JATIMTIMES - Keterbatasan anggaran masih menjadi kendala bagi kontingen Kota Malang untuk berlaga di Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XV Jawa Timur 2026. Dari total 423 atlet yang diusulkan oleh 28 cabang olahraga (cabor), Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang baru mampu mengakomodasi sekitar 200 atlet.

Untuk membuka peluang lebih banyak atlet tampil di ajang tersebut, Disporapar Kota Malang berencana berkomunikasi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Malang. Pembahasan itu akan difokuskan pada kemungkinan penambahan anggaran pemberangkatan atlet yang belum terakomodasi dalam pembiayaan Disporapar.

Kepala Disporapar Kota Malang Arif Tri Sastyawan mengatakan, pembahasan bersama KONI masih menunggu waktu. Kepastian mengenai tambahan anggaran maupun jumlah atlet yang bisa diberangkatkan melalui dukungan tersebut belum ditetapkan. “Belum ada final. Mungkin minggu ini atau minggu depan paling cepat,” kata Arif.

Meski membuka peluang penambahan dukungan anggaran, Arif mengakui bahwa Kota Malang belum bisa memberangkatkan seluruh atlet sesuai usulan cabor. Karena itu, keterlibatan KONI diharapkan dapat membantu menambah jumlah atlet yang memperoleh pembiayaan, meskipun belum tentu seluruh kebutuhan kontingen bisa terpenuhi.

Menurut Arif, penentuan atlet yang akan diberangkatkan melalui anggaran tambahan perlu dibahas bersama KONI. Selain mempertimbangkan kebutuhan masing-masing cabor, peluang meraih medali juga menjadi salah satu faktor dalam menentukan prioritas atlet.

Keterbatasan tersebut salah satunya terlihat pada cabor sepak bola. Dari lebih dari 25 atlet yang diusulkan, Disporapar Kota Malang hanya mampu membiayai 20 atlet. Jumlah itu dinilai belum ideal untuk memenuhi kebutuhan satu tim selama mengikuti kompetisi.

“Kalau sepak bola itu kan tidak bisa ideal kalau hanya 20 orang. Makanya nanti kita lihat dari KONI bisa membantu berapa,” ujarnya.

Arif menjelaskan, Disporapar telah menyiapkan anggaran lebih dari Rp 1 miliar untuk memfasilitasi keberangkatan atlet ke POPDA XV Jatim 2026. Dari anggaran tersebut, sekitar Rp 300 juta dialokasikan untuk bonus.

Sementara itu, kebutuhan anggaran untuk memberangkatkan seluruh 423 atlet diperkirakan mencapai Rp 3 miliar hingga Rp 4 miliar. Selisih kebutuhan yang cukup besar tersebut membuat pemerintah daerah perlu mencari alternatif dukungan agar lebih banyak atlet bisa memperkuat kontingen Kota Malang.

Penambahan anggaran dari KONI diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengurangi jumlah atlet yang belum terbiayai. Namun, skema pembiayaan dan jumlah atlet yang bisa diakomodasi masih harus menunggu hasil koordinasi kedua pihak.

Selain persoalan pembiayaan, pertimbangan prestasi juga akan menjadi bagian dari penentuan komposisi kontingen. Disporapar bersama KONI nantinya akan melihat potensi atlet dalam mendulang medali sebelum menetapkan nama-nama yang diberangkatkan. “Setelah ini kita SK-kan yang berangkat siapa saja,” pungkasnya.

Sebagai informasi, POPDA XV Jawa Timur 2026 digelar di tiga wilayah, yakni Kabupaten Ngawi sebagai tuan rumah utama, serta Surabaya dan Kediri sebagai tuan rumah pendukung. Ajang tersebut menjadi kesempatan bagi atlet pelajar untuk menunjukkan kemampuan sekaligus bersaing memperebutkan medali.

Dengan keterbatasan anggaran yang ada, koordinasi Disporapar dan KONI Kota Malang kini menjadi salah satu langkah penting untuk menentukan seberapa besar kekuatan kontingen yang dapat dikirimkan ke POPDA XV Jatim 2026.