JATIMTIMES - Tantangan komunikasi pada anak autis yang belum atau hanya sedikit menggunakan bahasa lisan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan menyediakan perangkat komunikasi. Dukungan keluarga dan keterlibatan tenaga profesional menjadi bagian penting agar teknologi benar-benar dapat membantu anak menyampaikan kebutuhan dan maksudnya.
Persoalan tersebut menjadi perhatian lima mahasiswa Sains Data Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Airlangga (UNAIR) melalui pengembangan Nyambung, sebuah ekosistem komunikasi augmentatif dan alternatif atau Augmentative and Alternative Communication (AAC) berbahasa Indonesia.
Gagasan itu membawa tim bernama Teen Tensors meraih Juara 2 Hackathon Informatics Festival (IFEST) 2026 yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HIMATIF) FMIPA Universitas Padjadjaran. Mereka menempati posisi tersebut setelah bersaing dari 90 tim pendaftar dan masuk dalam 15 tim yang mengikuti final luring selama 24 jam pada 18–19 September 2026 di Kampus Universitas Padjadjaran Dipati Ukur, Bandung.
Teen Tensors terdiri atas Mikael Alexander Adikara Purnama, Bonfilio Renato Lawaziduhu Fau, dan Adinda Sekaring Wana dari Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) UB, serta Timotius Christopher Patrick Sihombing dan Raphael Angelo Adikara Purnama dari UNAIR. Kelimanya merupakan mahasiswa Program Studi Sains Data angkatan 2024.

Nyambung dikembangkan dengan melihat persoalan yang lebih luas dalam penggunaan AAC. Penelitian Helen Tager-Flusberg dan Connie Kasari pada 2013 memperkirakan sekitar 30 persen anak autis tetap minim verbal meskipun telah mendapatkan berbagai intervensi dan kesempatan pendidikan.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan komunikasi anak tidak berhenti pada tersedianya papan komunikasi atau perangkat digital. Orang-orang yang berada di sekitar anak juga perlu memahami bagaimana menggunakan sistem komunikasi tersebut secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui Nyambung, kami tidak hanya ingin membuat papan komunikasi, tetapi membangun dukungan yang menghubungkan anak, keluarga, dan terapis. Bagi kami, teknologi seharusnya membantu suara anak sampai dan dipahami oleh orang-orang di sekitarnya,” ujar Bonfilio Renato Lawaziduhu Fau mewakili Teen Tensors.
Konsep tersebut diterapkan Nyambung dengan menghubungkan tiga pihak, yakni anak, keluarga, dan terapis. Anak menggunakan papan bicara bergambar melalui aplikasi Android. Ketika sebuah simbol ditekan, sistem akan menyuarakan kata yang dipilih.
Sementara itu, keluarga tidak hanya menjadi pengguna pendamping. Mereka mendapatkan materi pembelajaran singkat serta misi harian untuk berlatih memberikan contoh penggunaan papan komunikasi dalam rutinitas keluarga.
Apabila tersedia koneksi internet dan keluarga memberikan izin, data penggunaan juga dapat disinkronkan sehingga terapis bisa melihat pola komunikasi anak di rumah. Dari data tersebut, terapis dapat memberikan usulan kata atau frasa yang kemudian tetap dapat diterima maupun ditolak oleh keluarga.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu pembeda Nyambung karena fungsi utama papan komunikasinya tidak bergantung pada internet. Aplikasi dapat digunakan secara luring dan memuat 120 kata Bahasa Indonesia yang terbagi dalam 13 halaman.
Sebanyak 12 kata inti ditempatkan pada posisi yang tetap untuk membantu proses pembelajaran dan penggunaan berulang. Sistem juga dirancang agar dapat berjalan pada perangkat mulai Android 8 dengan RAM 2 GB, sehingga tidak secara khusus bergantung pada telepon seluler dengan spesifikasi tinggi.
Selain papan komunikasi standar, Nyambung memiliki fitur “Papan dari Foto”. Melalui fitur ini, orang tua dapat menggunakan foto dari aktivitas sehari-hari, seperti meja makan atau ruang belajar, kemudian menjadikannya papan komunikasi interaktif.
Objek tertentu dalam foto dapat diberi kata dan suara. Anak kemudian dapat menekan objek yang dikenali untuk menyampaikan maksudnya. Kecerdasan buatan digunakan untuk membantu membuat rancangan awal area pada foto, tetapi keputusan akhir tetap harus diperiksa dan ditentukan keluarga.
Aspek personalisasi juga diterapkan melalui fitur suara keluarga. Untuk kata tertentu, keluarga dapat merekam suara sendiri sehingga keluaran komunikasi dapat dibuat lebih dekat dengan lingkungan anak.
Sementara bagi terapis, Nyambung menyediakan dasbor yang menampilkan pola penggunaan papan dari rumah. Data tersebut tidak dimaksudkan untuk memberikan skor kemampuan anak, melainkan menjadi informasi pendukung bagi terapis dalam memahami kebutuhan komunikasi.
Terapis kemudian dapat mengusulkan tambahan kosakata berdasarkan kebutuhan anak. Namun, usulan tersebut tidak otomatis diterapkan. Keluarga tetap memiliki kendali untuk menerima atau menolaknya.
Privasi juga menjadi bagian dari rancangan teknologi tersebut. Nyambung tidak merekam percakapan di dalam ruangan, video, maupun lokasi anak. Foto yang digunakan untuk membuat kartu personal tetap tersimpan di perangkat.
Penggunaan analisis foto berbasis kecerdasan buatan juga membutuhkan persetujuan khusus dari orang tua. Tim menegaskan Nyambung bukan alat diagnosis dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan penilaian klinis dari terapis.
Pengembangan berbagai fitur tersebut dilakukan Teen Tensors dalam waktu terbatas selama hackathon. Kelima mahasiswa membagi pekerjaan ke dalam empat jalur, yakni pengembangan aplikasi papan bicara, pendampingan orang tua, server dan sinkronisasi data, serta dasbor terapis dan materi presentasi.
Produk yang dihasilkan tidak hanya berupa aplikasi Android. Tim juga membangun server, dasbor berbasis web, serta purwarupa fitur yang memanfaatkan kecerdasan buatan.
Atas inovasi tersebut, Teen Tensors memperoleh Juara 2 Hackathon IFEST 2026 dan hadiah sebesar Rp3.750.000. Capaian kompetisi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana persoalan akses komunikasi dapat diterjemahkan menjadi persoalan teknologi yang lebih konkret.



