JATIMTIMES - Ratusan desain busana karya mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2023 Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang (UM) diperagakan dalam International Fashion Exhibition Trendversity 2026.
Pameran mode bertema ENVISION: Essence of Nusantara Visionary Innovation tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan desain, teknik produksi, sekaligus mengolah kekayaan tekstil Nusantara menjadi karya yang memiliki daya saing lebih luas.
Ketua Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana UM, Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd., mengungkapkan bahwa kesiapan mahasiswa dalam menerjemahkan desain ke produk busana menjadi salah satu aspek yang menonjol pada pergelaran tahun ini. Mulai dari pemilihan desain, teknik pemotongan kain atau cutting, hingga pengerjaan jahitan, seluruh proses dituntut menghasilkan busana yang layak ditampilkan.

“Terlepas dari desainnya, dari cutting-nya, teknik jahitnya, anak-anak lebih siap. Memang kita push, karena waktu itu hanya dua bulan. Jadi, bagaimana kalian bisa memanage ini bisa menjadi busana,” ujarnya.
Menurut Hapsari, proses pengerjaan yang relatif singkat menuntut mahasiswa mampu mengatur waktu dan menyelesaikan rancangan menjadi produk yang dapat dikenakan. Tantangan tersebut sekaligus menguji kemampuan teknis yang selama ini mereka pelajari dalam perkuliahan.

Salah satu karya yang mendapat perhatian dalam pergelaran itu adalah kemeja yang dikenakan Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. Hapsari menjelaskan, proses pembuatannya melibatkan mahasiswa sejak pengembangan motif, pembuatan kain, pengukuran, hingga penjahitan. Dengan demikian, karya yang ditampilkan tidak berhenti pada gagasan desain, tetapi melewati tahapan produksi sampai menjadi busana siap pakai.
Trendversity 2026 sendiri merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang sebelumnya mencakup konferensi pers, roadshow, kompetisi, lokakarya, dan gelar wicara. Melalui rangkaian tersebut, mahasiswa tidak hanya disiapkan untuk menampilkan hasil akhir, tetapi juga menjalani proses pengembangan gagasan dan pengenalan karya kepada publik.

Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menilai dunia mode memiliki hubungan erat dengan perubahan sosial dan kebudayaan. Pergeseran gaya berpakaian dari satu generasi ke generasi lain menunjukkan bahwa busana bukan sekadar kebutuhan fungsional, melainkan juga bagian dari cara manusia mengekspresikan identitas dan zamannya.
Ia mengutip pemikiran sosiologi budaya mengenai hubungan antara mode dan perubahan zaman untuk menjelaskan bahwa setiap era melahirkan karakter fesyennya sendiri. Perubahan tersebut terlihat dari pilihan pakaian, potongan rambut, hingga gaya berpenampilan yang berbeda antara generasi.

Dalam pandangan Hariyono, proses kreatif di bidang fesyen juga berangkat dari perhatian terhadap sesuatu, kemudian berkembang menjadi ketertarikan dan kecintaan terhadap bidang yang ditekuni. Kecintaan tersebut selanjutnya dapat mendorong seseorang menghasilkan karya dan mengembangkan inovasi.
“Orang yang suka, makin mendalam, akan menumbuhkan cinta terhadap profesinya, cinta terhadap fashion-nya, sehingga apa yang dilakukan bagian dari pengaktualisasian diri. Konsekuensinya, orang yang suka, cinta, menjadi cinta, maka orang yang cinta biasanya melahirkan karya, dan dari karya itulah lahir sebuah inovasi,” kata Hariyono.
Ia berharap karya mahasiswa UM tidak hanya memperoleh perhatian di lingkungan kampus, tetapi juga mampu menjangkau industri dan ekosistem fesyen internasional. Kehadiran peserta dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia, dalam Trendversity 2026 menjadi salah satu pintu untuk memperluas jejaring tersebut.
Hariyono menyebut delegasi dari universitas mitra Malaysia itu menampilkan sembilan peragaan. Ia juga membuka peluang keterlibatan perguruan tinggi lain di kawasan Asia Tenggara pada penyelenggaraan berikutnya, termasuk mitra dari Filipina yang sebelumnya telah menjalin komunikasi dengan UM.
“Semoga anak-anak mahasiswa UM yang tampil malam ini tidak hanya bisa menampilkan fashion di ruangan ini, tapi juga bisa memberikan resonansi kepada fashion di dunia luar, yaitu dunia fashion di level internasional,” ujarnya.

Namun, perluasan jangkauan karya mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari karakter yang dibawa dalam desain. Hapsari menekankan pentingnya wastra Nusantara sebagai bagian dari identitas yang perlu hadir dalam pengembangan fesyen modern. Menurut dia, kekayaan tekstil tradisional Indonesia menyediakan sumber gagasan yang dapat diolah mahasiswa tanpa meninggalkan pertimbangan estetika maupun kepantasan dalam berbusana.
Ia mengatakan bahwa mahasiswa telah diarahkan agar karya yang ditampilkan tetap selaras dengan tema sekaligus memperhatikan batas kesopanan. Penggunaan unsur wastra juga menjadi perhatian karena pergelaran tersebut menghadirkan tamu dari luar negeri.
“Nusantara itu wastranya bagus-bagus. Ayo kita selalu harus membawa wastra itu pada pagelaran kalian, supaya Indonesia itu dikenal,” kata Hapsari.
Lanjut Hapsari, pengenalan wastra melalui karya mahasiswa dapat menjadi penghubung antara keterampilan desain, pengetahuan budaya, dan peluang pemanfaatan produk fesyen. Apalagi, sebagian karya yang dihasilkan tidak hanya diproyeksikan untuk satu kali peragaan. Menurut dia, busana mahasiswa biasanya masih dapat dimanfaatkan melalui penyewaan untuk kebutuhan pembawa acara maupun kegiatan kampus lainnya.

Dari sisi pemerintah daerah, Walikota Malang, Wahyu Hidayat, melalui Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana, S.E., M.M., menilai pameran semacam ini dapat memperlihatkan kapasitas kreatif generasi muda kepada masyarakat yang lebih luas. Ia mengaitkan keberadaan karya mahasiswa dengan posisi Kota Malang sebagai kota kreatif yang membutuhkan ruang aktualisasi dan promosi bagi talenta lokal.
“Kalau memang tidak ada sebuah pertunjukan akhir dari karya mereka, istilahnya ujian akhirnya, itu tidak akan bagus. Makanya kami mendukung program Universitas Negeri Malang, Fakultas Teknik, jurusan Tata Busana ini mengadakan gebyar-gebyar seperti ini,” ujarnya.
Suwarjana bahkan berharap pergelaran fesyen tidak hanya berlangsung sekali dalam setahun. Menurut dia, penyelenggaraan yang lebih rutin dapat memperluas kesempatan mahasiswa untuk memperkenalkan karya sekaligus membuka akses publik terhadap potensi fesyen yang tumbuh di Kota Malang.
Ia juga mendorong agar ruang serupa berkembang di perguruan tinggi lain dan sekolah menengah kejuruan yang memiliki program tata busana. Dengan semakin banyaknya institusi yang menampilkan karya, potensi desainer muda tidak hanya dikenal di lingkungan pendidikan, tetapi juga dapat menjangkau masyarakat di berbagai daerah.
“Untuk menunjukkan kepada dunia luar bahwa di kita ada,” kata Suwarjana mengenai pentingnya penyelenggaraan pergelaran tersebut.
Menurut dia, pengenalan karya melalui pameran juga memiliki dimensi sosial. Keluarga mahasiswa yang berada jauh dari Malang, misalnya, dapat mengetahui kemampuan dan hasil kerja anak mereka melalui dokumentasi maupun publikasi pergelaran. Karena itu, kegiatan semacam ini dinilai berpeluang dikembangkan sebagai agenda yang mempertemukan pendidikan, kreativitas, dan promosi karya.
Meski demikian, wacana peningkatan frekuensi penyelenggaraan masih berkaitan dengan kesiapan akademik dan dukungan fasilitas. Hapsari menyatakan bahwa Prodi S1 Pendidikan Tata Busana UM pada prinsipnya terbuka terhadap kemungkinan penyelenggaraan dua kali setahun, tetapi pelaksanaannya perlu diselaraskan dengan kurikulum dan beban praktik mahasiswa.
“Kalau memang ditata sedemikian rupa, tentu saja kita harus siap, tapi kita sesuaikan dengan kurikulum yang sudah ada,” ujarnya.
Tahun ini, sebanyak 76 mahasiswa masing-masing menghasilkan tiga desain yang diperagakan dalam Trendversity 2026. Jumlah tersebut memperlihatkan skala produksi kreatif yang harus dikelola mahasiswa, mulai dari pengembangan konsep hingga realisasi busana. Di tengah keterbatasan waktu dan kebutuhan menyesuaikan rancangan dengan tema, proses tersebut menempatkan kemampuan teknis, pengelolaan produksi, serta pemahaman terhadap karakter wastra sebagai bagian dari pekerjaan seorang calon pendidik sekaligus praktisi tata busana.



