JATIMTIMES - Harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi di pengujung akhir September 2026. Masyarakat mulai menantikan apakah harga BBM, khususnya jenis nonsubsidi seperti Pertamax, akan mengalami perubahan mulai Oktober mendatang.

Hingga Senin (28/9/2026), pemerintah belum mengumumkan harga BBM yang akan berlaku pada Oktober 2026. Harga BBM nonsubsidi sendiri dapat mengalami perubahan mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta harga acuan yang menjadi dasar perhitungan badan usaha.

Menurut peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti. Perhitungan itu mengacu pada pergerakan harga rata-rata pasar periode 25 Agustus-25 September 2026.

Adapun salah satu acuan untuk menentukan harga BBM nonsubsidi adalah Mean of Platts Singapore (MOPS).

Yayan mencatat rata-rata harga MOPS bensin naik dari US$111,4 per barel pada periode penetapan harga September menjadi sekitar US$126,7 per barel untuk periode Oktober. Kenaikan tersebut mencapai sekitar 14 persen.

"Ya, tekanan naik masih ada. Harga Oktober dihitung dari rata-rata pasar 25 Agustus-25 September, dan pada periode itu harga bensin olahan di Singapura (MOPS) naik sekitar 14 persen," kata Yayan, dikutip Antara, Senin (28/9/2026).

Di sisi lain, nilai tukar rupiah justru bergerak menguat. Rupiah tercatat berubah dari sekitar Rp17.892 menjadi Rp17.630 per dolar AS dalam periode perhitungan tersebut.

Dengan demikian kombinasi perubahan harga MOPS dan nilai tukar kemudian menjadi dasar perhitungan proyeksi harga BBM nonsubsidi. Jika mengikuti formula tersebut, kenaikannya diperkirakan berada di rentang 5-11 persen.

"Bila mengikuti formula, harga BBM nonsubsidi naik 5-11 persen. Pertamax kemungkinan besar ditahan lagi, tetapi harga aslinya kini sekitar Rp18.350 per liter," ujar Yayan.

Dengan perhitungan tersebut, sejumlah jenis BBM nonsubsidi berpotensi mengalami perubahan harga. Pertamax Green 95 yang saat ini Rp19.150 per liter diperkirakan menjadi sekitar Rp21.200 per liter.

Kemudian Pertamax Turbo diproyeksikan bergerak dari Rp19.600 menjadi Rp21.450 per liter. Untuk jenis diesel, Dexlite diperkirakan naik dari Rp23.700 menjadi Rp25.000 per liter, sedangkan Pertamina Dex dari Rp25.200 menjadi Rp26.600 per liter.

Meski begitu, angka tersebut masih berupa proyeksi, bukan harga resmi yang telah ditetapkan pemerintah maupun badan usaha.
Yayan juga menyebut soal pentingnya keterbukaan apabila terjadi perubahan harga BBM. Menurutnya, konsumen perlu mendapat penjelasan mengenai dasar penetapan harga agar perubahan tidak datang secara tiba-tiba.

"Yang sebaiknya dilakukan, untuk jangka pendek adalah umumkan harga beserta alasannya secara terbuka. Kenaikan kecil yang dapat diperkirakan lebih mudah diterima daripada kejutan," ucap Yayan.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan harga BBM nonsubsidi mengikuti perkembangan pasar global. Salah satu indikator yang diperhatikan adalah Indonesian Crude Price (ICP).

"Coba cek dulu. Kalau harga minyak nonsubsidi itu akan mengikuti harga pasar. Kalau harga pasar globalnya itu ICP-nya naik, otomatis dia akan naik. Tapi kalau harga ICP-nya turun, pasti juga dia akan melakukan koreksi," ujar Bahlil. 

Pemerintah juga memastikan ketersediaan BBM nasional masih dalam kondisi aman. Stok BBM berada pada kisaran 18-21 hari.

Di sisi lain, untuk harga BBM subsidi, Bahlil memastikan tidak ada kenaikan harga hingga akhir 2026. "Yang kedua, harga minyak subsidi sampai dengan akhir tahun tidak akan ada kenaikan. Udah itu deal, itu perintah Pak Presiden Prabowo," pungkas Bahlil.