JATIMTIMES - Kebiasaan minum kopi, merokok hingga terlalu sering makan makanan asin kerap dianggap sebagai hal sepele. Padahal, jika dilakukan terus-menerus tanpa memperhatikan pola hidup secara keseluruhan, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit ginjal.
Hal ini ramai dibahas setelah akun Instagram @mithamarwah97 mendapat pertanyaan dari netizen mengenai penyebab gagal ginjal. "Kak penyebab gagal ginjal apasih? Biar buat pelajaran qta yang sehat," tulis seorang netizen.
Pemilik akun kemudian menjawab dengan menggambarkan sejumlah kebiasaan yang menurutnya perlu diwaspadai. "Ngopi, merokok, dikit2 obat, sakit dikit obat, cencu naica everyday, bingung makan apa masak mie, kopi sacet every day, ga tau hipertensi jadi tiap libur makan sate dan minumnya es teh, aku jg suka asin setiap makan mie ayam dan bakso tambah garam," ungkap pemilik akun.
Unggahan tersebut kemudian mendapat perhatian dan ikut direspons dokter umum sekaligus certified health coach, dr Dion Haryadi.
Melalui akun media sosialnya, dr Dion menjelaskan bahwa menjaga kesehatan ginjal bukan berarti seseorang harus menghilangkan seluruh makanan dan minuman yang dianggap kurang sehat dari kehidupan sehari-hari.
"Izin react ya Kak @mithamarwah97. Apakah ini berarti saya gak konsumsi gula dan garam sama sekali? Apakah saya tidak makan mie instan dan gak minum kopi susu gula aren lagi? Yah enggak, tapi jelas makanan dan minuman ini bukan yang utama dan saya konsumsi setiap hari," tulis dr Dion.
Menurut dia, persoalan yang perlu diperhatikan adalah pola konsumsi dan kebiasaan yang dilakukan terus-menerus. Sebab, kesehatan tidak hanya ditentukan oleh satu jenis makanan atau minuman.
"Kesehatan itu paling berharga saat kamu miliki dan jadi paling mahal saat gak kamu miliki," lanjutnya.
Dokter Dion kemudian menjelaskan mengenai penyakit ginjal kronis. Ia menggambarkan kerusakan ginjal sebagai proses yang dapat berlangsung perlahan akibat berbagai faktor risiko.
"Gagal ginjal kronis itu bukan penyakit yang datang tiba-tiba. Biasanya dicicil sedikit demi sedikit dari kebiasaan kecil yang kita ulangi setiap hari," ujarnya.
Ginjal memiliki fungsi penting dalam menyaring darah dan membuang limbah serta kelebihan cairan melalui urine. Kerusakan fungsi ginjal dapat berlangsung secara perlahan dan pada tahap awal bahkan tidak selalu menimbulkan gejala yang mudah dikenali.
Karena itu, seseorang bisa saja merasa sehat meski sudah memiliki faktor risiko penyakit ginjal.
"Kalau kamu pikir ginjal itu semacam saringan, filter yang tugasnya nyaring darah 24 jam. Terus hasil saringannya, racunnya itu dibuang lewat pipis," jelas dr. Dion.
Ia kemudian menggunakan perumpamaan sederhana untuk menggambarkan bagaimana ginjal terus bekerja menghadapi berbagai beban dari tubuh.
"Ginjal itu kayak temenmu yang nggak enakan. Disuruh nyaring entah sisa makanan apa, gula tambahan, sodium berlebihan, dia diem. Tapi suatu hari dia nggak akan tahan, dia akan lawan. Nah, muncullah gejala gagal ginjal kronis," katanya.
Berikut ini beberapa kebiasaan yang dinilai bisa picu gagal ginjal:
1. Terlalu Banyak Gula
Salah satu hal yang dikritisi dr Dion adalah konsumsi gula berlebihan, terutama jika menjadi kebiasaan sehari-hari.
Ia mencontohkan minuman manis seperti boba, kopi susu gula aren dan teh kemasan. "Minuman manis setiap hari, boba, kopi susu gula aren, teh kemasan, gula darah tinggi terus-terusan bikin pembuluh darah kecil di saringan ginjal rusak," ujarnya.
Secara medis, diabetes memang merupakan salah satu penyebab utama penyakit ginjal kronis. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan nefron, yakni bagian kecil ginjal yang berfungsi menyaring darah.
National Kidney Foundation juga mencatat diabetes sebagai penyebab paling umum penyakit ginjal. Diabetes dan hipertensi secara bersama-sama berkontribusi terhadap sebagian besar kasus baru gagal ginjal.
2. Terlalu Banyak Garam
Selain gula, asupan garam berlebihan juga perlu diperhatikan. Dokter Dion mencontohkan mie instan, gorengan, makanan kemasan, kecap dan saus sebagai sejumlah makanan yang dapat menyumbang asupan sodium dalam pola makan sehari-hari.
"Garam berlebih bikin tekanan darah naik. Saringan ginjal dipaksa kerja di tekanan yang tinggi. Lama-lama jebol," jelasnya.
Hipertensi memang menjadi salah satu faktor utama penyakit ginjal kronis. Tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah di ginjal, sehingga kemampuan ginjal untuk menyaring darah dapat menurun. Hubungan keduanya juga bersifat dua arah karena penyakit ginjal kronis dapat memperburuk tekanan darah.
3. Terlalu Sering Minum Obat Pereda Nyeri
Kebiasaan lain yang dinilai merusak ginjal adalah mengonsumsi obat pereda nyeri terlalu sering tanpa memperhatikan aturan penggunaannya.
"Pusing dikit minum, pegel dikit minum. Pemakaian yang terlalu banyak, terlalu sering tanpa arahan dokter bisa ngerusak ginjal," kata dr Dion.
Untuk poin ini, jenis obat juga penting. Obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID, terutama jika digunakan berlebihan atau dalam jangka panjang, diketahui dapat membahayakan ginjal.
Karena itu, penggunaan obat pereda nyeri sebaiknya mengikuti aturan dosis dan memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing.
4. Jamu dan Suplemen Tak Jelas
Jamu dan suplemen juga tidak otomatis aman hanya karena menggunakan bahan yang dianggap alami.
"Akan herbal, pasti aman dong? Ya belum tentu, herbal juga ada kandungan zatnya yang kalau kamu konsumsi secara berlebihan dosisnya ya sama aja bohong," ujar dr Dion.
Ia menjelaskan produk obat sendiri dapat berasal dari zat tertentu yang kemudian diformulasikan dengan dosis dan tujuan penggunaan yang jelas.
"Obat-obatan juga sebenarnya dari herbal. Tapi cuma diambil zat yang berguna untuk kita, lalu diformulasikan dengan dosis yang tepat," katanya.
Dokter Dion juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati karena ada produk jamu dan suplemen tertentu yang dapat mengandung bahan obat. Karena itu, konsumsi produk herbal maupun suplemen tetap perlu memperhatikan komposisi, dosis dan keamanannya.
5. Kurang Minum dan Gaya Hidup
Kurang minum juga menjadi perhatian, terutama bagi orang yang sehari-hari bekerja di luar ruangan dan banyak mengeluarkan cairan.
"Kelima, kurang minum. Apalagi yang kerjanya panas-panasan di luar," kata dr Dion.
Selain itu, ia menyoroti kebiasaan merokok, berat badan berlebih dan kurang bergerak. "Tambah lagi rokok, berat badan berlebih, males gerak. Semuanya hal kecil yang kamu cicil sedikit-sedikit dan harus dibayar sama ginjalmu," lanjutnya.
Faktor-faktor tersebut memang berkaitan dengan risiko penyakit ginjal kronis. CDC mencatat diabetes, tekanan darah tinggi dan obesitas sebagai faktor risiko utama, sementara National Kidney Foundation juga memasukkan kebiasaan merokok dan penggunaan NSAID secara berlebihan sebagai faktor yang perlu diperhatikan.
Meski membahas soal gula, garam, kopi susu dan mi instan, dr Dion menjelaskan pesannya bukan berarti masyarakat harus menghilangkan seluruh makanan tersebut.
Yang perlu diperhatikan adalah pola makan secara keseluruhan, frekuensi konsumsi, jumlah asupan dan kondisi kesehatan masing-masing.
"Apakah ini berarti saya gak konsumsi gula dan garam sama sekali? Apakah saya tidak makan mie instan dan gak minum kopi susu gula aren lagi? Yah enggak," tulisnya.
Menurut dr Dion, makanan atau minuman tersebut sebaiknya tidak menjadi konsumsi utama setiap hari.
Bagi orang yang memiliki diabetes, hipertensi, obesitas, riwayat keluarga penyakit ginjal atau faktor risiko lainnya, pemeriksaan kesehatan secara berkala juga penting. Penyakit ginjal kronis pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga pemeriksaan darah dan urine dapat membantu mendeteksinya lebih dini.
Pada akhirnya, menjaga ginjal tidak cukup dilakukan ketika sudah muncul keluhan. Kebiasaan sehari-hari seperti mengatur gula dan garam, aktif bergerak, tidak merokok, menjaga berat badan, mencukupi kebutuhan cairan serta menggunakan obat secara bijak menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan ginjal.
"Maka dari itu mumpung masih sehat, mumpung masih punya pilihan, mulai perhatikan dan perbaiki gaya hidupmu. Jangan sampai menyesal," pungkas dr Dion.




