JATIMTIMES - Hamparan jagung seluas 1.200 meter persegi di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, menghasilkan panen yang diperkirakan mencapai satu ton jagung kering. Di tengah tantangan musim kemarau, hasil tersebut menjadi salah satu upaya petani dalam menjaga produktivitas lahan pertanian.
Proses panen di lahan milik Sudi, dibantu personel Polsek Kedungkandang, Polresta Malang Kota. Mereka adalah Bhabinkamtibmas Aiptu Kholil dan Kanit Binmas Ipda Agus Widodo yang mendatangi lahan pertanian di kawasan Jalan Sampurno RT 02/RW 02 tersebut.
Keterlibatan polisi dalam kegiatan panen itu sekaligus menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung aktivitas pertanian warga, termasuk tantangan yang dihadapi petani dalam mengelola lahan hingga masa panen.
Kanit Binmas Polsek Kedungkandang, Ipda Agus Widodo mengatakan pendampingan kepada petani tidak cukup dilakukan melalui komunikasi dari jauh. Kehadiran langsung di lapangan diperlukan agar kepolisian dapat mengetahui kondisi dan kebutuhan masyarakat di wilayah binaannya.
“Petani memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan pangan. Karena itu, kami ingin terus menjalin komunikasi dengan mereka sekaligus mengetahui kendala yang dihadapi selama proses penanaman hingga panen,” kata Agus.
Menurutnya, pemanfaatan lahan pertanian secara optimal perlu didukung perawatan tanaman yang tepat serta perhatian terhadap kondisi lingkungan. Dengan begitu, lahan yang tersedia dapat memberikan hasil yang maksimal bagi petani.
Di balik hasil panen yang diperoleh, pengelolaan tanaman jagung tetap membutuhkan perhatian, terutama ketika ketersediaan air terbatas. Tanaman jagung memerlukan pasokan air yang cukup pada sejumlah fase pertumbuhan, khususnya ketika memasuki masa pembungaan hingga pengisian biji.
Kekurangan air pada periode tersebut berpotensi menghambat perkembangan tongkol dan mengurangi hasil panen. Karena itu, petani perlu menyesuaikan pola tanam, pemilihan varietas, pemupukan, serta pengairan dengan kondisi lahan.
Berdasarkan prakiraan musim kemarau 2026 dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal musim kemarau di wilayah Kota Malang diperkirakan berlangsung pada awal Mei, dengan puncak kemarau pada Agustus.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan air menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan oleh petani, terutama untuk tanaman yang masih berada dalam fase pertumbuhan ketika curah hujan mulai berkurang.
Selain pengairan, pemantauan hama dan penyakit serta pengelolaan gulma juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Petani perlu memastikan kebutuhan tanaman terpenuhi sesuai kondisi tanah dan ketersediaan sarana produksi.
Agus menjelaskan, komunikasi dengan petani akan terus dilakukan untuk mengetahui persoalan yang muncul di lapangan. Apabila ditemukan kendala yang membutuhkan penanganan teknis, koordinasi dengan penyuluh pertanian maupun instansi terkait dapat menjadi langkah lanjutan.
“Kami berupaya mengetahui langsung persoalan yang dialami petani. Jika ada kendala yang membutuhkan pendampingan teknis, koordinasi dengan pihak terkait perlu dilakukan agar petani mendapatkan informasi dan solusi yang sesuai dengan kondisi lahannya,” ungkapnya.
Jagung menjadi salah satu komoditas pertanian yang memiliki peran dalam mendukung ketersediaan pangan dan pakan. Produktivitasnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kualitas benih, kondisi tanah, ketersediaan air, hingga pemeliharaan tanaman.
Secara umum, jagung dapat dipanen sekitar 90-120 hari setelah tanam, bergantung pada varietas dan kondisi pertumbuhannya. Setelah dipanen, hasil pertanian perlu dikeringkan dengan baik untuk menjaga kualitas serta mengurangi risiko kerusakan selama penyimpanan.
Bagi petani, hasil panen tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, tetapi juga oleh kemampuan mengelola biaya produksi dan mengantisipasi perubahan cuaca. Dukungan informasi pertanian serta akses terhadap sarana produksi menjadi faktor yang turut memengaruhi keberlanjutan usaha tani.
Kegiatan pendampingan yang dilakukan Polsek Kedungkandang menjadi salah satu bentuk keterlibatan kepolisian dalam mendukung aktivitas masyarakat di sektor pertanian. Namun, upaya menjaga produktivitas lahan juga membutuhkan peran kelompok tani, penyuluh pertanian, pemerintah daerah, dan instansi terkait.
Melalui koordinasi lintas sektor tersebut, petani diharapkan dapat memperoleh pendampingan sesuai kebutuhan, mulai dari pengelolaan tanaman hingga penanganan kendala pengairan.
Panen jagung di lahan Sudi di Cemorokandang pun menjadi momentum untuk melihat pentingnya keberlanjutan pertanian di tingkat lokal. Optimalisasi lahan dan perawatan tanaman yang sesuai diharapkan dapat membantu menjaga hasil produksi sekaligus mendukung ketahanan pangan.



