JATIMTIMES - Sudah setengah tahun ini hujan belum turun di Desa Bandangdajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Meski demikian ada tanah yang tetap subur di sana dengan ditanami tanaman semangka, gambas, tomat, dan timun.
Di balik hijau lahan tersebut, ada kisah perjuangan Marnawi, lelaki lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs), bersama dua temannya yang berijazah SD dan MTs. Mereka adalah tiga orang pemuda desa yang memilih menolak untuk pergi merantau mencari pekerjaan di luar daerah.
Mereka memilih bertahan dan menggarap lahan pertanian milik desa melalui program Eco Edufarming yang didukung oleh PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO).
Marnawi mengenang awal keterlibatannya usai pulang dari perantauan pada tahun 2019. Kala itu, ia terheran-heran melihat tanaman sayur bisa tumbuh subur, padahal sebelumnya tanaman jagung dan kacang saja sangat sulit hidup.
Sempat terhenti akibat pandemi COVID-19 dan kembali menjadi kuli, tekadnya terpacu lagi pada tahun 2021 saat program tersebut dibuka kembali. Didampingi akademisi serta praktisi pertanian, mereka belajar mengolah tanah dari nol dan mulai menanam tomat varietas Sofia, cabai, serta sawi.
Langkah awal itu diwarnai cemoohan warga sekitar. Bibit sayuran yang dipindah ke lahan sempat diejek tidak akan sanggup bertahan hidup di tanah gersang Tanjung Bumi. Namun, Marnawi dan kawan-kawan memilih untuk tidak mendengarkan cemoohan tersebut dan fokus belajar.
Tantangan berikutnya datang ketika hasil panen hendak dipasarkan. Para pedagang di pasar tradisional Madura enggan menerima sayur lokal dengan alasan kualitas air tanah Madura kurang cocok untuk sayur dan tomat setempat dinilai lebih cepat membusuk dibandingkan pasokan dari Pulau Jawa.
Guna menembus penolakan pasar, Marnawi memutar otak dengan memberikan sampel gratis ke warung-warung dan menawarkan harga di bawah pasaran. Ketika pedagang biasa mengambil tomat dari Jawa seharga Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kilogram, Marnawi melepas hasil panennya seharga Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per kilogram agar pedagang mau mencoba.
Usaha keras itu membuahkan hasil setelah ia membuktikan bahwa tomat dari lahannya sanggup bertahan hingga satu minggu tanpa membusuk. Lewat negosiasi ulet, perlahan tapi pasti para tengkulak mulai datang mencari produk mereka.
Dari keuletan mengolah lahan kering tersebut, dampak ekonomi nyata kini mulai dirasakan. Dalam kondisi panen bagus, penghasilan para petani ini mampu mencapai Rp 60 juta dalam kurun waktu 6 bulan. Meski demikian, hasil pertanian tentu tidak selalu mulus. Ketika kondisi panen kurang beruntung, pendapatan mereka menurun di kisaran Rp 15 juta hingga Rp 20 juta.
Namun, pendapatan sekecil apapun terbukti tetap mampu menghidupi keluarga mereka dengan layak. Dalam kondisi panen paling sulit sekalipun, setiap anggota sedikitnya masih mengantongi penghasilan Rp 1,5 juta setiap bulannya, dan angka ini seringkali jauh lebih besar saat musim panen berlimpah.
Penerapan sistem pertanian regeneratif dan teknologi tepat guna seperti irigasi tetes, panel surya, serta pemanfaatan limbah kotoran ternak menjadi kunci utama menjaga kelembapan tanah di Bandangdajah.
Senior Manager Relations Regional Indonesia Timur PHE, Sigit Dwi Aryono, menyampaikan bahwa program Eco Edufarming di Desa Bandangdajah merupakan bentuk nyata komitmen perusahaan dalam memberdayakan masyarakat melalui pertanian regeneratif dan adaptif terhadap kondisi lahan kering.
Sigit Dwi Aryono, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari konsep One Belt One Road (OBOR) PHE WMO untuk mendorong keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat pesisir di sekitar wilayah operasi.
"Program Eco Edufarming di Desa Bandangdajah merupakan bentuk nyata komitmen PHE WMO berkontribusi pada upaya pemberdayaan masyarakat melalui pertanian regeneratif dan adaptif terhadap kondisi lahan kering," kata Sigit Dwi Aryono.
Sigit menambahkan bahwa pihak perusahaan mengupayakan integrasi pemanfaatan sumber daya air, pengelolaan lahan pertanian, pengelolaan limbah organik, dan penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
"Melalui program Eco Edufarming ini, kami berharap masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola sumber daya lokal secara berkelanjutan. Kami percaya bahwa kolaborasi antara perusahaan, pemerintah desa, kelompok masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci dalam membangun kemandirian masyarakat dan menciptakan dampak positif yang berkelanjutan," jelas Sigit.
Dari keuletan mengolah lahan kering tersebut, dampak ekonomi nyata kini dirasakan oleh kelompok tani. Dalam kondisi panen bagus, penghasilan mereka mampu mencapai Rp 60 juta dalam kurun waktu 6 bulan.
Meski demikian, ketika kondisi panen kurang beruntung, pendapatan mereka berada di kisaran Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. Namun, pendapatan tersebut terbukti tetap mampu menghidupi keluarga mereka dengan layak.
Dalam kondisi panen paling sulit sekalipun, setiap anggota sedikitnya masih mengantongi penghasilan Rp 1,5 juta setiap bulannya, dan angka ini seringkali jauh lebih besar saat musim panen berlimpah.
Keberhasilan menghijaukan lahan setengah hektar di tengah musim kemarau panjang ini membakar semangat Marnawi dan kedua rekannya. Mereka berharap kesuksesan yang mereka raih dapat memicu warga desa lainnya untuk melakukan hal serupa.
Impian terbesar ketiga pemuda ini adalah melihat masyarakat Bandangdajah mampu hidup mandiri di tanah mereka sendiri, menggarap tanah kelahiran untuk sektor pertanian, sehingga tidak lagi bergantung pada pasokan sayuran dari Pulau Jawa dan mampu bersaing kuat di pasar lokal.



