JATIMTIMES - Masyarakat Jawa Timur masih harus menunggu lebih lama untuk memasuki musim hujan secara merata. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan di Jawa Timur pada 2026 mengalami kemunduran hingga Desember.

Prediksi tersebut disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur BMKG, Anung Suprayitno, dalam paparannya melalui Zoom pada Selasa (29/9/2026). Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan pengaruh El Nino yang masih sangat kuat pada tahun ini.

"Awal musim hujan (di Jawa Timur) diprediksi mundur pada Desember 2026," kata Anung.

Meski musim hujan secara umum diperkirakan baru dimulai pada Desember, bukan berarti Jawa Timur akan sepenuhnya tanpa hujan selama Oktober dan November.

Anung menjelaskan, hujan lokal dengan intensitas sangat ringan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur. Namun, kondisi tersebut belum menandai masuknya musim hujan secara merata di seluruh wilayah.

BMKG mencatat sekitar 11,8 persen luas wilayah Jawa Timur mengalami kemunduran awal musim hujan hingga dua bulan.

"11,8% luas wilayah (di Jawa Timur) mengalami kemunduran (musim hujan) hingga 2 bulan," ujar Anung.

Mundurnya musim hujan ini menjadi salah satu dampak dari pengaruh El Nino yang sangat kuat pada 2026. Karena itu, sejumlah wilayah Jawa Timur masih perlu bersiap menghadapi kondisi kering yang berlangsung lebih panjang.

Selain memprediksi awal musim hujan, BMKG juga memperkirakan kapan periode puncak musim hujan di Jawa Timur akan berlangsung.

Anung menyebut puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Februari 2027. Curah hujan diperkirakan mulai meningkat sejak Januari dan berlangsung hingga Maret.

"Puncak musim hujan dipredikai Februari 2027 mendatang. Di mana curah hujan mulai meningkat sejak Januari, Februari, hingga Maret," terangnya.

Dengan demikian, peningkatan curah hujan yang lebih signifikan diperkirakan baru terasa memasuki awal 2027, dengan Februari menjadi periode curah hujan tertinggi.

BMKG juga memperkirakan karakteristik musim hujan 2026-2027 akan berbeda dibandingkan dua tahun terakhir.

Menurut Anung, musim hujan kali ini diprediksi berlangsung lebih pendek. Kondisi curah hujannya juga diperkirakan menyerupai musim 2023-2024 yang relatif lebih kering dibandingkan dua tahun sebelumnya.

"Curah hujan diprediksi mirip musim 2023-2024, jadi lebih kering dibanding dua tahun belakangan," tandasnya.

Prediksi tersebut menjadi perhatian karena masyarakat masih akan menghadapi periode kering sebelum musim hujan datang secara merata. Kondisi ini juga membuat penggunaan air perlu dilakukan secara lebih bijak.

Tips Hemat Air Saat Musim Kering

Menghadapi periode kering yang masih berlangsung hingga musim hujan tiba, masyarakat dapat mulai menghemat penggunaan air dalam aktivitas sehari-hari.

BMKG sebelumnya juga mengimbau masyarakat untuk menghemat air dan mendorong pemanfaatan air hujan dengan menampungnya menggunakan tandon atau bak penampung.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan di rumah antara lain:

• Gunakan air secukupnya saat mandi, mencuci, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya.

• Segera perbaiki keran atau pipa yang bocor agar air tidak terbuang percuma.

• Manfaatkan kembali air yang masih layak digunakan, misalnya untuk menyiram tanaman atau membersihkan halaman.

• Tampung air hujan ketika hujan lokal terjadi. Air yang terkumpul dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu, sesuai kondisi dan kebersihannya.

• Hindari penggunaan air secara berlebihan, terutama untuk aktivitas yang tidak mendesak.

Dengan musim hujan Jawa Timur yang diprediksi mundur hingga Desember 2026, langkah penghematan air tersebut dapat menjadi salah satu upaya sederhana untuk menghadapi periode kering yang masih berlangsung.

Masyarakat juga tetap disarankan mengikuti informasi dan pembaruan prakiraan cuaca serta musim dari BMKG agar dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca di masing-masing wilayah.