JATIMTIMES - Kepanikan saat bencana tidak hanya muncul karena ancaman yang datang tiba-tiba. Waktu evakuasi juga bisa terbuang ketika warga masih sibuk mencari dokumen, obat-obatan hingga kebutuhan dasar lainnya.

Karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang meminta masyarakat menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) di rumah. Perlengkapan tersebut ditujukan untuk menunjang kebutuhan warga selama masa darurat hingga 3x24 jam.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi sekaligus Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Malang, Dwi Hermawan Purnomo, mengatakan warga tidak perlu membeli tas khusus untuk keperluan tersebut.

Tas yang sudah tersedia di rumah dapat digunakan untuk menyimpan sejumlah kebutuhan penting. Isinya antara lain dokumen atau salinan dokumen, makanan, minuman, obat-obatan, pakaian serta uang secukupnya.

“Bisa digunakan untuk mengumpulkan beberapa dokumen, makanan, minuman, obat-obatan, baju, pakaian, uang secukupnya. Setidaknya perlengkapan 3x24 jam,” kata Dwi.

Menurutnya, keberadaan tas tersebut menjadi penting karena kondisi darurat dapat membuat warga kesulitan mengambil barang-barang yang dibutuhkan. Dengan kebutuhan dasar sudah dikemas sebelumnya, proses evakuasi diharapkan bisa berlangsung lebih cepat.

Dwi bahkan menyarankan Tas Siaga Bencana ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau saat warga harus meninggalkan rumah. Posisi dekat pintu keluar dinilai lebih ideal karena tas dapat langsung dibawa ketika evakuasi.

“Gunanya tas siaga memang untuk berjaga-jaga terjadinya bencana. Seyogyanya tas siaga itu diletakkan di dekat pintu keluar rumah, ketika berlari bisa sekalian diambil,” jelasnya.

Ia menegaskan, kesiapan tersebut bukan bentuk kepanikan menghadapi potensi bencana. Sebaliknya, langkah sederhana itu merupakan bagian dari upaya mengurangi kebingungan ketika situasi darurat benar-benar terjadi.

“Tidak ada hubungannya dengan kepanikan. Karena kita berjaga-jaga. Seyogyanya dokumen penting atau salinannya itu bisa dimasukkan menjadi satu, dan hal-hal lain tadi. Sehingga ketika terjadi bencana kita tidak bingung mencari di mana,” tuturnya.

BPBD Kota Malang terus memasukkan edukasi mengenai kesiapsiagaan tersebut dalam berbagai sosialisasi. Informasi disebarkan melalui kegiatan tatap muka, media sosial, website, serta jejaring Kelurahan Tangguh.

Dwi menyebut sejumlah potensi bencana juga perlu diwaspadai masyarakat Kota Malang, terutama memasuki perubahan kondisi cuaca. Angin kencang dan kebakaran lahan menjadi beberapa kejadian yang belakangan mendapat perhatian BPBD.

“Kalau potensi bencana yang sering terjadi akhir-akhir ini itu angin kencang, kemudian kebakaran lahan. Ini juga mau mengarah ke musim penghujan, beberapa daerah ada yang angin kencang dan hujan walaupun intensitasnya kecil,” imbuhnya.