JATIMTIMES - Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di MIN 1 Kota Malang bertumpu pada upaya mengintegrasikan nilai Panca Cinta ke dalam proses pembelajaran dan budaya madrasah. Pendekatan ini menjadi salah satu aspek yang belum lama ini disoroti dalam monitoring tim Kelompok Kerja Pengawas Madrasah (Pokjawas) Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Timur.

Sebagai salah satu madrasah pilot project KBC, MIN 1 Kota Malang mengembangkan penerapan kurikulum tersebut melalui pembelajaran yang dipadukan dengan pendekatan deep learning. Implementasinya tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui program dan pembiasaan yang membentuk kehidupan sehari-hari di lingkungan madrasah.

Kepala MIN 1 Kota Malang, Hj. Siti Aisah, S.Ag., M.Pd., memaparkan penerapan Panca Cinta dan pendekatan deep learning di hadapan tim monitoring yang dipimpin Dra. Choyatin Nasucha, M.Pd. Pemaparan tersebut mencakup bagaimana konsep KBC diterapkan dalam pembelajaran serta dikembangkan melalui budaya madrasah.

Aspek penerapan inilah yang menjadi perhatian dalam kunjungan tim pengawas. Setelah mendengarkan penjelasan kepala madrasah, tim meninjau sejumlah ruang kelas untuk melihat proses pembelajaran dan mengamati budaya madrasah ramah anak. Sarana dan prasarana pendukung pendidikan juga menjadi bagian dari peninjauan.

Lanjut Aisah, penerapan KBC tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan pendekatan pembelajaran tertentu. Integrasi nilai Panca Cinta ke dalam kegiatan pendidikan dan budaya madrasah menjadi bagian dari implementasi yang ingin dilihat secara langsung oleh tim pengawas.

Choyatin mengatakan, kunjungannya ke MIN 1 Kota Malang justru diarahkan untuk mempelajari praktik yang telah berjalan di madrasah tersebut. Ia menilai status sebagai madrasah percontohan membuat pengalaman implementasi KBC di MIN 1 Kota Malang relevan untuk menjadi bahan pembelajaran bagi lembaga pendidikan lainnya.

“Alhamdulillah, saya mendapat penugasan di sini. Ini kan tempat belajar yang menjadi rujukan nasional. Jadi nanti saya akan mendapatkan oleh-oleh banyak dan saya akan menularkan virus kebaikan yang ada di sini,” ujar Choyatin saat memberikan penjelasan di Laboratorium IPAS MIN 1 Kota Malang.

Ia menegaskan, monitoring bukan ditujukan untuk mencari kesalahan, melainkan menggali praktik baik yang dapat dipelajari dan dikembangkan lebih luas.

“Jadi saya tidak mencari kesalahan di sini. Insyaallah, di sini tempatnya kebaikan. Yang ada di madrasah piloting ini nanti akan kita lihat dan kita pelajari,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Pokjawas Kemenag Kota Malang, Dra. Chusnul Chotimah, M.Ag., menekankan pentingnya sinergi pengawas tingkat provinsi dan kota dalam menjaga mutu pembelajaran. Pengawasan tersebut berkaitan dengan konsistensi penerapan pembelajaran yang humanis dan sesuai dengan prinsip Kurikulum Berbasis Cinta.

Setelah meninjau pembelajaran, budaya madrasah ramah anak, serta sarana pendukung, Choyatin menyampaikan apresiasi terhadap penerapan KBC di MIN 1 Kota Malang. Praktik yang dilihatnya dinilai sejalan dengan semangat kurikulum tersebut.

Ia berharap pengalaman MIN 1 Kota Malang dalam menerapkan Panca Cinta dan mengintegrasikannya dengan pendekatan deep learning dapat terus dikembangkan serta menjadi referensi bagi madrasah lain yang tengah menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta.