JATIMTIMES – Matinya sejumlah lampu hias di Koridor Kayutangan Heritage, Kota Malang, dikeluhkan wisatawan dan masyarakat. Kondisi tersebut menjadi sorotan karena kawasan itu menjadi salah satu tujuan wisata yang mengandalkan suasana malam sebagai daya tarik.

Lampu hias menjadi bagian penting dari tampilan Kayutangan Heritage, terutama saat malam hari. Ketika sejumlah lampu tidak menyala, keindahan koridor yang menjadi salah satu ikon wisata Kota Malang itu dinilai tidak tampil maksimal.

Keluhan tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai pemeliharaan fasilitas penunjang pariwisata. Sebab, keberadaan lampu hias bukan sekadar pelengkap, melainkan turut membentuk suasana kawasan yang dikunjungi wisatawan untuk berjalan-jalan dan menikmati suasana kota.

Bagi wisatawan, pencahayaan menjadi salah satu unsur yang memengaruhi pengalaman berkunjung. Kondisi lampu yang tidak menyala di sejumlah titik berpotensi mengurangi kenyamanan pengunjung saat menikmati kawasan tersebut pada malam hari.

"Sayang banget ya, karena memang disini yang ramai itu kan malam hari ya, otomatis daya tariknya dari hiasan lampu ya. Banyak yang foto-foto juga, kalau ada lampu kan estetik," ujar wisatawan lokal asal Blimbing, Setianto Sakti.

Persoalan ini juga menjadi perhatian karena Kayutangan Heritage telah dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan Kota Malang. Penataan kawasan bersejarah itu menjadi daya tarik tersendiri, sehingga kondisi fasilitas yang menyertainya turut memengaruhi kesan pengunjung.

Matinya sejumlah lampu hias pun memunculkan persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana pemeliharaan fasilitas wisata dilakukan secara berkelanjutan. Penataan kawasan tidak cukup berhenti pada pembangunan dan pengadaan ornamen, tetapi perlu diikuti perawatan agar fungsinya tetap terjaga.

Apalagi, fasilitas yang berada di ruang publik digunakan oleh masyarakat dengan latar belakang dan kebutuhan berbeda. Karena itu, kondisi penerangan perlu diperhatikan, baik dari sisi estetika maupun kenyamanan pengunjung.

Hingga kini, penyebab matinya sejumlah lampu hias tersebut masih perlu dipastikan. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah persoalan itu berkaitan dengan kerusakan perangkat, gangguan instalasi listrik, atau faktor pemeliharaan.

Pantauan di lapangan, setidaknya ada sekitar 40 tiang yang lampunya dalam kondisi tak menyala. Setiap tiang, ada sebanyak tiga titik lampu. Itu artinya ada ratusan lampu yang terpasang percuma karena kondisinya mati.

"Sebenarnya tiang ara ornamennya, namun jika lampunya nyala, kalau malam kan bisa lebih bagus," jelasnya.

Selain penyebab kerusakan, waktu perbaikan juga menjadi hal yang perlu diperjelas. Kepastian penanganan diperlukan agar fasilitas di kawasan wisata tersebut tidak terus dibiarkan dalam kondisi yang mengurangi daya tariknya.

Pemerintah Kota Malang melalui organisasi perangkat daerah terkait perlu memastikan kondisi lampu hias di sepanjang koridor tersebut. Pengecekan menyeluruh juga diperlukan untuk mengetahui jumlah lampu yang tidak berfungsi dan menentukan langkah perbaikan.

Perhatian terhadap fasilitas wisata menjadi penting agar citra Kayutangan Heritage sebagai destinasi wisata kota tetap terjaga. Sebab, pengalaman pengunjung tidak hanya ditentukan oleh bangunan bersejarah dan penataan kawasan, tetapi juga oleh kondisi fasilitas yang mereka temui secara langsung.

Keluhan mengenai lampu hias yang mati tersebut menjadi pengingat bahwa pengelolaan destinasi wisata membutuhkan perawatan rutin. Tanpa pemeliharaan yang memadai, fasilitas yang semula menjadi daya tarik berisiko kehilangan fungsi dan nilai estetikanya.

Sementara itu, sampai saat ini masih belum ada keterangan resmi dari Pemkot Malang terkait kondisi matinya ratusan lampu hias di Kayutangan Heritage. Saat dihubungi, Kepala DLH Kota Malang Raymond H. Matondang tak memberikan respon.