JATIMTIMES - Upaya memperkuat pembelajaran muatan lokal di Kabupaten Blitar bergerak dari ruang-ruang kerja para guru. Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar turut mendampingi guru Bahasa Jawa dalam penyusunan buku ajar untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Penyusunan buku dilakukan secara bertahap selama empat hari untuk masing-masing jenjang. Untuk tingkat SD, kegiatan berlangsung di SDN 1 Garum pada 14-17 September 2026. Sementara penyusunan buku ajar tingkat SMP dilaksanakan di Korwil Garum pada 21-24 September 2026.
Dosen FKIP Unisba Blitar, Minto Santoso, S.Pd., M.Pd., mengatakan pendampingan tersebut menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat kualitas pembelajaran di sekolah. Kampus, menurut dia, memiliki ruang untuk menjembatani pendekatan akademik dengan pengalaman praktis para guru di kelas.
“Guru memahami kondisi dan kebutuhan peserta didik secara langsung. Perguruan tinggi dapat memberikan penguatan dari sisi akademik dan pengembangan pembelajaran. Kolaborasi ini penting agar buku ajar yang disusun tidak hanya sistematis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan siswa,” kata Minto.
Menurut dia, Bahasa Jawa memiliki posisi strategis karena pembelajarannya tidak berhenti pada kemampuan berbahasa. Di dalamnya terdapat nilai kesantunan, tata krama, kebudayaan, hingga identitas lokal yang dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter.
“Bahasa daerah bukan sekadar mata pelajaran. Di dalam Bahasa Jawa ada nilai budaya dan karakter yang bisa ditanamkan kepada anak. Karena itu, buku ajarnya perlu dekat dengan kehidupan siswa agar pembelajaran lebih kontekstual dan bermakna,” ujarnya.
Kolaborasi untuk Pendidikan Karakter

Plt. Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar Bambang Dwi Cahyono, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi kerja para guru yang selama empat hari mencurahkan tenaga dan gagasan untuk menyusun buku ajar tersebut. Ia berharap kerja bersama itu memberikan manfaat langsung bagi pembelajaran muatan lokal di sekolah.
“Kami menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada teman-teman guru Bahasa Daerah Kabupaten Blitar yang telah bekerja keras selama empat hari menyusun buku ajar bahasa daerah,” kata Bambang.
Menurut Bambang, penyusunan buku juga diharapkan memantik semangat guru lain untuk terus mengembangkan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Semoga apa yang dilakukan tim penyusun dan guru Bahasa Jawa ini menginspirasi guru yang lain sekaligus bermanfaat untuk pembelajaran Bahasa Jawa, khususnya muatan lokal. Yang paling penting adalah bisa mewujudkan generasi-generasi yang berkarakter,” ujarnya.
Kolaborasi guru, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi tersebut menempatkan muatan lokal sebagai bagian penting pembangunan pendidikan. Bahasa Jawa tidak hanya dijaga agar tetap hidup di ruang kelas, tetapi juga digunakan sebagai medium untuk menanamkan karakter sekaligus memperkuat kedekatan generasi muda dengan budaya daerahnya.



