JATIMTIMES - Tidak banyak orang di luar Malang yang mengenal Ketawanggede sebagai sebuah kampung. Namanya kalah populer dibanding kawasan kampus yang mengelilinginya. Padahal, di balik padatnya aktivitas mahasiswa dan perguruan tinggi di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, ada kampung yang setiap hari memiliki denyut ekonomi sendiri. Warung, usaha makanan, jasa, pedagang rumahan hingga pelaku UMKM hidup berdampingan dengan mahasiswa dan masyarakat pendatang.

Kehidupan itu kemudian mendapat panggung lebih besar melalui Festival Kampoeng Budoyo Ketawanggede. Festival yang memasuki penyelenggaraan keempat pada 25-28 September 2026 tersebut menjadikan kawasan permukiman sebagai ruang ekonomi sekaligus ruang sosial. Lebih dari 200 stan kuliner dan jajanan tradisional dibuka, sementara sekitar 230-an pelaku UMKM ikut berjualan.

1

Pada hari ketiga, Minggu (27/9/2026), kawasan festival dipenuhi ratusan pengunjung. Akumulasi kunjungan selama penyelenggaraan disebut telah mencapai puluhan ribu orang. Keramaian itu memiliki arti berbeda bagi warga. Pengunjung yang datang bukan hanya menyaksikan pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi konsumen bagi produk yang dijajakan warga. Dengan kata lain, Kampoeng Budoyo menciptakan pasar di tengah kampung.

Ketua RW 02 Ketawanggede, Firman Qusnul Arif, mengatakan geliat ekonomi warga memang menjadi salah satu tujuan utama keterlibatan masyarakat dalam festival tersebut.

"Di bawah binaan saya ada sekitar 90 UMKM. Tujuannya untuk meningkatkan ekonomi mereka. 90 UMKM ini warga Ketawanggede asli semua. Tiga bulan sebelum Kampoeng Budoyo kami sudah sering koordinasi, termasuk pendataan," ujar Firman.

2

Persiapan itu menunjukkan bahwa pelibatan UMKM bukan sekadar mengisi stan ketika festival berlangsung. Warga melakukan pendataan dan koordinasi sejak sekitar tiga bulan sebelumnya agar pelaku usaha lokal dapat mengambil bagian.

Jumlahnya pun tidak kecil. Jika seluruh peserta dihitung, sekitar 230-an UMKM terlibat dalam gelaran tahun ini.

Besarnya arus pengunjung kemudian menjadi peluang ekonomi. Firman memperkirakan UMKM di lingkungan RW 02 saja dapat mencatat perputaran transaksi hingga ratusan juta rupiah selama empat hari. "Kalau UMKM saya saja bisa ratusan juta dalam empat hari," katanya.

Ketua Kampoeng Budoyo Ketawanggede, Yanto Catur, mengatakan ekonomi warga memang sengaja ditempatkan sebagai bagian penting dari desain festival. Porsi UMKM lokal dibuat lebih besar dibandingkan peserta dari luar Ketawanggede.

3

"Terutama perekonomian. Kita ngangkat UMKM, ngangkat ekonominya warga semua. Untuk UMKM persentasenya memang kita lebihkan untuk warga sendiri, sisanya 35 persen untuk warga Malang Raya," ujar Yanto.

Skema tersebut membuat festival tidak hanya menjadi ruang konsumsi budaya, tetapi juga mempertemukan keramaian dengan aktivitas perdagangan masyarakat.

Kuliner dan jajanan tradisional menjadi salah satu magnetnya. Pengunjung datang untuk menikmati suasana kampung tempo dulu, tetapi pada saat yang sama berhadapan langsung dengan produk yang dibuat dan dijual warga. Ekonomi kemudian bertemu dengan budaya.

Kampoeng Budoyo #4 mengusung tema Colorful Urban Culture. Setiap RW membawa representasi budaya berbeda. RW 02 mengangkat nuansa Bali, RW 03 Madura, RW 04 Jawa Barat atau Sunda, sementara RW lainnya membawa identitas budaya masing-masing.

Ketua Kampoeng Budoyo Ketawanggede, Yanto Catur, mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat untuk memperlihatkan keberagaman sekaligus memperkuat hubungan sosial antarwarga.

"Tujuan awal Kampoeng Budoyo itu menyatukan. Kita memamerkan ke kelurahan-kelurahan sekitar Ketawanggede guyub rukunnya. Ketawanggede itu sudah dikelilingi kampus-kampus, tapi di luaran sana masih banyak orang belum memahami Ketawanggede," kata Yanto.

Lanjut Yanto, penguatan identitas kampung menjadi penting karena Ketawanggede berada di kawasan yang sangat dekat dengan kehidupan perguruan tinggi. Bahkan keberadaan Universitas Brawijaya secara administratif berada di wilayah Kelurahan Ketawanggede. Namun, nama kampus sering kali lebih dikenal daripada nama kampungnya.

Kampoeng Budoyo kemudian digunakan warga sebagai cara untuk mengubah situasi tersebut. Keramaian festival membawa nama Ketawanggede keluar dari gang-gang permukiman dan mempertemukannya dengan masyarakat yang datang dari berbagai wilayah.

"Alhamdulillah dengan adanya Kampoeng Budoyo, Ketawanggede sudah didengar orang, sudah tahu. Brawijaya sekarang orang menyebutnya, 'Brawijaya, oh di Ketawanggede ya'," ujar Yanto.

Ada pula misi sosial yang berjalan di belakang geliat ekonomi tersebut. Seluruh warga Ketawanggede didorong terlibat. Bahkan antusiasme pemuda disebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Generasi muda ikut mengambil bagian dalam persiapan dan pelaksanaan festival, sehingga kegiatan tidak hanya menjadi ruang bagi kelompok warga yang lebih senior.

Keterlibatan pemuda menjadi bagian penting dari regenerasi. Mereka mendapat ruang untuk mengelola kegiatan, mengekspresikan kreativitas, sekaligus berinteraksi dengan warga dari berbagai latar belakang. Situasi itu semakin relevan karena Ketawanggede merupakan kawasan yang berhadapan langsung dengan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Firman mengatakan keberagaman tersebut sengaja diakomodasi melalui konsep festival. "Warna-warni kebudayaan. Kebudayaan di sini kan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Biar kegiatan mereka merasa seperti di rumah sendiri. Meskipun tidak pulang ke kelahirannya, tapi sudah merasa di kampung sendiri," tuturnya.

Pesan yang ingin dibangun warga adalah Ketawanggede sebagai kampung yang terbuka. "Warga Ketawanggede ini biar dianggap ramah, menghormati suku mana pun dari seluruh Indonesia," lanjut Firman.

Dari sisi budaya, sekitar 10 jenis hiburan turut mengisi festival. Keroncong, reggae, dangdut, perkusi, rock hingga musik Jawa hadir bergantian. Tidak semuanya datang dari luar. Sebagian justru lahir dari warga sendiri.

"Perkusi warga saya, khususnya warga RW 2," ujar Firman.

Model festival seperti ini sebenarnya bukan muncul dalam satu malam. Kampoeng Budoyo Ketawanggede telah berkembang dari penyelenggaraan sebelumnya. Pada 2023, festival kampung tersebut tercatat menghadirkan sekitar 50 stan. Pada penyelenggaraan 2025, jumlah partisipan meningkat menjadi sekitar 150. Tahun ini, skalanya kembali membesar dengan sekitar 230-an UMKM yang terlibat.

Perkembangan tersebut memperlihatkan perubahan fungsi festival. Dari ruang pertunjukan budaya, Kampoeng Budoyo berkembang menjadi ruang pertemuan antara ekonomi warga, aktivitas sosial, kreativitas pemuda dan keberagaman budaya.

Persoalan berikutnya berada pada keberlanjutan.
Semakin besar skala kegiatan, semakin besar pula kebutuhan pembiayaannya. Selama ini, menurut Yanto, penyelenggaraan Kampoeng Budoyo masih banyak mengandalkan partisipasi warga.

Ia berharap pemerintah mulai memberikan dukungan pembiayaan yang lebih konkret, terutama jika Kampoeng Budoyo ingin terus digelar sebagai agenda tahunan.

"Harapan kita fresh money. Bagaimana caranya supaya tetap berlanjut Kampoeng Budoyo ini untuk selanjutnya, per tahunnya," kata Yanto.

Ia berharap dukungan pemerintah dapat masuk dalam anggaran tahunan untuk penyelenggaraan kegiatan. "Tahun depan ini harus 100 persen dari pemerintah, minimal 50 persen," ujarnya.