JATIMTIMES - Ketertarikan terhadap bahasa Indonesia membawa Afruza pada perjalanan akademik yang cukup jauh. Dari Uzbekistan, mahasiswi tersebut kini harus beradaptasi dengan lingkungan baru di Kota Malang setelah memilih Universitas Islam Malang (Unisma) sebagai tempat melanjutkan pendidikan.
Afruza tercatat sebagai mahasiswa baru Program S1 Pendidikan Bahasa Indonesia Unisma. Ketertarikannya terhadap bahasa dan kebudayaan Indonesia rupanya tidak muncul secara tiba-tiba. Minat tersebut tumbuh sejak dirinya masih menempuh pendidikan di Uzbekistan.
Salah satu titik penting yang memperkenalkan Afruza lebih dekat dengan Indonesia adalah kehadiran Prayitno, pengajar asal Unisma yang sempat mengajar di kampusnya di Uzbekistan. Dari interaksi akademik tersebut, ketertarikan Afruza terhadap bahasa dan budaya Indonesia semakin berkembang hingga akhirnya membawanya memilih kuliah di Malang.
“Saya memilih Unisma karena saya sangat tertarik dan menyukai bahasa serta budaya Indonesia. Lingkungan kampus ini sangat ramah, hangat, dan suasananya penuh persahabatan. Saya merasa sangat bahagia dan nyaman berada di sini,” ujar Afruza saat ditemui di sela rangkaian Oshika Maba 2026, Senin (28/9/2026).
Pilihan Afruza sekaligus memperlihatkan semakin terbukanya Unisma bagi mahasiswa dari berbagai negara. Pada tahun akademik 2026, terdapat 37 mahasiswa internasional yang diterima Unisma.
Mereka datang dari sejumlah negara dengan latar belakang berbeda, di antaranya Uzbekistan, Madagaskar, Suriname, Turki, Timor Leste, Sierra Leone dan Yaman.
Rektor Unisma, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D., mengatakan proses kedatangan mahasiswa internasional tersebut masih berlangsung. Sebagian mahasiswa telah menyelesaikan dokumen keimigrasian dan tiba di Malang, sedangkan mahasiswa lainnya masih menyelesaikan proses perizinan.
“Dari total mahasiswa luar negeri, sekitar 10 sampai 11 orang sudah menyelesaikan proses visanya dan hadir langsung di kampus, sedangkan yang lain sedang menuntaskan perizinan,” kata Prof. Junaidi.
Menurut dia, Unisma juga menyiapkan pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Program tersebut diberikan secara langsung bagi mahasiswa yang telah berada di Malang dan secara daring bagi mahasiswa internasional yang masih berada di negara asal.
Kehadiran mahasiswa dari berbagai negara itu berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan Oshika Maba 2026 yang diikuti lebih dari 4.000 mahasiswa baru.
Namun, orientasi mahasiswa baru tahun ini tidak hanya diarahkan pada pengenalan kehidupan akademik kampus. Unisma membawa gagasan perguruan tinggi yang memberikan dampak kepada masyarakat dengan memperkenalkan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Para mahasiswa baru diperkenalkan dengan isu-isu SDGs melalui karya kreatif sekaligus diarahkan untuk menyiapkan aksi pengabdian kepada masyarakat.
“Yang ditekankan pada Oshika Maba kali ini sejalan dengan kebijakan kementerian, yaitu perguruan tinggi berdampak. Kita menekankan spirit Unisma bermanfaat, Unisma berdampak nyata untuk kemaslahatan publik,” ujar Prof. Junaidi.
Pelaksanaan Oshika Maba 2026 sendiri berlangsung dalam tiga tahap. Tahap pertama untuk mahasiswa S1 reguler digelar 28-30 September 2026. Tahap kedua untuk mahasiswa Pascasarjana dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dijadwalkan Jumat, 2 Oktober 2026. Sementara mahasiswa program pendidikan profesi mengikuti kegiatan secara daring.



