JATIMTIMES - Koridor SMAN 2 Lamongan menjadi tempat yang penuh kenangan bagi Dr. dr. Moch. Yunus, M.Kes, AIFO-K. Puluhan tahun setelah meninggalkan sekolah tersebut, alumni angkatan 1984 itu kembali dalam rangkaian kunjungan "UM Menginspirasi" dalam rangka Dies Natalis ke-72 Universitas Negeri Malang (UM).
Dalam kunjungan tersebut, Yunus yang kini menjabat Dekan Fakultas Kedokteran UM memberikan orasi motivasi kepada siswa SMAN 2 Lamongan. Ia mengajak para siswa tidak minder dengan latar belakang daerah dan berani memasang cita-cita setinggi mungkin.
Di hadapan siswa, Yunus kembali mengingat masa ketika dirinya masih mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah tersebut.
"Adik-adik sekalian, berdiri di panggung ini membuat dada saya bergetar. Persis di tahun 1984, puluhan tahun sebelum kalian lahir, saya berdiri di tempat yang sama, memakai seragam putih-abu-abu yang persis sama dengan yang kalian kenakan hari ini," kata Yunus.
Ia mengatakan masa SMA di SMAN 2 Lamongan menjadi awal perjalanan panjangnya hingga bisa menempuh pendidikan kedokteran dan kemudian dipercaya memimpin Fakultas Kedokteran UM.
"Di koridor SMADA Lamongan inilah, perjalanan hidup saya dimulai," ujarnya.

Momen Dekan FK UM Dr. dr. Moch. Yunus, M.Kes, AIFO-K berbagi tips sukses di SMAN 2 Lamongan. (Foto: istimewa)
Yunus tidak datang sendirian ketika menempuh pendidikan. Saat bersekolah di SMAN 2 Lamongan, ia bertemu dengan seorang siswi yang kemudian menjadi istrinya.
"Kami berdua hanyalah anak daerah dari Lamongan yang memiliki mimpi besar. Kami tidak datang dari fasilitas yang serba ada, tetapi kami punya semangat yang tidak pernah padam. Kami saling mendukung dalam belajar," tuturnya.
Yunus kemudian menempuh pendidikan S1 Kedokteran dan S2 Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR). Pendidikan akademiknya berlanjut hingga jenjang doktoral dengan mengambil S3 Ilmu Keolahragaan di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Perjalanan tersebut mengantarkannya hingga menjadi Dekan Fakultas Kedokteran UM.
Sementara istrinya menempuh S1 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), kemudian melanjutkan S2 di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Pendidikan doktoralnya ditempuh di USM Penang, Malaysia. Kini, sang istri mengabdi sebagai dosen di FEB Universitas Brawijaya (UB).
"Semua pencapaian tingkat nasional hingga internasional ini, Adik-adik, benih utamanya ditanam di atas tanah sekolah tempat kalian duduk hari ini!" kata Yunus kepada para siswa.
Menurut Yunus, tantangan yang dihadapi siswa SMA saat ini berbeda dengan generasinya. Teknologi membuat informasi semakin mudah diakses, tetapi pada saat yang sama persaingan pendidikan tinggi juga dapat memunculkan kecemasan.
Sebagai dokter dan akademisi, ia mengatakan kerap menemukan kekhawatiran siswa terkait persaingan masuk perguruan tinggi negeri maupun Fakultas Kedokteran.
"Pak, persaingan masuk Fakultas Kedokteran atau PTN favorit itu ketat sekali," ujar Yunus menirukan kekhawatiran siswa.
Pertanyaan lain yang menurutnya juga sering muncul adalah soal kemampuan siswa dari daerah untuk bersaing dengan calon mahasiswa dari kota besar.
"Apakah saya yang berasal dari daerah ini cukup mampu bersaing dengan anak-anak dari kota besar?" lanjutnya.
Yunus meminta siswa tidak menjadikan keraguan terhadap kemampuan diri sebagai penghalang sebelum mencoba.
"Sering kali, musuh terbesar kita bukanlah soal seberapa sulit ujiannya, melainkan rasa ragu pada diri sendiri yang membuat kita kalah sebelum bertanding," tegasnya.
Ia kemudian mengajak siswa melihat kegiatan belajar di sekolah dari sudut pandang yang lebih luas.
Menurut Yunus, pelajaran Fisika, Matematika, Biologi dan Kimia bukan sekadar materi yang harus dikuasai demi nilai rapor. Begitu juga aktivitas olahraga yang dilakukan di sekolah.
"Setiap rumus Fisika dan Matematika yang kalian kerjakan, setiap bab Biologi dan Kimia yang kalian pelajari, hingga setiap tetes keringat saat kalian berolahraga di lapangan sekolah, semua itu bukan sekadar urusan meraih angka di rapor," ujarnya.
Ia menilai proses tersebut merupakan bagian dari pembentukan kemampuan berpikir dan ketahanan mental yang akan dibutuhkan ketika siswa melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.
"Ketekunan kalian hari ini adalah garis lurus yang menghubungkan mimpi kalian dengan jas dokter, seragam akademisi, pimpinan perusahaan, atau profesi hebat apa pun yang kalian cita-citakan!" kata Yunus.
Dalam orasinya, Yunus juga membagikan pengalaman ketika kuliah di FK UNAIR pada 1990. Dari sekitar 160 mahasiswa dalam satu angkatan, menurut Yunus hanya sekitar 20 mahasiswa yang dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu.
Ia menjadi salah satu mahasiswa yang berhasil lulus sesuai waktu yang ditargetkan. "Dan alhamdulillah, anak Lamongan alumni SMADA ini menjadi salah satu dari kelompok kecil tersebut," ungkapnya.
Selain pengalaman akademik, Yunus juga membawa cerita pengabdian ketika bertugas di Puskesmas Gayam, Pulau Sapudi, Sumenep.
Dari pengalaman tersebut, ia menyampaikan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik. Menurutnya, ketenangan menghadapi tekanan dan kondisi fisik yang terjaga juga berperan penting.
Yunus kemudian menjelaskan pengalaman menghadapi ujian dari perspektif neurologi.
Ia menggambarkan dua kondisi yang dapat terjadi ketika seseorang menghadapi tekanan, yakni panicked brain dan calm brain.
Dalam kondisi panik, bagian otak bernama amigdala berperan dalam merespons ancaman dan emosi. Respons stres kemudian dapat memengaruhi fungsi kognitif, termasuk kemampuan berkonsentrasi dan mengingat.
"Ketika masuk ruang ujian dengan rasa takut dan tertekan, bagian otak bernama Amygdala, pusat emosi dan alur ancaman, akan mengambil alih secara liar," jelas Yunus.
Ia mengatakan kondisi tersebut dapat membuat siswa kesulitan mengakses informasi yang sebenarnya sudah dipelajari.
"Itulah sebabnya kalian yang belajar sampai subuh bisa mendadak BLANK saat membuka soal. Pintu memori terkunci rapat oleh panik," ujarnya.
Sebaliknya, kondisi yang lebih tenang membantu seseorang menggunakan kemampuan berpikir dan mengambil keputusan dengan lebih baik.
"Pada saat menerapkan 'Paradigma Hal Biasa', kalian mengirim sinyal aman ke susunan saraf pusat. Amygdala ditenangkan, dan Prefrontal Cortex bekerja pada kapasitas 100%!" kata Yunus.
Yunus juga mengingatkan siswa agar tidak mengorbankan aktivitas fisik demi belajar sepanjang hari. Sebagai lulusan S3 Ilmu Keolahragaan UNESA, ia mengaitkan aktivitas fisik dengan fungsi otak.
Saat berolahraga, tubuh meningkatkan kerja sistem kardiovaskular sehingga aliran darah dan oksigen ke berbagai jaringan, termasuk otak, ikut meningkat.
Aktivitas fisik juga berkaitan dengan peningkatan faktor neurotropik seperti Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), yang berperan dalam proses neuroplastisitas dan fungsi jaringan saraf.
"Jadi, kombinasi antara Neurologi (Otak Tenang) dan Keolahragaan (Tubuh Bugar) adalah kunci utama saya lulus tepat waktu di FK UNAIR serta bertahan memimpin pengabdian medis di daerah terpencil Pulau Sapudi!" ujarnya.
Di akhir orasi, Yunus memberikan tiga hal yang menurutnya perlu diperhatikan siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pertama, siswa diminta membangun kemampuan menghadapi ujian dengan latihan active recall sekaligus melatih ketenangan mental.
"Kuasai Exam Immunity (Kekebalan Ujian): latih diri kalian dengan active recall dan bangun ketenangan mental. Kelola Amygdala kalian, ubah rasa takut menjadi kesiapan mental, dan hadirkan Otak Tenang saat ujian," pesannya.
Kedua, siswa diminta menjaga keseimbangan antara belajar dan kesehatan fisik. Ia menyarankan siswa tetap berolahraga, menjaga waktu tidur 6-8 jam dan memenuhi kebutuhan nutrisi.
Ketiga, siswa perlu memahami jalur masuk perguruan tinggi dan membuat strategi berdasarkan kemampuan masing-masing.
"Pelajari jalur SNBP, SNBT, maupun Mandiri dengan cermat. Ukur pemetaan nilai dan susun strategi terbaik untuk menembus Fakultas Kedokteran atau jurusan unggulan lainnya," katanya.
Yunus kemudian menutup orasinya dengan mengingatkan bahwa pendidikan yang ditempuh siswa tidak hanya untuk mendapatkan gelar atau masuk universitas ternama.
"Dampak dari perjuangan kalian hari ini bukan sekadar untuk bangga memakai jas almamater universitas ternama. Kalian sedang menempuh jalan untuk menjadi generasi pembawa perubahan bagi keluarga, daerah, dan bangsa ini," ujarnya.
Ia berharap para siswa SMAN 2 Lamongan dapat meneruskan prestasi para alumninya.
"Jika angkatan kami dulu dengan segala keterbatasannya bisa menembus batas tersebut, maka kalian yang memegang fasilitas jauh lebih modern hari ini, harus dan pasti bisa terbang jauh lebih tinggi!" pungkas Yunus.



