JATIMTIMES - Persiapan menuju Festival Lomba Burung Berkicau Piala Bakorwil III Malang terus dimatangkan. Agenda yang digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Ke-81 Provinsi Jawa Timur tersebut dijadwalkan berlangsung Minggu 11 Oktober 2026 di Gantangan Wijaya Kusuma, Rest Area Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Festival yang mengusung tajuk “Piala Bakorwil III Malang” ini akan dibuka mulai pukul 10.00 WIB. Gelaran tersebut menghadirkan konsep full trophy exclusive, dengan sejumlah kelas lomba yang telah disiapkan panitia.
Selain menjadi arena kompetisi para penghobi burung berkicau, kegiatan ini diposisikan sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT Ke-81 Pemprov Jawa Timur sekaligus ruang pertemuan komunitas burung berkicau dari berbagai daerah.
Kepala Bakorwil Malang Asep Kusdinar SHut MH dijadwalkan hadir dalam kegiatan tersebut. Festival ini juga menghadirkan kolaborasi Jaya BC dan Wijaya Kusuma, dengan dukungan sejumlah pihak, termasuk JatimTIMES.com dan BRI.
Berdasarkan informasi yang tercantum dalam poster kegiatan, panitia menyiapkan tujuh kelas lomba dengan tiket mulai Rp25 ribu hingga Rp220 ribu.
Kelas dengan tiket Rp220 ribu memperlombakan Murai Batu C. Juara pertama mendapatkan hadiah Rp2 juta, juara kedua Rp900 ribu, juara ketiga Rp400 ribu, juara keempat Rp300 ribu, dan juara kelima Rp270 ribu.
Pada kelas Rp150 ribu Murai Batu D-E, hadiah juara pertama mencapai Rp1,35 juta, disusul Rp700 ribu untuk juara kedua, Rp350 ribu juara ketiga, Rp250 ribu juara keempat, dan Rp200 ribu juara kelima.
Sementara Murai Batu B masuk kelas tiket Rp120 ribu, dengan hadiah juara pertama Rp1 juta, juara kedua Rp450 ribu, juara ketiga Rp300 ribu, juara keempat Rp250 ribu, dan juara kelima Rp170 ribu.
Kelas berikutnya adalah Murai Batu F-G dengan tiket Rp75 ribu. Hadiah yang disiapkan masing-masing Rp700 ribu, Rp350 ribu, Rp200 ribu, Rp150 ribu, dan Rp100 ribu untuk peringkat pertama hingga kelima.
Untuk tiket Rp55 ribu, panitia menggabungkan beberapa kategori, yakni Murai Batu A, Anis Merah A, Cucak Ijo B-C, dan Cendet B-C. Hadiahnya Rp500 ribu untuk juara pertama, Rp200 ribu juara kedua, Rp150 ribu juara ketiga, Rp100 ribu juara keempat, serta Rp80 ribu juara kelima.
Kelas Rp35 ribu mempertandingkan Murai Batu H-J, Anis Merah B-C, Cucak Ijo A-D-E-F, serta Cendet A-D-E. Hadiah yang tersedia mulai Rp300 ribu untuk juara pertama, Rp130 ribu juara kedua, Rp80 ribu juara ketiga, Rp60 ribu juara keempat, dan Rp50 ribu juara kelima.
Sedangkan kelas dengan tiket paling terjangkau, Rp25 ribu, diperuntukkan bagi Sogon A-B-C-D. Juara pertama memperoleh Rp200 ribu, juara kedua Rp80 ribu, juara ketiga Rp60 ribu, juara keempat Rp50 ribu, dan juara kelima Rp35 ribu.
Pada seluruh kelas tersebut, poster kegiatan juga mencantumkan trofi untuk juara 1-3, sesuai konsep full trofi yang ditawarkan dalam gelaran kali ini.
Di balik persiapan lomba, kegiatan ini juga membawa gagasan untuk melihat komunitas burung berkicau dari perspektif yang lebih luas. Asep Kusdinar menilai aktivitas tersebut tidak berhenti pada kompetisi suara burung, tetapi memiliki keterkaitan dengan pengetahuan, komunitas, penangkaran hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Menurut Asep, jenis burung yang dilombakan memiliki karakter masing-masing. Murai batu, misalnya, dikenal dengan variasi suara dan karakter kicauannya. Sementara anis merah, cucak ijo, cendet, dan sogon juga memiliki karakter serta komunitas penggemarnya sendiri.
“Kalau kita lihat, masing-masing burung ini punya karakter. Murai batu misalnya, dikenal dengan variasi suara dan karakter kicauannya. Begitu juga anis merah, cucak ijo, cendet dan sogon. Masing-masing memiliki penggemar dan komunitasnya sendiri,” ujar Asep.
Menurut dia, berkembangnya komunitas penghobi burung juga mendorong munculnya pengetahuan mengenai karakter burung, perawatan, penangkaran hingga teknik pemeliharaan.
Karena itu, kecintaan terhadap burung juga diarahkan agar berkembang melalui penangkaran legal dan berkelanjutan, sehingga aktivitas penghobi tidak bergantung pada pengambilan burung dari alam.
“Yang kita dorong adalah penangkaran. Burung hasil eksitu bisa dikembangkan menjadi usaha. Dengan begitu, kecintaan terhadap burung tetap berjalan bersama upaya menjaga kelestarian alam,” jelasnya.
Asep juga melihat penangkaran burung memiliki peluang untuk berkembang menjadi rantai ekonomi dari hulu hingga hilir. Ketika penangkaran tumbuh, kebutuhan terhadap pakan, sangkar, aksesori, jasa perawatan, transportasi, kegiatan komunitas hingga penyelenggaraan event ikut terbentuk.
“Jangan berhenti pada hobinya. Kita bisa melihat ini sebagai sebuah ekosistem ekonomi. Ada penangkaran, ada pakan, ada perlengkapan, ada perawatan, ada komunitas, ada event dan tentu ada UMKM yang ikut bergerak,” kata Asep.
Kegiatan seperti Piala Bakorwil III Malang juga dinilai dapat membuka ruang keterlibatan masyarakat sekitar, termasuk UMKM dan karang taruna, sehingga perhelatan komunitas tidak hanya memberikan ruang bagi peserta lomba.
“Kalau ekosistemnya hidup, yang mendapatkan manfaat bukan hanya penangkar atau penghobi. UMKM bisa bergerak, karang taruna bisa terlibat, masyarakat bisa mendapatkan pekerjaan dan kegiatan seperti ini juga bisa menjadi bagian dari aktivitas ekonomi lokal,” ujarnya.
Dengan jadwal pelaksanaan pada 11 Oktober 2026, para penghobi kini memiliki waktu untuk mempersiapkan burung yang akan diturunkan pada masing-masing kelas.
Karakter suara dan performa menjadi bagian penting dalam kompetisi burung berkicau. Karena itu, persiapan peserta tidak hanya berkaitan dengan keberadaan burung, tetapi juga perawatan dan kesiapan sebelum memasuki arena lomba.
Asep menyebut komunitas burung berkicau memiliki pengetahuan dan pengalaman yang terus berkembang. Arena lomba kemudian menjadi ruang bertemunya penghobi, komunitas, pelaku penangkaran serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap dunia burung.
“Komunitas itu memiliki energi. Tugas pemerintah bukan mengambil alih, tetapi bagaimana menciptakan ruang agar energi masyarakat itu bisa berkembang menjadi sesuatu yang produktif,” kata Asep.
Bagi peserta yang ingin mengikuti festival, informasi tiket pada poster mencantumkan kontak Bowo Lass di nomor 081231840205. Informasi pelunasan tiket juga tercantum melalui rekening BCA atas nama Istipar, sedangkan informasi lomba disebut berada di bawah koordinasi All Crew Jaya BC & Wijaya Kusuma dengan RA Photography sebagai media partner.
Festival Lomba Burung Berkicau Piala Bakorwil III Malang tersebut akan digelar Minggu, 11 Oktober 2026, mulai pukul 10.00 WIB di Gantangan Wijaya Kusuma, Rest Area Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, sebagai bagian dari rangkaian memeriahkan Hari Jadi Ke-81 Provinsi Jawa Timur.



