JATIMTIMES – Kain tenun gedok khas Tuban telah mengantongi Sertifikasi Indikasi Geografis (IG) dan merambah pasar internasional hingga mengantarkan dua desa di Tuban menyandang status Desa Devisa. Kini, sentra produksi tenun gedok tersebut didorong menjadi Desa Wisata.

Melalui sinergi antara DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim) dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim, kawasan sentra tenun di Desa Margorejo dan Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Tuban, diproyeksikan berkembang menjadi destinasi Desa Wisata berbasis ekosistem ekonomi kreatif.

Pembahasan strategis terkait hal tersebut dikupas tuntas dalam tayangan podcast NGODE (Ngobrol Bareng Dewan) yang disiarkan melalui kanal YouTube JTNTV milik JatimTIMES, mengudara pada Kamis (8/10/2026).

Diskusi ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Anggota Komisi B DPRD Jatim Aulia Hany Mustikasari, S.E., M.M. (Mbak Hany), serta Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Pariwisata dan Ekraf Disbudpar Jatim, Ali Afandi, S.Pd., M.T.

Dalam perbincangan tersebut, Aulia Hany Mustikasari menegaskan bahwa penetapan Desa Devisa oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sejak tahun 2022 tidak boleh berhenti hanya pada penjualan produk kain ke luar negeri. 

Menurut legislator perempuan dari Fraksi Partai Golkar tersebut, potensi besar ini harus diintegrasikan menjadi Desa Wisata agar dampak ekonominya dirasakan secara meluas oleh warga lokal dari hulu ke hilir.

"Karena kami berharap ini bukan hanya sekedar produknya saja (yang dikenal dan menghasilkan), tapi ada value lain. Prosesnya kita kenalkan untuk menjadi sebuah ekosistem," ujar Mbak Hany, sapaan akrabnya.

"Kita juga menarik minat teman-teman muda menghargai bahwa budaya ini juga ada di Kabupaten Tuban dan ini menghasilkan devisa untuk Kabupaten Tuban dan Provinsi Jawa Timur," lanjut wakil rakyat dari Dapil XII Tuban-Bojonegoro tersebut.

Mbak Hany juga mengapresiasi respons positif dari jajaran Pemprov Jatim dalam mengawal pengembangan potensi daerah ini secara terintegrasi demi kesejahteraan masyarakat di tingkat tapak.

"Kalau semisal ada banyak orang yang bangga, teman-teman muda sebagai generasi penerus kan harus bangga. Mungkin itu juga salah satu alasan saya dan alhamdulillah kok diamini oleh teman-teman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur untuk bisa mencari peluang lain yang bisa kita ciptakan di Kabupaten Tuban melalui Desa Wisata," tambahnya.

Menanggapi dorongan legislatif tersebut, Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Pariwisata dan Ekraf Disbudpar Jatim, Ali Afandi, menjelaskan bahwa proses menuju Desa Wisata memerlukan kesiapan seluruh elemen masyarakat desa untuk menghidupkan aktivitas pariwisata.

"Jadi kalau nanti ini diarahkan dari Desa Devisa — yang tadi itu karena ada penjualan, ada proses pembuatan tenun ini dan itu dijual maka bisa ke luar negeri —yang menghasilkan devisa, sekarang ditarik lagi bagaimana ini bisa bermanfaat bagi masyarakat, bukan hanya yang jual, tapi misalnya yang buat ini bagaimana ataupun menginfluence yang lainnya juga," papar Ali.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menciptakan pengalaman langsung (tourist experience) bagi para wisatawan yang berkunjung ke sentra tenun gedok Tuban kelak.

"Banyak hal yang itu harus kita siapkan. Misalnya bahwa tadi saya bilang Desa Wisata itu ada keunikan yang itu harus bisa ditampilkan. Misalnya ini, jadi nanti orang yang berkunjung di sana itu bukan hanya beli kain tapi bisa merasakan bagaimana aktivitas ketika menenun atau memberikan pewarnaan," tandas Ali.

Bagi masyarakat, pelaku usaha, maupun pengambil kebijakan yang ingin menyimak perbincangan mendalam serta strategi pengembangan ekonomi kerakyatan ini, tayangan lengkap podcast NGODE - Aulia Hany Mustikasari dapat disaksikan melalui kanal YouTube JTNTV atau melalui tautan berikut: https://youtu.be/1JlPTa6bsN4.