JATIMTIMES - Cuaca di wilayah Malang Raya dalam beberapa hari terakhir terasa lebih panas dari biasanya. Teriknya matahari bahkan sudah terasa sejak pagi, sementara suhu siang hari membuat aktivitas di luar ruangan menjadi lebih gerah.

Kondisi tersebut tak luput dari perhatian masyarakat. Terlebih, Malang Raya selama ini dikenal memiliki udara yang relatif sejuk karena sebagian wilayahnya berada di kawasan dataran tinggi.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang Linda Fitrotul menjelaskan, cuaca panas yang dirasakan masyarakat saat ini berkaitan dengan kondisi atmosfer yang cenderung kering serta minimnya tutupan awan.

"Kondisi panas dan kering ini masih terjadi hingga beberapa hari ke depan, karena kondisi atmosfer periode 2 hingga 8 Oktober di wilayah Jawa relatif kering. Minim tutupan awan membuat pemanasan permukaan lebih kuat, sehingga suhu maksimum siang hari terasa lebih panas," jelas Linda.

Minimnya awan membuat sinar matahari lebih leluasa mencapai permukaan bumi. Akibatnya, proses pemanasan permukaan berlangsung lebih kuat dan membuat suhu udara pada siang hari meningkat.

Kondisi tersebut turut dipengaruhi posisi gerak semu matahari yang saat ini berada di sekitar wilayah selatan ekuator. Posisi ini membuat penerimaan radiasi matahari di kawasan Jawa masih cukup kuat.

Tak hanya itu, kondisi El Nino yang masih berlangsung serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga ikut memengaruhi situasi atmosfer. Kedua fenomena tersebut berkontribusi terhadap berkurangnya suplai uap air ke wilayah Indonesia.

Dampaknya, pembentukan awan dan hujan menjadi lebih terbatas. Langit yang cenderung cerah kemudian membuat panas matahari lebih terasa, termasuk di wilayah Malang Raya.

"Meski secara geografis Malang Raya berada di dataran tinggi, namun siang hari terasa panas saat langit cerah dan tutupan awannya sedikit," tambahnya.

Meski begitu, kondisi panas tersebut diperkirakan tidak akan berlangsung dengan intensitas yang sama secara terus-menerus. BMKG memprediksi penurunan suhu panas akan terjadi secara bertahap seiring meningkatnya pertumbuhan awan dan peluang hujan.

Namun, masyarakat tetap diminta waspada karena cuaca terik masih berpotensi muncul pada hari-hari tertentu, terutama selama periode peralihan musim atau pancaroba.

"Penurunan intensitas panas diperkirakan terjadi secara bertahap, seiring meningkatnya pertumbuhan awan dan peluang hujan. Namun, kondisi panas masih dapat terjadi pada hari-hari tertentu selama masa peralihan," tandasnya.