JATIMTIMES – Bagi Sukiyat (41), kesembuhan istrinya, Suliyah, menjadi hal yang paling utama saat ini. Ia rela menghentikan sementara pekerjaannya sebagai buruh tani untuk mendampingi sang istri menjalani serangkaian pengobatan. Di tengah perjuangan tersebut, Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi tumpuan keluarga agar pengobatan tetap berjalan.
Perjalanan tersebut bermula ketika Suliyah mengalami keluhan leher kaku dan sulit menoleh selama sekitar satu bulan. Keluarga awalnya mengira kondisi tersebut hanya keluhan biasa hingga akhirnya memutuskan untuk melakukan pemeriksaan.
“Awalnya lehernya terasa kaku dan sakit buat menoleh, itu sudah berjalan satu bulan, kami kira hanya pegal biasa. Setelah periksa ke apotek ternyata kolesterol tinggi dan tekanan darah juga tinggi. Akhirnya kami ke puskesmas, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit dr. Soedomo Trenggalek dan langsung opname dua hari. Disana dilakukan CT Scan dan ketahuan ada penyumbatan pembuluh darah di kepala sebelah kanan, kata dokter istri saya stroke,” tutur Sukiyat saat ditemui, Selasa (29/9).
Setelah mendapatkan penanganan di rumah sakit, Suliyah menjalani berbagai pemeriksaan lanjutan. Dari hasil pemeriksaan, dokter menemukan adanya masalah kesehatan lain yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Selama menjalani perawatan, Sukiyat bersyukur karena kepesertaan JKN miliknya dan sang istri masih aktif. Keduanya terdaftar sebagai peserta segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI), sehingga iuran kepesertaan dibayarkan oleh pemerintah.
“Saya baru tahu kalau kami punya JKN dan aktif saat periksa di puskesmas. Alhamdulillah langsung bisa dipakai untuk berobat dari puskesmas sampai rawat inap di rumah sakit. Selama berobat juga tidak mengalami kendala administrasi sama sekali,” ungkapnya.
Setelah menjalani perawatan terkait stroke dan gangguan ginjal di rumah sakit Trenggalek, kondisi Suliyah menunjukkan perkembangan. Kadar kreatinin yang sebelumnya meningkat mengalami penurunan. Selanjutnya, Suliyah mendapatkan rujukan ke Rumah Sakit dr. Iskak Tulungagung untuk pemeriksaan lebih lanjut di poli bedah onkologi.
“Keluhan karena stroke dan ginjal ditangani di rumah sakit di Trenggalek, alhamdulillah kreatininnya sudah turun dari 2,2 menjadi 1,8. Setelah itu ada rujukan ke Tulungagung untuk pemeriksaan benjolan, ke poli bedah onkologi. Sebenarnya sudah lebih dulu istri saya merasakan ada benjolan, tapi memilih tidak periksa karena tidak merasakan sakit, malah ternyata sekarang harus segera diobati. Sudah melaksanakan ekokardiografi dan sudah dijadwalkan untuk kemoterapi. Prosesnya cepat dan tidak berbelit,” jelas Sukiyat.
Selama mendampingi istrinya menjalani pengobatan di berbagai fasilitas kesehatan, Sukiyat merasakan pelayanan yang diterima berjalan baik. Ia menilai tenaga kesehatan memberikan penjelasan mengenai kondisi istrinya dan tahapan pengobatan yang harus dijalani.
“Penanganannya bagus, baik di Trenggalek maupun di rumah sakit Tulungagung ini sama bagusnya. Dokternya juga menjelaskan dengan baik, saya bisa paham kondisi istri saya. Walaupun kami peserta JKN yang dibayar pemerintah, pelayanannya sama saja, tidak ada bedanya. Tidak ada biaya rawat inap sama sekali,” tegasnya.
Karena ingin fokus mendampingi istrinya, Sukiyat memilih berhenti sementara dari pekerjaannya. Dengan jarak rumah yang cukup jauh dari rumah sakit, ia juga memilih tinggal di rumah singgah selama proses pengobatan di Tulungagung.
“Saya ini cuma seorang petani dan buruh. Selama istri sakit saya berhenti dulu, fokus ke pengobatan istri dulu. Kalau sudah sehat nanti pekerjaan bisa dilanjutkan lagi. Yang penting sekarang semangat dan optimis sembuh. Harapan saya program JKN jangan sampai berhenti karena sangat membantu, tidak mungkin istri saya bisa berobat dengan penanganan yabg baik dan lengkap jika tidak punya JKN. Masalah pengobatan sudah tenang ada JKN yang menanggung, saya tinggal fokus memberikan semangat untuk istri saya saat ini,” tutup Sukiyat.



