JATIMTIMES - Laju inflasi Kota Malang pada September 2026 mulai melandai setelah sempat menguat pada Agustus. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi bulanan Kota Malang tercatat 0,27 persen, turun dari 0,39 persen pada Agustus 2026.
Meski melandai, tekanan harga masih terlihat dari sejumlah komoditas pangan. Daging ayam ras dan cabai rawit menjadi penyumbang terbesar, masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen, disusul telur ayam ras 0,05 persen, beras 0,04 persen, serta labu siam/jipang 0,02 persen.
Secara tahunan, inflasi Kota Malang mencapai 3,19 persen (yoy). Angka tersebut masih berada di bawah inflasi Jawa Timur sebesar 3,33 persen maupun nasional sebesar 3,28 persen.
Sementara secara kumulatif sepanjang tahun berjalan, inflasi Kota Malang tercatat 2,13 persen (ytd). Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional 2,5 persen plus-minus 1 persen.
Kepala Perwakilan BI Malang, Indra Kuspriyadi mengatakan perkembangan inflasi tersebut menunjukkan tekanan harga di Kota Malang masih relatif terkendali. Meski demikiaan komoditas pangan tetap perlu mendapat perhatian.
“Inflasi Kota Malang pada September 2026 masih berada dalam sasaran nasional. Namun, perkembangan harga pangan strategis tetap menjadi perhatian karena daging ayam ras, cabai rawit, telur, dan beras menjadi komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi,” kata Indra, Selasa (6/10/2026).
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi sumber utama inflasi Kota Malang pada September dengan inflasi kelompok sebesar 0,82 persen dan memberikan andil 0,23 persen terhadap inflasi bulanan.
Kenaikan harga daging ayam dan telur ayam ras antara lain berkaitan dengan meningkatnya permintaan masyarakat, termasuk kebutuhan konsumsi dalam berbagai kegiatan serta program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara itu, harga cabai rawit dan labu siam terdorong keterbatasan pasokan akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung produksi. Harga beras juga mengalami kenaikan seiring meningkatnya harga gabah di tingkat produsen serta berkurangnya pasokan setelah periode panen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi. Emas perhiasan, angkutan udara, ketimun, cabai merah, dan bawang putih masing-masing memberikan andil deflasi sekitar 0,02 persen. Penurunan harga tersebut membuat tekanan inflasi tidak semakin tinggi pada September.
Secara spasial, inflasi bulanan Kota Malang sebesar 0,27 persen berada di atas rata-rata Jawa Timur yang mencapai 0,24 persen. Namun, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,30 persen.
Dalam wilayah kerja BI Malang, Kota Probolinggo mencatat inflasi lebih rendah, yakni 0,20 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi Kota Probolinggo mencapai 3,01 persen, sedangkan secara year to date sebesar 1,84 persen.
Pada September, inflasi Kota Probolinggo terutama didorong oleh kenaikan harga telur ayam ras, daging ayam ras, daging sapi, cabai rawit, dan cumi-cumi.
Sementara berdasarkan perbandingan spasial pada wilayah Jawa Timur, inflasi tertinggi dalam infografis BI Malang tercatat di Kota Kediri sebesar 0,41 persen, disusul Sumenep 0,28 persen. Kota Madiun, Kota Malang, dan Jember masing-masing berada di angka 0,27 persen.
Indra menegaskan pengendalian inflasi tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter, tetapi juga membutuhkan koordinasi antara BI, pemerintah daerah, dan berbagai pihak terkait.
“Pengendalian inflasi perlu terus diarahkan pada penguatan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, serta komunikasi yang efektif. Sinergi TPID bersama seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar tekanan harga pangan dapat dikelola,” tambahnya.
Upaya tersebut dilakukan melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Pada September 2026, TPID Kota Malang antara lain menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) pada 24 September dengan menyediakan 3 ton beras dan 500 liter Minyakita.
Pemantauan juga dilakukan terhadap pasokan BBM di SPBU Ciliwung serta komoditas pangan strategis, khususnya beras premium, di Pasar Blimbing, Pasar Klojen, dan distributor beras CV Podo Seneng Borobudur.
Langkah pengendalian juga diperkuat melalui koordinasi TPID, termasuk High Level Meeting pada 8 September 2026 serta keterlibatan dalam berbagai rapat koordinasi pengendalian inflasi tingkat nasional.
Ke depan, BI bersama pemerintah daerah dan TPID akan melanjutkan penguatan strategi 4K serta implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS). Fokusnya terutama pada menjaga pasokan pangan strategis, memperlancar distribusi, dan memastikan harga tetap terjangkau masyarakat.
Dengan inflasi tahunan 3,19 persen, perkembangan harga Kota Malang masih berada dalam sasaran nasional. Namun, dinamika harga daging ayam, cabai, telur, dan beras menunjukkan bahwa pangan tetap menjadi titik yang perlu diwaspadai dalam menjaga daya beli masyarakat hingga akhir 2026.



