JATIMTIMES - Hari pertama memasuki perguruan tinggi biasanya identik dengan pengenalan kampus, almamater, ruang kuliah hingga organisasi kemahasiswaan. Namun, Universitas Islam Malang (Unisma) mencoba menarik garis yang lebih jauh dalam Orientasi Studi dan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (Oshika Maba) 2026.

Lebih dari sekadar mengenalkan kehidupan akademik, mahasiswa baru diajak memahami posisi perguruan tinggi di tengah persoalan sosial dan pembangunan. Mereka diperkenalkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) sekaligus didorong melihat kehidupan kampus sebagai bagian dari persoalan yang lebih luas di masyarakat.

Pesan itu disampaikan Rektor Unisma Prof Drs H Junaidi MPd PhD saat membuka rangkaian Oshika Maba pada 28 September 2026. Bagi Junaidi, mahasiswa yang baru masuk tidak cukup hanya mengetahui bagaimana menjalani perkuliahan. Sejak awal, mereka perlu memiliki cara berpikir bahwa ilmu yang diperoleh di kampus semestinya memiliki manfaat di luar kampus.

1

Arah tersebut, menurut Junaidi, sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mendorong perguruan tinggi agar memberikan dampak.

“Yang ditekankan pada Oshika Maba kali ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Dikti Saintek, yaitu Kementerian Dikti Saintek berdampak. Sehingga kita juga menekankan Unisma anfa’, Unisma bermanfaat, Unisma berdampak,” kata Junaidi, Senin (28/9/2026).

Istilah anfa’ yang berarti memberi manfaat itu kemudian tidak berhenti sebagai jargon penyambutan mahasiswa baru. Unisma mencoba menerjemahkannya ke dalam proses pengenalan mahasiswa terhadap isu pembangunan berkelanjutan.

Sebanyak 17 tujuan dalam SDGs diperkenalkan kepada mahasiswa baru. Dari sana, mahasiswa diharapkan mulai mengenali berbagai persoalan dunia, mulai dari isu kemiskinan, pendidikan, kesehatan, kesetaraan, lingkungan hingga pembangunan berkelanjutan.

“Mulai penyadaran pada cara berpikir mahasiswa baru, dengan mengenalkan ke-17 SDGs yang merupakan program dunia. Mahasiswa sudah kenal dengan 17 program SDGs itu,” ujar Junaidi.

Pengenalan itu kemudian diarahkan agar tidak berhenti pada pengetahuan. Mahasiswa diberi ruang untuk menerjemahkan gagasan tersebut melalui kegiatan kreatif, salah satunya pembuatan poster yang mengangkat isu pembangunan berkelanjutan.

2

Dari aktivitas semacam itu, mahasiswa mulai diperhadapkan pada pertanyaan yang lebih substantif: persoalan apa yang ada di sekitar mereka dan apa yang dapat dilakukan dengan pengetahuan yang kelak diperoleh di perguruan tinggi.

Tahap berikutnya diarahkan pada keterlibatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Unisma menyiapkan sejumlah kegiatan pengabdian yang akan dilaksanakan setelah rangkaian pengenalan mahasiswa baru.

“Implementasinya yang sedang kita laksanakan dalam tiga hari bahkan satu minggu ke depan ini. Sehingga nanti akan ada beberapa kegiatan pengabdian juga,” kata Junaidi.

Dengan pola tersebut, masa orientasi ditempatkan sebagai pintu masuk menuju kehidupan kampus yang lebih luas. Mahasiswa tidak hanya dikenalkan dengan ruang akademik, tetapi juga dengan ekosistem yang memungkinkan mereka mengembangkan gagasan dan terlibat dalam berbagai aktivitas.

Organisasi mahasiswa menjadi salah satu ruang yang diperkenalkan. Ada himpunan mahasiswa program studi, Badan Semi Otonom (BSO), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Di ruang-ruang inilah mahasiswa dapat mengasah minat, bakat, kreativitas, kemampuan berorganisasi sekaligus membangun pengalaman sosial selama menempuh pendidikan.

Kehidupan kampus yang diperkenalkan Unisma juga tidak dilepaskan dari identitas keislamannya. Salat berjamaah menjadi bagian dari pembiasaan mahasiswa dalam menjalani kehidupan di lingkungan perguruan tinggi.

Dengan demikian, gagasan tentang mahasiswa yang bermanfaat ditempatkan pada beberapa ruang sekaligus: akademik, organisasi, sosial dan religius.

Pesan tersebut dibawa kepada lebih dari 4.000 mahasiswa baru Unisma pada tahun akademik 2026/2027. Jumlah itu mencakup mahasiswa dari berbagai program pendidikan. Sementara mahasiswa pendidikan profesi, terutama mereka yang memperoleh beasiswa pemerintah, masih dalam proses penerimaan.

“Unisma menerima lebih dari 4.000 mahasiswa, karena untuk yang pendidikan profesi, terutama yang beasiswa, itu kan masih berproses di pemerintah,” ujar Junaidi.

Untuk jenjang akademik S1 dan S2, mahasiswa baru yang diterima berada di kisaran hampir 3.000 orang. Jumlah mahasiswa reguler relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun perubahan jumlah pada mahasiswa profesi lebih banyak berkaitan dengan kebijakan serta penempatan pemerintah, khususnya pada program profesi pendidikan guru.

Keragaman mahasiswa baru juga terlihat dari asal negaranya. Tahun ini terdapat 37 mahasiswa internasional yang telah terdaftar di Unisma, di luar peserta program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

Belum seluruh mahasiswa internasional tersebut berada di Indonesia. Sebagian masih menyelesaikan proses perizinan masuk dan visa. Sekitar 10 hingga 11 mahasiswa yang telah menyelesaikan proses visa sudah hadir secara langsung mengikuti Oshika.

Sementara itu, Unisma masih membuka proses rekrutmen peserta BIPA. Program tersebut menggunakan dua pola pembelajaran. Peserta dapat belajar secara langsung di Unisma atau mengikuti pembelajaran secara daring dari negara masing-masing.

Oshika Maba 2026 kemudian disusun dalam tiga tahap sesuai karakteristik mahasiswa. Tahap pertama ditujukan bagi mahasiswa reguler S1 dan dilaksanakan secara luring. Tahap kedua diperuntukkan bagi mahasiswa Pascasarjana dan peserta Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), juga secara luring.

Adapun mahasiswa program profesi mengikuti tahap ketiga secara daring. Skema ini berkaitan dengan proses penerimaan mahasiswa profesi yang sebagian masih menunggu tahapan dari pemerintah.

Di balik rangkaian tersebut, pelaksanaan Oshika Maba melibatkan hampir seluruh unsur kehidupan kampus. Pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, BEM, DPM, himpunan mahasiswa program studi, BSO hingga UKM terlibat dalam proses penyambutan mahasiswa baru.