini diarahkan untuk membantu identifikasi spesies serta mencegah adulterasi pangan, sekaligus mendukung proses autentikasi kehalalan produk pangan olahan.

Memasuki 2026, kerja sama UB dan PT Biocare Sejahtera berlanjut melalui program Joint Research and Publication (JRP) Skema A.

Kali ini, penelitian difokuskan pada pengembangan internal positive control (IPC) spesies tikus, Rattus norvegicus. IPC tersebut dikembangkan sebagai komponen pelengkap kit deteksi DNA berbasis metode Quantitative Real-Time PCR untuk autentikasi halal dan pangan.

Keberadaan IPC menjadi bagian penting dalam pengujian karena dapat membantu memastikan proses amplifikasi berlangsung sebagaimana mestinya. Komponen ini juga ditujukan untuk meningkatkan reliabilitas dan validitas hasil deteksi.

Salah satu hal yang ingin diantisipasi adalah false negative, yakni hasil negatif yang muncul akibat kegagalan proses amplifikasi.

Dengan pengembangan IPC tersebut, kit deteksi yang dihasilkan diharapkan semakin andal ketika digunakan untuk kebutuhan pengujian halal dan keamanan pangan.

Rangkaian kerja sama sejak 2021 hingga 2026 menjadi bagian dari upaya UB mendorong hilirisasi hasil penelitian. Riset yang dikembangkan bersama industri diarahkan agar bisa dimanfaatkan secara nyata oleh laboratorium pengujian, industri pangan, dan masyarakat.

Pengembangan kit deteksi dalam negeri juga diharapkan dapat memperkuat sistem autentikasi pangan. Teknologi tersebut dapat mendukung upaya memastikan produk pangan terbebas dari spesies hewan yang tidak diperbolehkan dalam proses autentikasi halal.

Kolaborasi UB dan PT Biocare Sejahtera juga dikaitkan dengan komitmen universitas terhadap Sustainable Development Goals (SDGs).

Pada SDG 3, pengembangan teknologi ini berkaitan dengan peningkatan keamanan pangan dan perlindungan konsumen. SDG 4 diwujudkan melalui penguatan riset dan pembelajaran berbasis inovasi, sedangkan SDG 8 berkaitan dengan pengembangan serta pemanfaatan teknologi dalam negeri yang berpotensi memperkuat daya saing industri.

Kerja sama antara perguruan tinggi dan industri tersebut juga menjadi bagian dari implementasi SDG 17 melalui kemitraan strategis dalam menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Selama lima tahun, pengembangan teknologi tersebut bergerak dari purwarupa menuju produk yang siap diproduksi. UB berharap hasil riset ini dapat memperluas pemanfaatan teknologi dalam negeri sekaligus mendukung penguatan industri bioteknologi nasional.