JATIMTIMES - Sebuah rumah dua lantai berdiri lengkap dengan kamar, televisi, uang, mobil, pesawat hingga brankas berisi emas. Namun, rumah tersebut bukan hunian untuk ditempati manusia, melainkan bagian dari ritual penghormatan kepada leluhur dalam tradisi Tionghoa.

Rumah replika tersebut disiapkan keluarga Paulus Oliver Yoesoef untuk mendiang ayahnya, Agus Santoso Yusuf, yang telah meninggal dunia sekitar 32 tahun lalu. Ritual dilakukan di Kelenteng Eng An Kiong dan dipimpin melalui doa oleh Bante Rudi.

Paulus mengatakan, rumah beserta berbagai perlengkapannya sengaja dibuat menyerupai kebutuhan hidup sehari-hari. Selain rumah, terdapat pula replika pembantu, kendaraan, pesawat, uang dan berbagai barang lainnya.

“Rumah ini kami kirimkan untuk Papa saya, Agus Santoso Yusuf, yang sudah meninggal 32 tahun yang lalu. Ini sebagai bentuk bakti dan kasih sayang kami kepada orang tua yang telah meninggal,” kata Paulus di Instagramnya.

Menurutnya, ritual tersebut menjadi bentuk penghormatan keluarga kepada mendiang ayah. Melalui doa yang dipanjatkan, keluarga memohon agar persembahan tersebut dapat diterima sesuai keyakinan yang dianut.

“Kami memohon kepada Sang Buddha agar semuanya disucikan sehingga dapat diterima oleh almarhum. Harapannya, Papa bisa hidup tenang dan berkecukupan di alam sana,” imbuhnya.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan persiapan pembakaran rumah kertas beserta perlengkapannya. Sebelum dibakar, rumah terlebih dahulu didoakan dan disucikan, kemudian ditempatkan di area pembakaran.

Tradisi pembakaran rumah kertas merupakan salah satu bentuk persembahan dalam budaya Tionghoa yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur. Praktiknya dapat berupa replika rumah, uang, kendaraan hingga berbagai benda lain yang dianggap merepresentasikan kebutuhan kehidupan.

Pada situs Warisan Budaya Takbenda Singapura, mencatat bahwa praktik persembahan kertas telah berlangsung sejak masa Dinasti Song. Persembahan tersebut dibakar untuk orang yang telah meninggal maupun dewa, dan dalam konteks penghormatan leluhur dipandang sebagai bentuk menjaga ikatan keluarga antara mereka yang masih hidup dan yang telah meninggal.

Kajian mengenai praktik pembakaran uang arwah pada masyarakat Tionghoa di Makassar juga mencatat adanya makna penghormatan kepada orang yang telah meninggal serta nilai religius dan pendidikan budaya di dalam tradisi tersebut.

Dalam praktiknya, bentuk persembahan dapat berkembang mengikuti kebutuhan dan gambaran kehidupan modern. Karena itu, rumah kertas tidak hanya dibuat sebagai bangunan sederhana, tetapi dapat dilengkapi interior, uang, kendaraan dan berbagai benda yang dianggap mewakili kenyamanan hidup.

Bagi Paulus dan keluarganya, rangkaian ritual tersebut bukan sekadar membakar replika rumah. Di balik rumah dua lantai dan berbagai perlengkapannya, terdapat pesan kasih seorang anak kepada ayah yang telah lama tiada.

“Sudah 32 tahun Papa meninggal, tetapi rasa sayang dan bakti kepada orang tua tidak pernah berhenti. Semoga Papa hidup tenang di surga,” tutup Paulus.