JATIMTIMES - Penambahan ruang kelas di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Kota Malang menjadi bagian dari pengembangan lingkungan belajar yang tidak hanya berorientasi pada kecukupan fasilitas. Infrastruktur pendidikan tersebut dinilai perlu berjalan beriringan dengan penguatan mutu pembelajaran, karakter, serta pendampingan siswa di tengah tantangan generasi saat ini.
Ruang kelas baru Tahun 2026 itu diresmikan pada Senin (28/9/2026). Peresmian ditandai pemotongan pita oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Malang Abdul Mughni, S.Ag., M.Pd., yang mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Malang K.H. Achmad Shampton, S.H.I., M.Ag.
Kepala MTsN 2 Kota Malang Anita Yusianti, M.Pd., menempatkan ruang kelas sebagai bagian dari proses pembentukan siswa, bukan sekadar fasilitas fisik.
“Ruang kelas bukan sekadar bangunan dan tempat belajar. Di sinilah ikhtiar kita menumbuhkan ilmu, adab, karakter, dan harapan masa depan anak-anak,” ujar Anita.
Ia menyampaikan apresiasi terhadap pihak yang terlibat dalam pembangunan tersebut. Ketua Komite MTsN 2 Kota Malang Sjahlan, BA., juga menyatakan komitmen komite untuk terus bersinergi dengan madrasah dalam peningkatan kualitas layanan pendidikan.
Sementara itu, kontraktor pelaksana Safrizal Bayu Purnama, S.T., berharap fasilitas yang telah dibangun dapat digunakan secara optimal untuk mendukung kenyamanan proses belajar mengajar.
Abdul Mughni menekankan bahwa peningkatan sarana pendidikan harus diikuti peningkatan kualitas pendidikan. Menurutnya, madrasah tidak cukup hanya memiliki ruang belajar yang memadai. Potensi siswa perlu dikembangkan melalui berbagai bidang, termasuk ibadah, akademik, budaya, seni, dan olahraga.
“Bangunan boleh semakin baik, tetapi yang paling penting adalah bagaimana anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang baik, berprestasi, berkarakter, dan memiliki kecintaan terhadap ilmu serta agamanya,” kata Abdul Mughni.
Ia juga mengaitkan pengembangan lingkungan madrasah dengan konsep ramah anak dan semangat Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Pendekatan tersebut menuntut proses pendidikan yang memperhatikan perkembangan siswa, termasuk aspek karakter dan relasi mereka dengan lingkungan pendidikan.
Perhatian tersebut semakin penting ketika madrasah menghadapi karakter generasi yang tumbuh di tengah perubahan sosial dan teknologi yang cepat. Abdul Mughni menyebut sebagian anak saat ini membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Ia mengibaratkannya dengan istilah generasi “strawberry”, yang membutuhkan perhatian, penguatan, dan pembinaan agar memiliki ketahanan dalam menghadapi tekanan dan tantangan.
Kondisi tersebut, menurutnya, tidak dapat ditangani hanya melalui proses pembelajaran di ruang kelas. Ekosistem pendidikan harus melibatkan kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, komite, serta unsur lain yang berkaitan dengan perkembangan siswa.
“Pendidikan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya.
Peresmian ruang kelas baru tersebut turut dihadiri jajaran Kantor Kementerian Agama Kota Malang, pimpinan MTsN 2 Kota Malang, komite, kontraktor pelaksana, serta perwakilan guru dan tenaga kependidikan.
Prosesi dilanjutkan dengan penandatanganan dokumen peresmian pembangunan ruang kelas baru Tahun 2026, doa, dan potong tumpeng.



