JATIMTIMES - Hati memiliki peran penting dalam menentukan sikap dan perilaku seseorang. Dari hati, seseorang belajar membedakan yang baik dan buruk, menerima nasihat, serta mempertimbangkan tindakannya terhadap orang lain. Ketika hati terjaga, perilaku pun lebih mudah diarahkan pada kebaikan.
Sebaliknya, hati yang dipenuhi sifat tercela dapat membuat seseorang sulit mengakui kesalahan, enggan menerima kebenaran, bahkan merasa dirinya selalu benar.
Kerusakan hati sering kali datang perlahan, tanpa disadari. Kebiasaan buruk yang terus dipelihara, sikap yang enggan dikoreksi, hingga kelalaian dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT dapat memengaruhi kejernihan batin. Jika dibiarkan, keadaan ini membuat seseorang semakin jauh dari nasihat dan sulit memperbaiki diri.
Khutbah Jumat kali ini mengulas enam perkara yang dapat merusak hati dan menghalangi seseorang dari kebaikan. Pembahasan ini menjadi pengingat agar setiap Muslim tidak hanya memperhatikan perilaku yang tampak, tetapi juga merawat kebersihan batin. Sebab, memperbaiki diri perlu dimulai dengan keberanian memeriksa hati dan meninggalkan sifat-sifat buruk yang masih bersemayam di dalamnya.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي شَرَحَ صُدُوْرَ الْمُوَفَّقِيْنَ بِأَلْطَافِ بِرِّهِ وَآلَائِهِ، وَنُوْرِ بَصَائِرِهِمْ بِمُشَاهَدَةِ حُكْمِ شَرْعِهِ وَبَدِيْعِ صَنْعِهِ وَمُحْكَمِ آيَاتِهِ، وَأَلْهَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى، وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا، فَسُبْحَانَهُ مَنْ إِلَهٌ عَظِيْمٌ، وَتَبَارَكَ مَنْ رَبٌ وَاسِعٌ كَرِيْمٌ، وَأَشْهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، فِي أَسْمَائِهِ، وَصِفَاتِهِ، وَأَفْعَالِهِ، وَخَيْرَاتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَشْرَفُ رُسُلِهِ وَخَيْرِ بَرِيَاتِهِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ فِي غَدَوَاتِ الدَّهْرِ وَرُوحَاتِهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ. وَقَالَ النَّبيُّ صَلَّى اللهِ علَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ الْحَبِيْبُ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرينَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita mengawali khutbah ini dengan bersyukur kepada Allah SWT. Atas kemurahan dan kasih sayang-Nya, kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara, merasakan nikmat kesehatan, serta berkumpul di rumah-Nya untuk menunaikan salat Jumat. Lebih dari itu, semoga Allah senantiasa menjaga iman dan Islam yang menjadi bekal kita dalam menjalani kehidupan hingga akhir hayat.
Selawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti ajaran beliau hingga hari kiamat.
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan seluruh jemaah: marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, takwa bukan sekadar sesuatu yang kita ucapkan, melainkan harus tumbuh dalam hati dan tampak melalui perilaku sehari-hari.
Jemaah yang dimuliakan Allah,
Pernahkah kita memikirkan keadaan hati sendiri? Kita mungkin begitu teliti menjaga kesehatan tubuh, memilih makanan yang baik, berusaha cukup beristirahat, dan segera berobat ketika merasakan sakit. Namun, apakah perhatian yang sama juga kita berikan kepada hati?
Padahal, hati memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Dari hati tumbuh niat, dari niat lahir tindakan, dan dari tindakan itulah terlihat bagaimana seseorang menjalani kehidupannya. Hati yang terjaga akan menuntun pemiliknya kepada kebaikan.
Sebaliknya, hati yang dibiarkan kotor dapat membuat seseorang terbiasa melakukan kesalahan, bahkan tanpa merasa bersalah.
Rasulullah SAW telah mengingatkan hal ini dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat An-Nu'man bin Basyir RA:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh jasad akan menjadi baik. Jika ia rusak, seluruh jasad juga akan rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari nomor 52 dan Muslim nomor 1599).
Hadis ini mengajak kita memahami bahwa memperbaiki diri perlu dimulai dari dalam. Seseorang bisa saja terlihat baik di hadapan orang lain, rajin beribadah, dan pandai berbicara tentang agama. Namun, semua itu perlu diiringi dengan hati yang tulus, rasa takut kepada Allah, dan kesediaan untuk mengoreksi diri.
Karena itu, kita perlu terus memohon agar hati tidak berpaling dari jalan yang diridai-Nya. Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik.
Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Doa ini mengajarkan kerendahan hati. Kita tidak sepatutnya merasa telah aman dari kesalahan hanya karena hari ini masih rajin beribadah. Hati manusia dapat berubah. Karena itu, kita membutuhkan pertolongan Allah agar tetap istiqamah, sekaligus perlu menjaga diri dari kebiasaan yang perlahan-lahan mengikis kepekaan hati.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Dalam kitab Nashaihul 'Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani mengutip perkataan Hasan al-Bashri mengenai enam perkara yang dapat menyebabkan rusaknya hati. Keenam perkara ini layak menjadi bahan muhasabah, sebab sebagian di antaranya justru sering dianggap biasa dalam kehidupan sehari-hari.
Perkara pertama adalah sengaja berbuat dosa dengan harapan kelak bisa bertaubat.
Taubat memang selalu terbuka bagi hamba Allah yang ingin kembali ke jalan-Nya. Akan tetapi, kesempatan untuk bertobat tidak boleh dijadikan alasan untuk sengaja mengulangi kemaksiatan. Ada perbedaan antara orang yang terjatuh dalam dosa, lalu menyesal dan berusaha memperbaiki diri, dengan orang yang sejak awal merencanakan kemaksiatan karena merasa nanti bisa bertobat.
Sikap kedua menunjukkan bahwa seseorang mulai meremehkan dosa. Ia merasa kesalahannya tidak seberapa, menganggapnya sebagai perkara kecil, lalu mengulanginya tanpa rasa takut kepada Allah.
Padahal, sesuatu yang terlihat ringan bagi manusia belum tentu ringan di hadapan Allah. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Anas bin Malik RA:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُوبِقَاتِ
Artinya: “Dari Anas RA, ia berkata, sesungguhnya kalian melakukan berbagai amalan yang kalian anggap lebih tipis daripada rambut. Namun, pada masa Nabi SAW, kami menganggapnya sebagai perkara yang membinasakan.” (HR Bukhari nomor 6492).
Hadis tersebut mengingatkan kita agar tidak mengukur dosa semata-mata berdasarkan besar atau kecilnya kesalahan menurut pandangan sendiri. Perkataan yang menyakiti orang lain, kebohongan yang dianggap sepele, mengambil hak orang lain, atau membuka aib sesama bisa menjadi kebiasaan buruk apabila terus dibiarkan.
Ibnu Baththal menjelaskan:
الْمُحَقَّرَاتُ إِذَا كَثُرَتْ صَارَتْ كِبَارًا مَعَ الْإِصْرَارِ
Artinya: “Dosa-dosa yang dianggap remeh, apabila jumlahnya banyak dan terus dilakukan, dapat menjadi besar.”
Jemaah yang dirahmati Allah,
Jangan menunggu sampai hati benar-benar keras untuk mulai memperbaiki diri. Ketika berbuat salah, segeralah mengakui kesalahan, memohon ampun, dan berusaha tidak mengulanginya. Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari alasan untuk membenarkan perbuatan sendiri, padahal hati kecil kita mengetahui bahwa perbuatan itu tidak diridai Allah.
Perkara kedua adalah memiliki ilmu, tetapi enggan mengamalkannya.
Islam menempatkan ilmu pada kedudukan yang mulia. Melalui ilmu, kita dapat membedakan yang benar dan yang keliru, memahami kewajiban, serta mengetahui bagaimana seharusnya menjalani kehidupan. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Anas bin Malik RA:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR Ibnu Majah nomor 224).
Namun, jemaah sekalian, ilmu membutuhkan tindak lanjut berupa amal. Mengetahui kewajiban salat semestinya membuat kita menjaga salat. Memahami pentingnya kejujuran seharusnya menjauhkan kita dari kebohongan. Mengetahui larangan menggunjing semestinya membuat kita lebih berhati-hati ketika berbicara tentang orang lain.
Jangan sampai ilmu hanya berhenti di lisan dan ingatan. Kita mampu menjelaskan banyak dalil, tetapi perilaku sehari-hari tidak mencerminkan apa yang telah dipelajari.
Malik bin Dinar berkata sebagaimana dikutip dalam kitab Hilyatul Auliya':
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْعَمَلِ وَفَّقَهُ اللهُ، وَمَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِغَيْرِ الْعَمَلِ يَزْدَادُ بِالْعِلْمِ فَخْرًا
Artinya: “Barang siapa mencari ilmu untuk diamalkan, Allah akan memberinya taufik. Sementara itu, barang siapa mencari ilmu bukan untuk diamalkan, ilmunya justru menambah kebanggaan pada dirinya.” (Hilyatul Auliya', 2:378).
Dalam perkataan lainnya, Malik bin Dinar juga menyampaikan:
إِذَا تَعَلَّمَ الْعَبْدُ الْعِلْمَ لِيَعْمَلَ بِهِ كَسَرَهُ عِلْمُهُ، وَإِذَا تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِغَيْرِ الْعَمَلِ بِهِ زَادَهُ فَخْرًا
Artinya: “Apabila seorang hamba mempelajari ilmu untuk diamalkan, ilmunya akan membuatnya semakin merendah. Namun, apabila ia mempelajari ilmu tanpa tujuan mengamalkannya, ilmunya justru menambah kebanggaan diri.” (Hilyatul Auliya', 2:372).
Dari sini kita belajar bahwa ilmu yang bermanfaat semestinya melahirkan kerendahan hati. Semakin banyak yang kita ketahui, semakin besar pula kesadaran bahwa masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki.
Maka, mari bertanya kepada diri sendiri: setelah sekian lama belajar agama, perubahan baik apa yang sudah kita lakukan? Apakah kita semakin santun kepada keluarga? Semakin jujur dalam pekerjaan? Semakin berhati-hati menjaga lisan? Jika belum, jangan berhenti belajar. Mulailah mengamalkan ilmu dari perkara kecil yang dapat kita lakukan hari ini.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Perkara ketiga adalah beramal tanpa keikhlasan.
Setiap kebaikan memiliki nilai yang luhur. Membantu tetangga, menyantuni orang yang membutuhkan, mengajar, bersedekah, dan melayani masyarakat merupakan perbuatan yang patut kita syukuri. Akan tetapi, kita perlu memeriksa niat yang melandasinya.
Apakah kita berbuat baik karena mengharap rida Allah, atau karena ingin mendapat pujian? Apakah kita tetap bersedia membantu ketika tidak ada yang melihat? Apakah kita tetap berbuat baik ketika nama kita tidak disebut dan jasa kita tidak dihargai?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting, sebab penyakit hati terkadang menyusup ke dalam amal yang tampak baik. Seseorang mungkin rajin membantu, tetapi kecewa ketika tidak dipuji. Ia mungkin gemar bersedekah, tetapi hanya bersemangat ketika ada orang yang menyaksikan. Bahkan, kebaikan bisa berubah menjadi sarana untuk meninggikan diri di hadapan sesama.
Rasulullah SAW memberikan peringatan tegas tentang niat dalam beramal. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Umamah RA, seorang lelaki bertanya kepada beliau tentang orang yang berperang untuk mendapatkan pahala sekaligus ingin dikenal sebagai pahlawan. Rasulullah SAW menjawab bahwa orang tersebut tidak memperoleh apa yang diharapkannya, lalu menegaskan:
إِنَّ اللهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan kecuali amalan yang dilakukan dengan ikhlas karena-Nya dan ditujukan untuk mencari rida-Nya.”
Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah RA:
إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh dan rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian.” (HR Muslim).
Hadis ini bukan berarti penampilan dan tindakan lahiriah tidak penting. Pesannya adalah bahwa nilai seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh rupa atau penampilan semata. Hati dan niat memiliki kedudukan penting dalam menentukan nilai amal.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim juga dijelaskan bahwa amal seseorang tetap diketahui Allah, sekalipun dilakukan di tempat yang sangat tersembunyi. Tidak ada kebaikan yang luput dari pengetahuan-Nya.
Karena itu, jangan menjadikan pujian manusia sebagai bahan bakar utama untuk berbuat baik. Pujian bisa datang dan pergi. Penghargaan bisa diberikan atau dilupakan. Namun, amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah tidak bergantung pada penilaian manusia.
Marilah kita belajar menjaga niat, memperbaikinya sebelum beramal, saat melakukannya, dan setelah selesai mengerjakannya. Sebab, menjaga keikhlasan adalah pekerjaan hati yang perlu terus diperjuangkan.
Jemaah yang dimuliakan Allah,
Perkara keempat adalah menikmati rezeki dari Allah, tetapi melupakan rasa syukur.
Setiap hari kita menerima nikmat yang sering kali tidak sempat kita renungkan. Kita masih dapat bernapas, makan, minum, bekerja, berkumpul bersama keluarga, dan menjalankan ibadah. Ada pula nikmat berupa keselamatan, persahabatan, kesempatan belajar, serta pertolongan yang datang melalui orang lain.
Namun, manusia terkadang lebih mudah melihat apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang sudah ada. Ketika penghasilan bertambah, keinginan ikut meningkat. Ketika kebutuhan terpenuhi, muncul keinginan baru. Akibatnya, hidup terasa selalu kurang, meskipun banyak nikmat telah diterima.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dari An-Nu'man bin Basyir RA:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ
Artinya: “Barang siapa tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, ia tidak akan mampu mensyukuri nikmat yang banyak.” (HR Ahmad, 4:278).
Bagaimana seseorang dapat benar-benar menghargai kelimpahan apabila nikmat sederhana saja selalu diabaikan? Karena itu, syukur perlu dilatih dalam keadaan lapang maupun sempit. Syukur bukan berarti kita dilarang berusaha memperbaiki kehidupan. Kita tetap boleh bekerja keras, mengembangkan usaha, dan berharap memperoleh penghidupan yang lebih baik. Namun, semua ikhtiar itu hendaknya tidak membuat kita lupa kepada pemberi rezeki.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS Al-Baqarah: 172).
Allah juga berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS Ibrahim: 7).
Syukur tidak cukup diucapkan dengan kalimat alhamdulillah. Syukur juga perlu tampak dalam perbuatan: menggunakan rezeki untuk hal yang baik, menjauhi cara memperoleh harta yang haram, membantu orang yang kesulitan, dan tidak menghambur-hamburkan nikmat.
Jika hari ini kita masih memiliki makanan, mari bersyukur. Jika masih mempunyai pekerjaan, mari menjaganya dengan amanah. Jika masih dapat berkumpul dengan keluarga, manfaatkan kesempatan itu untuk menyayangi dan berbuat baik kepada mereka. Bisa jadi, nikmat yang kita anggap biasa justru menjadi sesuatu yang sangat dirindukan orang lain.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Perkara kelima adalah tidak menerima ketetapan Allah dan terus merasa kurang atas apa yang dimiliki.
Dalam ajaran Islam, sikap menerima karunia Allah dengan lapang dada dikenal sebagai qanaah. Qanaah bukan berarti bermalas-malasan, menyerah pada keadaan, atau berhenti berusaha. Qanaah berarti tidak membiarkan keinginan yang tidak ada habisnya menguasai hati.
Orang yang qanaah tetap bekerja, mencari rezeki yang halal, dan berusaha memperbaiki nasibnya. Namun, ia tidak menjadikan harta sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan. Ia memahami bahwa setiap orang memiliki jalan hidup, ujian, dan bagian rezeki yang berbeda.
Sebaliknya, ketamakan membuat seseorang terus mengejar lebih banyak tanpa pernah merasa cukup. Ketika melihat keberhasilan orang lain, ia gelisah. Ketika orang lain memperoleh sesuatu, ia merasa tertinggal. Bahkan, demi memenuhi keinginannya, seseorang bisa tergoda mengambil hak orang lain atau menghalalkan segala cara.
Rasulullah SAW bersabda:
الْقَنَاعَةُ كَنْزٌ لَا يَفْنَى
Artinya: “Qanaah adalah kekayaan yang tidak akan pernah habis.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam al-Ausath, 7:84).
Ungkapan tersebut mengandung pelajaran mendalam. Kekayaan tidak selalu diukur dari banyaknya harta yang tersimpan. Ada orang yang hartanya berlimpah, tetapi pikirannya selalu gelisah karena takut kehilangan. Ada pula orang yang hidup sederhana, tetapi hatinya lapang karena mampu menerima karunia Allah sembari terus berikhtiar.
Dalam kitab An-Nihayah fi Gharib al-Hadits karya Ibnu al-Atsir terdapat ungkapan:
عَزَّ مَنْ قَنَعَ، وَذَلَّ مَنْ طَمَعَ
Artinya: “Mulia orang yang qanaah, dan hina orang yang tamak.”
Jemaah yang dirahmati Allah,
Kita perlu berhati-hati agar tidak terus membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Apa yang terlihat dari luar belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan. Kemewahan yang tampak belum tentu membawa ketenangan, sebagaimana kesederhanaan tidak selalu berarti kekurangan.
Belajarlah menghargai apa yang telah Allah titipkan. Gunakan apa yang ada untuk memenuhi kebutuhan, menunaikan kewajiban, dan menebar manfaat. Jika menginginkan kehidupan yang lebih baik, tempuhlah jalan yang halal dan tetaplah bersyukur selama berproses.
Dengan qanaah, hati tidak mudah diperbudak oleh keinginan. Kita dapat bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa kehilangan ketenangan, serta menikmati rezeki tanpa melupakan tanggung jawab kepada Allah dan sesama.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Perkara keenam adalah menyaksikan kematian, tetapi tidak mengambil pelajaran darinya.
Setiap hari, kehidupan mengingatkan kita bahwa dunia ini tidak berlangsung selamanya. Ada orang yang kemarin masih bekerja dan bercengkerama bersama keluarga, tetapi hari ini telah dipanggil menghadap Allah. Ada yang usianya panjang, ada pula yang meninggal ketika masih muda. Ada yang wafat setelah sakit, ada juga yang pergi tanpa diduga sebelumnya.
Kematian tidak mengenal usia, kedudukan, kekayaan, maupun jabatan. Ketika waktunya tiba, semua manusia akan kembali kepada Allah. Karena itu, kematian semestinya membuat kita berhenti sejenak dari kesibukan dan bertanya: sudah sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah dunsetelahl
Allah SWT berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS Ali Imran: 185).
Ayat ini mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan hidup bukan semata-mata apa yang berhasil kita kumpulkan di dunia, melainkan bagaimana kita mempertanggungjawabkan kehidupan di hadapan Allah.
Rasulullah SAW juga bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ، يَعْنِي الْمَوْتَ
Artinya: “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian.” (HR At-Tirmidzi).
Mengingat kematian bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan, berhenti membangun keluarga, atau menjauhi urusan dunia. Justru kesadaran akan kematian semestinya membuat kita lebih bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan. Kita bekerja dengan jujur karena sadar akan dimintai pertanggungjawaban. Kita menjaga hubungan dengan keluarga karena tidak tahu berapa lama kesempatan itu tersedia.
Kita meminta maaf ketika bersalah karena tidak ingin membawa permusuhan hingga akhir hayat.
Orang yang mengingat kematian juga akan lebih berhati-hati dalam memperlakukan sesama. Ia sadar bahwa harta dan kedudukan akan ditinggalkan. Karena itu, ia tidak ingin menghabiskan hidup dengan menyakiti orang lain, menumpuk kebencian, atau mengejar dunia dengan mengabaikan akhirat.
Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang beriman yang paling baik adalah yang paling baik akhlaknya. Ketika ditanya mengenai orang beriman yang paling cerdas, beliau menjawab:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
Artinya: “Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelahnya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR Ibnu Majah).
Jemaah rahimakumullah,
Menghadiri pemakaman semestinya tidak berhenti pada mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Ada nasihat yang perlu kita bawa pulang. Ketika melihat seseorang dimakamkan, ingatlah bahwa suatu saat kita juga akan mengalami hal yang sama. Ketika mendengar kabar duka, gunakan kesempatan itu untuk memperbaiki hubungan dengan orang-orang yang masih hidup.
Jangan sampai kita begitu mudah terharu ketika menyaksikan kematian, tetapi kembali lalai beberapa saat kemudian. Jadikan setiap peristiwa sebagai pengingat untuk memperbanyak amal saleh, menjaga lisan, melunasi tanggungan, meminta maaf, dan menunaikan hak orang lain.
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Enam perkara yang telah kita renungkan hari ini mengajak kita melihat ke dalam diri sendiri: meremehkan dosa, tidak mengamalkan ilmu, beramal tanpa ikhlas, melupakan syukur, tidak merasa cukup atas karunia Allah, serta mengabaikan pelajaran dari kematian.
Kita tentu tidak luput dari kekurangan. Namun, jangan biarkan kekurangan itu membuat kita menyerah memperbaiki diri. Selama Allah masih memberi kesempatan hidup, pintu untuk kembali kepada-Nya tetap harus kita sambut dengan tobat, kesungguhan, dan harapan akan rahmat-Nya.
Mari kita mulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan kita. Jika ada dosa, segera bertobat. Jika memiliki ilmu, amalkan. Jika berbuat baik, luruskan niat. Jika memperoleh rezeki, syukuri. Jika melihat keberhasilan orang lain, jaga hati agar tidak dikuasai iri. Dan ketika menyaksikan kematian, ingatlah bahwa kehidupan ini adalah kesempatan untuk menyiapkan bekal menuju akhirat.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari penyakit yang menjauhkan diri dari-Nya, menguatkan langkah kita dalam kebaikan, serta menjadikan sisa umur kita lebih bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan agama. Amin Ya Rabbal Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا .. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِوَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ



