JATIMTIMES - Ihwal belasan kucing mati, warga Jalan Danau Maninjau Barat 1 Blok B1 RT 3 RW 8, Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang bersama pihak kepolisian, melakukan pertemuan bersama. Mereka membahas kematian kucing yang misterius itu.
Ketua RT setempat, Bambang Priyadi membenarkan adanya pertemuan tersebut. Ia mengaku pertemuan itu untuk mencari solusi terkait kucing mati secara massal. “Jadi, pertemuan ini dilakukan untuk mencari solusi terkait kejadian dugaan pembunuhan kucing massal di wilayah kami. Dan kebetulan juga, kucing saya menjadi salah satu korban,” ujar Bambang.
Hasilnya, warga menunggu itikad baik terduga pelaku yang meracun kucing untuk menyerahkan diri. Namun jika tidak ada itikad baik, maka warga akan membuat laporan polisi. “Kami menunggu selama 1 minggu ini. Apabila sampai lebih dari 1 minggu tidak ada yang mengaku, maka peristiwa ini akan kami laporkan ke pihak kepolisian,” kata Bambang.
Sementara itu, Bhabinkamtibmas Kelurahan Sawojajar, Aiptu Ganief Eko Asianto mengatakan pihaknya senada dengan warga. Dalam hal ini pihaknya tidak ingin lagi ada pembunuhan maupun penyiksaan terhadap hewan. Karena kucing termasuk makhluk hidup.
“Dan dari rapat ini, hasilnya warga sepakat menunggu selama 1 minggu (menunggu itikad baik dari terduga peracun untuk menyerahkan diri). Apabila hingga batas waktu 1 minggu tidak ada yang mengaku, maka warga akan melaporkannya ke kepolisian,” beber Ganief.
Selain itu, hasil pertemuan yang berlangsung selama 2 jam itu juga menghasilkan solusi lainnya. Misalnya kucing buang kotoran di sembarang tempat, maka warga yang merasa dirugikan bisa segera lapor ke pemilik kucing. Tetapi kalau kucing liar, maka kami kembalikan ke masing-masing individu warganya.
“Terkait, cara menanganinya bagaimana. Dan dari pertemuan tadi, Ketua RT menyarankan agar pagar rumah warga dapat dipasangi jaring kawat, sehingga kucing liar tidak dapat masuk ke dalam,” ungkap Ganief.
Terpisah, Yanti dari komunitas pecinta kucing yang ikut hadir dalam pertemuan menjelaskan sebenarnya antara manusia dan hewan bisa hidup berdampingan. Dan pihaknya sebenarnya cukup menyesalkan dengan adanya peristiwa banyaknya kucing yang mati secara misterius tersebut.
“Pada dasarnya, jangan sampai dibunuh meskipun itu kucing liar. Apabila memang terjadi over populasi kucing liar, bisa dikendalikan dengan cara steril (kebiri) kucing. Dan harapan kami adalah, semoga kejadian ini tidak terjadi lagi di Kota Malang,” ungkap Yanti.
Seperti diberitakan sebelumnya, 16 kucing baik liar maupun peliharaan warga mati misterius. Peristiwa itu terjadi dalam kurun waktu 6 hari sejak Sabtu (5/10/2024) hingga Kamis (10/10/2024). Dugaan sementara, belasan kucing itu mati akibat diracun oleh seseorang tidak bertanggung jawab. Hal itu dilihat karena kucing ada yang mengeluarkan cairan berbusa putih pada mulut dan kejang-kejang sebelum akhirnya mati.



