JATIMTIMES - Departemen Matematika Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) membawa inovasi teknologi ke pembelajaran matematika sekolah dasar melalui Lantai Pintar Geometri. Perangkat berbasis Arduino itu dirancang untuk membantu siswa memahami konsep geometri melalui pengalaman langsung, bukan sekadar menghafal rumus.

Inovasi tersebut diperkenalkan di SDN Giripurno 01 Batu dalam program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), belum lama ini. Guru dan siswa tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai perangkat, tetapi juga mencoba langsung berbagai mode pembelajaran yang tersedia.

Ketua Tim PKM, Dr. Sa’adatul Fitri, M.Sc., mengatakan pengembangan Lantai Pintar Geometri berangkat dari persoalan yang cukup mendasar dalam pembelajaran matematika, yakni kesenjangan antara kemampuan mengingat rumus dan pemahaman terhadap konsep.

1

“Anak-anak sering kali dapat menghafalkan rumus, tetapi belum tentu memahami alasan di balik rumus tersebut. Karena itu, kami mencoba menghadirkan media yang memungkinkan mereka melihat, mencoba, mengubah bentuk, dan memahami konsep melalui pengalaman langsung,” ujar Sa’adatul.

Pendekatan yang digunakan dalam perangkat tersebut mengacu pada filosofi Realistic Mathematics Education (RME). Konsep matematika yang abstrak diterjemahkan ke dalam aktivitas fisik sehingga siswa dapat mengamati hubungan antara bentuk, luas, keliling, alas, dan tinggi.

Salah satu fitur yang menjadi perhatian adalah Mode Transformasi. Siswa dapat memindahkan ubin untuk mengubah bentuk bangun tanpa mengubah jumlah satuan penyusunnya.

Melalui proses tersebut, siswa dapat mengamati bahwa bentuk suatu bangun dapat berubah sementara luasnya tetap. Konsep yang biasanya diterangkan melalui rumus kemudian diperlihatkan melalui aktivitas konkret.

2

“Yang ingin kami bangun bukan hanya kemampuan menghitung, tetapi pemahaman. Ketika siswa sendiri yang menyusun dan mengubah bentuk, mereka memiliki kesempatan untuk menemukan hubungan matematis yang sebelumnya mungkin hanya mereka terima dalam bentuk rumus,” kata Sa’adatul.

Lantai Pintar Geometri memiliki tujuh mode pembelajaran. Selain Mode Transformasi, terdapat Mode Bebas untuk eksplorasi, Mode Keliling, Mode Alas dan Tinggi, Mode Stensil, Mode Target Luas, serta Mode Target Keliling.

Dari sisi teknologi, perangkat menggunakan papan grid berukuran 9 x 17 sentimeter yang terbagi menjadi empat baris dan delapan kolom. Sebanyak 32 sensor cahaya atau LDR digunakan untuk membaca posisi ubin melalui multiplexer.

3

Sistem tersebut juga dilengkapi 32 LED sebagai umpan balik visual, Arduino Uno R3 sebagai pusat pengolahan data, serta LCD yang menampilkan nilai luas dan keliling secara real-time.

Mekanisme penggunaan dibuat sederhana. Satu tombol putar digunakan untuk mengakses fungsi perangkat. Tekanan singkat berfungsi memilih atau mengganti mode, sedangkan tekanan panjang digunakan untuk keluar dari mode.

Menurut Sa’adatul, kesederhanaan pengoperasian menjadi bagian penting dalam pengembangan media pembelajaran tersebut agar teknologi tidak justru menjadi hambatan bagi guru.

“Media pembelajaran berbasis teknologi harus tetap mudah digunakan oleh guru. Kami ingin teknologi hadir sebagai alat bantu pedagogis, bukan menambah persoalan baru dalam proses pembelajaran,” tuturnya.

Dalam pelaksanaannya, tim PKM terlebih dahulu memberikan sosialisasi kepada kepala sekolah dan 10 guru SDN Giripurno 01 Batu. Guru mendapatkan penjelasan mengenai konsep alat sekaligus melakukan praktik pengoperasian.

Setelah itu, perangkat digunakan bersama siswa. Sebanyak 39 siswa mengikuti sesi sosialisasi, sementara 10 siswa memperoleh kesempatan mencoba secara langsung tujuh mode pembelajaran yang tersedia.

Respons siswa terlihat terutama ketika mereka menggunakan Mode Bebas dan Mode Transformasi. Umpan balik berupa cahaya dan suara membuat siswa dapat langsung mengetahui respons perangkat terhadap susunan ubin yang mereka buat.

Lanjutnya, bagi Departemen Matematika FSTeM UB, pengembangan Lantai Pintar Geometri juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan riset, teknologi, dan kebutuhan pembelajaran di sekolah.

“Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan pengetahuan di lingkungan kampus. Pengetahuan tersebut perlu diterjemahkan menjadi inovasi yang bisa digunakan dan dirasakan manfaatnya di sekolah,” ujar Sa’adatul.

Pada akhir kegiatan, Sa’adatul menyerahkan perangkat Lantai Pintar Geometri kepada pihak SDN Giripurno 01 Batu untuk digunakan sebagai media pembelajaran matematika.

Program tersebut juga dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDG) 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 8 melalui penguatan kompetensi pendidik, serta SDG 17 melalui kemitraan antara perguruan tinggi dan sekolah dasar.