JATIMTIMES - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali dibuka melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026). Indeks langsung turun 223,23 poin atau 4,31% ke level 4.961,88.
Tekanan juga terjadi pada kelompok saham unggulan. Indeks LQ45 turun 28,06 poin atau 5,52% ke posisi 480,50.
Pada awal perdagangan, aktivitas transaksi tercatat mencapai 1,17 miliar saham dengan nilai Rp 1,04 triliun. Transaksi tersebut berlangsung sebanyak 80.236 kali.
Sebanyak 602 saham bergerak melemah, 88 saham stagnan, sedangkan hanya 64 saham yang menguat.
Pelemahan ini terjadi setelah IHSG turun drastis pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Saat itu, indeks ditutup anjlok 11,57% ke level 5.185,10, di tengah kekhawatiran investor terhadap rencana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Salah satu sentimen yang membayangi pasar saham Indonesia adalah pengumuman MSCI yang membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market atau pasar berkembang menjadi Standalone Market.
Rencana tersebut belum menjadi keputusan final. MSCI membuka kesempatan bagi pelaku pasar untuk menyampaikan tanggapan hingga 30 April 2027. Keputusan akhir dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.
"MSCI akan mengumumkan keputusan akhir pada akhir Juni 2027 dan mungkin memberikan pembaruan sementara mengenai tanggapan peserta pasar selama periode konsultasi," tulis MSCI dalam pengumumannya.
MSCI menyoroti sejumlah persoalan yang dinilai perlu mendapat perhatian, termasuk transparansi struktur kepemilikan saham, akses investor terhadap pasar, serta kekhawatiran mengenai dugaan praktik perdagangan saham yang terkoordinasi.
Status Standalone Market menempatkan suatu pasar saham di luar kelompok utama MSCI, yakni Developed Market, Emerging Market, dan Frontier Market.
Apabila Indonesia benar-benar direklasifikasi menjadi Standalone Market, saham-saham domestik berisiko tidak lagi masuk dalam indeks utama MSCI Emerging Markets. Indeks tersebut digunakan banyak pengelola dana global sebagai acuan investasi.
Perubahan klasifikasi itu berpotensi memengaruhi aliran dana asing, terutama dari investor yang portofolionya mengikuti indeks MSCI. Namun, besarnya dampak akan bergantung pada keputusan akhir dan respons investor.
Selain isu MSCI, pelaku pasar juga mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik. Tekanan terhadap IHSG dan pelemahan rupiah pada akhir pekan lalu membuat arah pasar keuangan Indonesia masih menjadi perhatian investor.
Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada langkah penegakan aturan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan diumumkan pekan ini.
Dari luar negeri, ketegangan di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dunia turut menjadi perhatian. Investor juga menantikan pengumuman pertumbuhan ekonomi China pada kuartal III-2026 serta keputusan suku bunga pinjaman acuannya.
Berbagai sentimen tersebut akan memengaruhi arah pergerakan pasar dalam beberapa hari ke depan. Di tengah ketidakpastian ini, para investor diimbau untjk mencermati perkembangan isu MSCI, termasuk respons regulator terhadap persoalan transparansi pasar modal.



