JATIMTIMES - Kasus influenza di Surabaya tengah menjadi perhatian setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat peningkatan kasus dalam beberapa bulan terakhir. Hingga Agustus 2026, tercatat 40.539 kasus influenza yang ditangani melalui puskesmas dan rumah sakit di Kota Surabaya.
Kepala Dinkes Surabaya dr Billy Daniel Messakh menyebut kenaikan kasus mulai terlihat sejak Juli-Agustus dan kembali meningkat pada Agustus-September. Kasus yang ditemukan cenderung mengarah pada influenza A, dengan gejala yang umumnya masih ringan seperti demam, badan lemas, dan batuk.
Namun, informasi yang tak kalah penting bagi masyarakat bukan hanya soal jumlah kasus. Ketika demam dan batuk mulai muncul, banyak orang mungkin bertanya-tanya apakah keluhan tersebut sekadar flu biasa, influenza A, atau justru COVID-19.
Seperti Apa Gejala Influenza A?
Influenza merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Gejalanya dapat muncul cukup tiba-tiba dan tingkat keparahannya berbeda pada setiap orang.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), gejala influenza yang umum antara lain demam atau menggigil, batuk, sakit tenggorokan, pilek, sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh terasa lemas.
Beberapa gejala yang perlu dikenali antara lain:
• Demam atau merasa menggigil
• Batuk, yang sering kali berupa batuk kering
• Sakit tenggorokan
• Hidung berair atau tersumbat
• Sakit kepala
• Nyeri otot atau badan terasa pegal
• Tubuh lemas dan mudah lelah
• Nafsu makan menurun
• Mual, muntah, atau diare, terutama pada sebagian anak
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gejala influenza umumnya mulai muncul sekitar 1-4 hari setelah seseorang terinfeksi. Sebagian besar penderita dapat pulih dalam waktu sekitar satu minggu, meski batuk dan rasa lelah dapat bertahan lebih lama.
Influenza A dan COVID-19 Tidak Sama
Dinkes Surabaya juga menegaskan bahwa influenza dan COVID-19 merupakan penyakit yang berbeda. Keduanya sama-sama dapat menyerang sistem pernapasan, tetapi disebabkan oleh virus yang berbeda.
Influenza disebabkan oleh virus influenza, sedangkan COVID-19 disebabkan oleh SARS-CoV-2.
Persoalannya, gejala kedua penyakit tersebut bisa sangat mirip. Demam, batuk, sakit tenggorokan, pilek, kelelahan, sakit kepala, nyeri tubuh, hingga sesak napas dapat ditemukan pada keduanya.
Karena itu, gejala saja tidak selalu cukup untuk memastikan seseorang terkena influenza A atau COVID-19. Pemeriksaan atau tes dapat diperlukan untuk memastikan penyebab infeksi, terutama apabila kondisi pasien memburuk.
Kasus Influenza di Surabaya Lebih Banyak pada Orang Dewasa
Dinkes Surabaya mencatat kasus influenza lebih banyak ditemukan pada kelompok dewasa dibandingkan anak-anak. Kondisi tersebut salah satunya berkaitan dengan tingginya mobilitas orang dewasa dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Dr Billy menjelaskan anak-anak yang mengalami influenza cenderung menunjukkan gejala lebih ringan. Sementara itu, orang dewasa yang memiliki aktivitas dan mobilitas tinggi lebih banyak melakukan kontak dengan orang lain.
“Justru dewasa ini yang banyak yang mobilisasinya tinggi toh, lalu fisiknya menurun, ini yang menyebabkan jumlah kasusnya di dewasa cukup tinggi,” jelas dr Billy pada Jumat (18/9/2026) lalu.
Berdasarkan data Dinkes Surabaya, terdapat 40.539 kasus influenza sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Angka tersebut merupakan akumulasi kasus yang tercatat melalui puskesmas dan rumah sakit di Surabaya.
Dinkes juga menyebut kenaikan kasus berada di kisaran 10 persen. Peningkatan mulai terlihat pada Juli-Agustus dan kembali meningkat pada Agustus-September.
Meski jumlah kasus bertambah, dr Billy menyebut gejala yang dialami sebagian besar pasien masih tergolong ringan.
Kapan Flu Perlu Diperiksakan?
Tidak setiap orang yang mengalami batuk atau demam harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Namun, kondisi perlu diperhatikan apabila keluhan tidak kunjung membaik atau justru semakin berat.
Influenza pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi komplikasi, termasuk pneumonia. Risiko komplikasi juga dapat lebih diperhatikan pada kelompok tertentu, seperti orang lanjut usia, anak kecil, ibu hamil, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan apabila muncul gejala yang mengkhawatirkan, terutama gangguan pernapasan, kondisi tubuh yang semakin lemah, atau keluhan yang terus memburuk.
Masyarakat juga sebaiknya tidak menunggu kondisi menjadi berat apabila memiliki penyakit penyerta atau termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami komplikasi.
Cara Mengurangi Risiko Penularan Influenza
Ketika kasus influenza mengalami peningkatan, menjaga kebersihan dan mengurangi risiko penularan menjadi hal penting.
Dinkes Surabaya mengimbau masyarakat menggunakan masker dan menjaga daya tahan tubuh. Vaksin influenza juga tersedia di puskesmas sebagai salah satu pilihan untuk membantu mencegah influenza.
Selain itu, masyarakat dapat menerapkan beberapa kebiasaan sederhana, seperti:
• mencuci tangan secara rutin menggunakan sabun dan air mengalir;
• menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin;
• menghindari kontak terlalu dekat ketika sedang sakit;
• menggunakan masker ketika mengalami gejala flu;
• beristirahat cukup dan menjaga kondisi tubuh;
• segera memeriksakan diri apabila gejala semakin berat.
Dengan meningkatnya kasus influenza di Surabaya, masyarakat tidak perlu panik. Namun, mengenali gejala sejak awal tetap penting agar kondisi dapat dipantau dan penanganan medis bisa dilakukan apabila keluhan berkembang menjadi lebih berat.





