JATIMTIMES - Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang terus berupaya untuk menyuarakan keseteraan gender. Melalui Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), LP2M UIN Maliki Malang menggelar The International Conference on Engineering, Technology, and Social Sciences (ICONETOS) ke empat yang menjadi komitmen dalam menyuarakan keseteraan gender belum lama ini.

Dalam ICONETOS 2024 ini, menghadirkan para pegiat gender, seperti One Widyawati (Kabid Kesetaraan Gender, DP3AK Jawa Timur), Sukesi Rahayu, Sukesi Rahayu (ISI Surakarta), Saira Kazmi (Quaid-i Azam University, Pakistan), Noornajihan Jafar (Universiti Sains Islam Malaya), Listia (Pappyruz Yogyakarta), dan Hosniah Salaeh (Fatony University, Thailand).

Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Maliki Malang Prof Dr Umi Sumbulah, M.Ag, mengatakan, bahwa memang kesetaraan gender ini menjadi penting dan bukan hanya dalam sekedar pergerakan tanpa target. Tentu dalam targetnya, gerakan penting ini adalah untuk dalam upaya mewujudkan dan memperkuat Indonesia yang lebih maju. 

"Dengan ini, segala bentuk diskriminatif terhadap perempuan dan anak dapat diakhiri," kata Prof Umi sapaan akrabnya.

Lebih lanjut, bahwa dalam realisasi penghapusan diskriminatif terhadap perempuan ada dalam beragam bentuk. Mulai dari mengenali dan menghargai pekerjaan rumah tangga yang sering tak terbayar dan kurang mendapat apresiasi. Melihat ini,  tentu peran perempuan sangatlah penting dan harus terlibat atau berpartisipasi dalam setiap lini pembangunan. 

Jika dihubungkan antara gerakan dalam studi keislaman, maka ajaran-ajaran islam juga selaras dalam menyuarakan hal ini. Perempuan, dengan cara apapun, berhak mendapatkan kesetaraan, termasuk dalam hal pendidikan yang layak. Melalui jalur pendidikan, mempromosikan kesetaraan gender menjadi jalan yang efektif.

"Tidak ada diskriminasi utamanya dalam pemerolehan pendidikan bagi kaum perempuan. Yang membedakan manusia hanya ketakwaan dan amal baiknya," tuturnya.

Mengamini pendapat ini, Ketua LP2M UIN Maliki Malang Prof. Dr. Agus Maimun, M.Pd, mengatakan, bahwa sangatlah penting bangsa Indonesia memiliki sumberdaya manusi yang punya prinsip kuat dalam anti diskriminasi. Pemerintah pun saat ini sangatlah konsen akan upaya memberikan edukasi dan pendidikan yang menekankan anti diskriminasi. 

Bentuk dukungan ini juga beragam. Mulai dari beasiswa hingga regulasi-regulasi yang pro akan anti diskriminasi. Seperti halnya perguruan tinggi yang secara khusus yang diharuskan dalam menyediakan kuota untuk menampung penerima beasiswa KIP.  

"Sehingga, korelasi pendidikan dan ekonomi bukan menjadi sebuah hal yang utama. Sekarang tergantung motivasi individu,” tegas Prof. Agus.