JATIMTIMES - Keluhan warga yang kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite ramai di media sosial. Sejumlah warga mengaku harus mengantre panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), bahkan terpaksa beralih ke Pertamax karena Pertalite kosong. Keluhan ini mencuat di beberapa wilayah di Jawa Timur, seperti Blitar, Malang, hingga Tulungagung.

Warga membagikan pengalaman tersebut melalui Threads dan Instagram. Ada yang mengaku kesulitan menemukan Pertalite di sejumlah SPBU, sementara pengendara lainnya harus berpindah lokasi untuk mendapatkan BBM.

Akun Threads @ajengriz** mengeluhkan antrean panjang di Blitar. Ia mengaku harus membeli Pertamax karena Pertalite tidak tersedia di sejumlah SPBU.

"Di Blitar Pertalite antri puanjang, bahkan di beberapa SPBU habis terpaksa beli Pertamax yg mahal, TERPAKSA nih woooy," tulisnya.

Keluhan serupa disampaikan akun @tsamrotul***** yang mempertanyakan penyebab antrean panjang di Blitar.

"Mau nanya, Blitar bensin kenapa antrine puanjaaaaang men. Enek opo to asline??," tulisnya.

Akun @fifita**** juga menanyakan ketersediaan Pertalite di wilayah tersebut.

"Warga blitar... ini pertalite pada kosong ya dimana mana???," tulisnya.

Informasi mengenai antrean panjang turut dibagikan akun Instagram @infoblitar. Akun tersebut menyebut sejumlah SPBU di Blitar mengalami antrean kendaraan dalam beberapa hari terakhir karena pasokan Pertalite di beberapa titik kosong.

"Beberapa SPBU di Blitar mengalami antrean kendaraan yang cukup panjang dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini terjadi akibat kelangkaan pasokan BBM jenis Pertalite di sejumlah titik. Akibat situasi tersebut, para pengendara harus mengantre lebih lama untuk mendapatkan bahan bakar. Bagaimana kondisi antrean di SPBU wilayahmu, cah?," tulis akun tersebut.

Keluhan juga datang dari warga Tulungagung. Seorang warganet dengan akun @rizki***** menyebut kesulitan mendapatkan Pertalite di daerahnya sudah berlangsung cukup lama.

"Blitar dan Tulungagung kak, Tulungagung Agung udah sejak 2 mingguan mulai sulit cari pertalite," tulisnya.

Sementara itu, warga Malang mengaku mengalami kesulitan serupa. Akun Threads @onengsugi**** menceritakan pengalamannya mencari bensin di sejumlah SPBU.

"In this economy cari pertalite dan pertamax semalam di Malang susah sekali. SPBU Sawahan ditolak katanya habis, di Brantas antrinya gak masuk akal, dapat di SKI antrinya luar biasa. Semoga baik baik semuanya kondisi keuanganku dan warga threads, rejeki mengalir deras dan sehat jiwa raga.," tulisnya.

Keluhan ketersediaan BBM juga dikeluhkan pada Kamis (15/10/2026) pagi. Umar (33), warga Blitar, mengaku harus mengantre sekitar 1 jam saat mengisi Pertalite di SPBU Jalan Cemara, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.

Di SPBU tersebut, terdapat pemberitahuan mengenai pembatasan volume pengisian Pertalite. Aturan itu diterapkan untuk pemerataan pelayanan sekaligus mengurangi antrean panjang. "Untuk pemerataan dan menghindari antrean panjang, pengisian pertalite roda 2 dan roda 3 maksimal 50 ribu. Roda 4 maksimal 200 ribu. Serta kami tidak melayani pengisian berulang-ulang terima kasih" demikian pemberitahuan di SPBU Kota Blitar

(Foto: Aturan volume pengisian bbm pertalite di SPBU Karangsari Kota Blitar. (Foto: Binti N Rosidah/JatimTIMES)

PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus mengungkap adanya penyesuaian pola distribusi BBM. Langkah ini dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar mata uang.

"Ada penyesuaian pola distribusi. Di antaranya fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar mata uang," ujar Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (15/10/2026).

Ahad menjelaskan, penyesuaian distribusi tersebut tidak hanya berlaku di wilayah Malang. Pengaturan juga mencakup sejumlah wilayah kerja Pertamina Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara atau Jatimbalinus.

Menurut Ahad, penyesuaian merupakan bagian dari pengelolaan rantai pasok BBM secara menyeluruh di wilayah regional yang mencakup empat provinsi. Pengelolaan tersebut dilakukan mulai dari sumber pasokan, baik impor maupun kilang, hingga proses penyaluran ke wilayah operasional.

"Penyesuaian pola distribusi tidak hanya di Malang, mencakup rantai pasok dari ujung (impor atau kilang) di seluruh wilayah regional Jatimbalinus (4 provinsi)," bebernya.

Selain faktor harga minyak dunia dan nilai tukar, Pertamina juga melakukan penyesuaian sementara di beberapa wilayah akibat perubahan moda transportasi.

"Ada penyesuaian sementara di beberapa wilayah karena perubahan moda transportasi," ungkap Ahad.