Hutan Selalu Terbakar, Fadli Zon: Negara Kok Kalah Melulu oleh Mafia

MALANGTIMES - Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon kembali memberikan kritik tajamnya dalam persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah provinsi yang telah terjadi sejak Januari-September 2019 ini.

Kritik yang secara gamblang dilontarkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) maupun kepada para gubernur dan bupati/wali kota di berbagai daerah yang mengalami karhutla. Politikus Gerindra ini mengatakan bahwa negara selalu kalah saat berhadapan dengan para mafia.

"Negara kenapa selalu kalah oleh mafia? Karena leadership-nya tidak efektif. Presiden katanya berkali-kali marah besar atas karhutla ini, tapi kebakaran terus terjadi. Artinya, presiden tidak efektif marahnya," ucap Fadli dalam acara debat di stasiun televisi, Selasa (17/09/2019) malam.
"Seharusnya kalau efektif, marah sekali (presiden, red), kebakaran tidak akan terus terjadi. Selesai," sambung nya.

Fadli juga membandingkan Jokowi dengan kepemimpinan era Soeharto. Dulu, apabila terjadi persoalan, Soeharto hanya cukup berbicara "gebuk",  sudah tercipta stabilitas. "Jadi, kepemimpinan nasional sampai daerah tidak efektif. Presiden Jokowi kurang efektif sehingga negara selalu kalah dengan mafia," ujarnya yang juga menegaskan bahwa kepemimpinan Jokowi ini lemah.

Fadli menyampaikan, dengan kondisi yang disebutnya luar biasa ini, ada tiga ironi. Pertama adalah bencana asap terjadi saat pemerintah berencana akan memindahkan ibu kota Indonesia.

"Bagaimana kita mau memindahkan ibu kota kalau mengatasi kebakaran saja tidak bisa. Bisa saja nantinya ibu kota juga berdampak asap," ucapnya.

Ironi kedua adalah tidak terlihat adanya komitmen pemerintah dalam penegakan hukum terkait karhutla tersebut. Terutama  eksekusi keputusan Mahkamah Agung (MA) terkait gugatan warga yang terdampak karhutla. Padahal keputusan MA itu, masih menurut Fadli, sangatlah bagus untuk diterapkan dalam pencegahan dan penindakan hukum.

"Pemerintah kalah di pengadilan sampai kasasi juga kalah dan malah mau peninjauan kembali (PK). Kalau punya komitmen! tidak perlu PK. Eksekusi saja putusan MA karena gugatan warga itu sudah sangat bagus sekali," tandas Fadli.

 Sedangkan ironi ketiganya adalah ketika pemerintah mengampanyekan sawit bersih di Eropa. "Di Eropa ada upaya blokade kelapa sawit kita. Tapi kita justru memberikan alasan yang tegas telah terjadi deforestasi dan penyumbang global warming dengan terjadinya kebakaran ini," ujar Fadli.

Hal ini akan semakin sulit untuk mempertahankan kelapa sawit Indonesia masuk ke negara-negara Eropa. "Mentah lagi. Apalagi ini katanya ada unsur kesengajaan dan dugaan keterlibatan koorporasi dalam karhutla. Ada mafia yang membuat sulit kampanye sawit bersih di tengah adanya proses penghancuran hutan," tandas Fadli.

Kritikan Fadli pun mendapat reaksi dari Maruarar Sirait, politisi PDI-Perjuangan. Sebelumnya Ara, sapaan Maruarar, mengatakan, terkait karhutla, pemerintah Jokowi telah bergerak dan siap menindak para pembakar.

"Jadi, ini Fadli masih saja belum bisa move on. Padahal, Prabowo sudah. Terkait karhutla ini, saya sampaikan sebagai anggota DPR, mari kita bersama ke lokasi. Tingkatkan anggaran untuk badan restorasi gambut. Kalau perlu, kita bongkar lagi APBN untuk kebaikan," ungkap nya.

Seperti diketahui, dari berbagai data yang ada, darurat asap telah mengakibatkan kesehatan warga terdampak semakin memburuk dan bertambah banyak. Di Kalimantan dan Sumatera, tercatat 144.219 warga terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak Senin (16 September 2019) lalu.

Palembang menjadi kota dengan penderita ISPA terbanyak, yakni 76.236 penderita, periode Maret hingga September. Kedua diduduki Provinsi Kalimantan Barat dengan jumlah penderita ISPA sebanyak 15.468 pada periode Juli 2019. Selanjutnya, Provinsi Riau dengan 15.346 penderita ISPA periode 1 hingga 15 September 2019.

Disusul Provinsi Jambi dengan penderita ISPA sebanyak 15.047 pada Juli hingga Agustus 2019. Selanjutnya, penderita ISPA terbanyak yakni Kalimantan Selatan, tepatnya di Kabupaten Banjarbaru dengan 10.364 penderita ISPA periode Juni hingga Agustus 2019. Provinsi Kalimantan Tengah, tepatnya di Kota Palangkaraya, dengan penderita ISPA mencapai  11.758 orang pada Mei hingga September 2019.

Top