JATIMTIMES - Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menyebut dampak Super El Nino berpotensi berlangsung hingga periode 2027-2028.
Proyeksi tersebut diperoleh dari hasil simulasi dan analisis menggunakan 14 model iklim NASA Earth Exchange Global Daily Downscaled Projections (NEX-GDDP). Hasil kajian tersebut menjadi dasar pentingnya kewaspadaan jangka panjang terhadap berbagai kemungkinan dampak perubahan iklim.
"Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan jangka panjang dari berbagai pihak," ungkap Erma, dikutip dari laman resmi BRIN, Jumat (2/10/2026).
Potensi munculnya Super El Nino juga mendapat perhatian dari Profesor Scripps Institution of Oceanography, Mark Merrifield. Menurutnya, perubahan anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Khatulistiwa menjadi salah satu sinyal yang perlu diperhatikan.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang perubahan dari El Nino biasa menuju fase yang jauh lebih kuat. Untuk periode Oktober hingga Desember 2026, peluang terjadinya fenomena yang melampaui rekor El Nino sejak 1950-an disebut mencapai 75 persen.
"Untuk musim Oktober hingga Desember 2026, terdapat peluang sebesar 75 persen bahwa fenomena ini akan menjadi peristiwa bersejarah yang kekuatannya melampaui rekor El Nino sebelumnya sejak tahun 1950-an," ujar Mark.
Super El Nino tersebut juga diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027. Bagi Indonesia, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kemarau yang lebih panjang sekaligus tekanan panas ekstrem di sejumlah wilayah.
Meski El Nino identik dengan peningkatan risiko kekeringan, kondisi cuaca di Indonesia tidak selalu sama di setiap daerah. Erma menjelaskan bahwa pengaruh El Nino terhadap wilayah Benua Maritim Indonesia memiliki pola spasial yang beragam.
Perambatan gelombang El Nino dapat mendorong pergeseran musim kemarau sehingga berlangsung lebih panjang. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan tekanan panas ekstrem yang dapat dilihat melalui indeks suhu bola basah atau Wet Bulb Globe Temperature (WBGT).
"Perambatan gelombang El Nino memicu pergeseran musim kemarau yang lebih panjang serta meningkatkan ancaman tekanan panas ekstrem atau indeks suhu bola basah (Wet Bulb Global Temperatur/WBGT)," jelas Erma.
Namun, faktor lokal tetap memiliki pengaruh besar terhadap kondisi cuaca di suatu daerah. Karena itu, tidak semua wilayah Indonesia otomatis mengalami kondisi kering dalam waktu yang sama.
Bogor, misalnya, masih dapat mengalami hujan dengan frekuensi cukup tinggi karena dipengaruhi kondisi lokal dan topografi pegunungan. Sementara itu, Lamongan, Jawa Timur, berpotensi mengalami periode kering yang jauh lebih panjang.
Dampak berkepanjangan dari El Nino tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air. Erma juga menyoroti potensi gangguan terhadap produksi padi serta meningkatnya tekanan panas di lingkungan.
Kondisi panas ekstrem menjadi perhatian terutama di wilayah Kalimantan dan Papua. Tingginya tekanan panas dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan apabila didukung kondisi lingkungan yang kering.
Dengan demikian, ancaman El Nino perlu dilihat secara lebih luas karena dampaknya dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Selain kekeringan dan suhu panas, Mark Merrifield mengingatkan bahwa perubahan kondisi iklim juga dapat menimbulkan dampak berbeda di wilayah pesisir.
Ia mengambil contoh kondisi di Pantai California yang menghadapi kombinasi peningkatan gelombang, muka laut yang tinggi, pasang surut ekstrem, serta curah hujan lebat. Kombinasi kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko banjir di kawasan pesisir.
Hal ini menunjukkan bahwa dampak fenomena El Nino tidak selalu berupa kekeringan. Karakteristik wilayah dan kondisi atmosfer-laut setempat turut menentukan bentuk risiko yang muncul.
Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Dwisuryo Indroyono Soesilo, menekankan pentingnya kerja sama lintas negara untuk menghadapi potensi dampak ekstrem El Nino.
Menurutnya, hasil kajian mengenai El Nino perlu diterjemahkan menjadi langkah kesiapsiagaan yang dapat dilakukan pemerintah, masyarakat, maupun individu.
"Memahami El Nino hanya akan berguna jika pemahaman tersebut diterjemahkan ke dalam kesiapsiagaan yang lebih baik bagi pemerintah, masyarakat, dan individu, serta didukung oleh komitmen bersama termasuk kesiapan pengoperasian kapal riset Baruna Jaya milik BRIN untuk berkolaborasi mengurai dinamika iklim demi melindungi rakyat kita," ujar Dwisuryo.
Saat ini, BRIN telah menjalin kolaborasi dengan Scripps Institution of Oceanography di Amerika Serikat. Kerja sama tersebut akan dilanjutkan melalui pembahasan proposal riset dan mobilisasi sumber daya bersama.
Penelitian mendalam tersebut diharapkan dapat membantu mengungkap sejarah sekaligus dinamika El Nino secara lebih komprehensif. Hasilnya dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai risiko iklim di masa mendatang.



