JATIMTIMES - Gelaran Pragaan Fair 2025 dan Parade Tong-tong Serek di Sumenep menuai sorotan tajam. Pasalnya, agenda tahunan ini dinilai gagal menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi lokal, termasuk UMKM.

Hal itu didasarkan pada temuan investigasi media ini di lapangan, yang menunjukkan 80 persen pelaku UMKM dari luar, sisanya dari Kabupaten Sumenep, khususnya Kecamatan Pragaan.

Kondisi ini merupakan pengaruh dari biaya sewa stan yang dinilai mahal oleh masyarakat. Bahkan, terdapat pedagang mengundurkan diri dari even yang digadang sebagai pemantik aktivitas usaha di daerah setempat.

Menanggapi kondisi tersebut, DPRD Sumenep, Irwan Hayat, menyayangkan kesempatan yang harus dirasakan masyarakat lokal.

"Mestinya didominasi dan dinikmati oleh UMKM Kabupaten Sumenep, khususnya di Pragaan, karena acaranya di sini," tuturnya.

Politisi PKB itu juga menyoroti harga sewa stan yang dinilai memberatkan pelaku UMKM setempat. Menurutnya, mestinya disesuaikan dengan kondisi ekonomi para pelaku usaha kecil. Kata dia, pagelaran ini bukan bersifat tetap, hanya musiman. Seharusnya, keuntungan tidak hanya mengandalkan biaya lapak dagang.

“Bagaimana kemudian kita mempromosikan produk UMKM kita kalau ini berat,” lanjutnya.

Berkenaan dengan mundurnya pelaku UMKM lokal akibat beban sewa pos jualan, Irwan membuka ruang klarifikasi atas temuan wartawan kepada leading sektor kegiatan. Bahkan, ia mempersilahkan mengkritik jika pihak pelaksana tidak transparan. “Silahkan lakukan bentuk kritik,” tandasnya.

Media ini juga telah mengonfirmasi terkait pandangan Irwan Hayat kepada Camat Pragaan, Indra Hermawan dan Ahmad Fikri, sebagai pihak yang mengampu kegiatan Pragaan Fair 2025 dan Parade Tong-tong Serek. Namun, hingga berita ini ditayangkan, keduanya belum memberikan tanggapan.