JATIMTIMES – Sepuluh tahun menjalani hemodialisis atau cuci darah bukanlah perjalanan yang mudah bagi Iswati (45). Sejak didiagnosis mengalami gagal ginjal, ia harus menjalani perawatan secara rutin. Di tengah perjalanan panjang tersebut, Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) turut memberikan kepastian akses pelayanan kesehatan bagi Iswati.

Perjalanan pengobatan Iswati bermula ketika dirinya menjalani pemeriksaan kesehatan dan diketahui mengalami tekanan darah tinggi. Setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut, ia kemudian didiagnosis mengalami gagal ginjal dan harus menjalani hemodialisis secara rutin. Diagnosis tersebut menjadi kabar yang mengejutkan, terlebih saat itu usianya masih tergolong muda.

“Awalnya saya kaget sekali, karena usia saya masih cukup muda, tetapi sudah harus menghadapi penyakit gagal ginjal dan menjalani cuci darah. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau saya harus menjalani pengobatan rutin seperti ini,” ungkap Iswati ketika ditemui di sela-sela perawatan hemodialisis di RS Gatoel, Kota Mojokerto, Kamis (08/10).

Selama menjalani hemodialisis, Iswati berusaha tetap menjalani aktivitas dan menjaga kondisi tubuhnya. Rutinitas tersebut juga mempertemukannya dengan pasien lain yang menjalani pengobatan serupa. Dari sana, ia mendapatkan dukungan dan semangat untuk terus menjalani perawatan.

“Kalau sudah waktunya cuci darah, sekarang rasanya bukan hanya datang untuk berobat. Saya juga bisa bertemu dengan teman-teman seperjuangan yang sama-sama menjalani cuci darah. Kami bisa saling menyemangati. Petugas medis di rumah sakit juga memberikan dukungan yang baik, sehingga saya merasa lebih tenang dan tidak merasa sendirian menghadapi kondisi ini,” tuturnya.

Iswati merasakan manfaat Program JKN yang memberikan kepastian akses terhadap pelayanan kesehatan. Ia mengaku dapat menjalani hemodialisis secara rutin tanpa harus khawatir terhadap biaya pelayanan kesehatan yang dijamin Program JKN.

“Saya sangat berterima kasih kepada BPJS Kesehatan. Kalau tidak ada BPJS Kesehatan, mungkin saya tidak bisa menjalani pengobatan seperti sekarang dengan lebih tenang. Selama perawatan, semuanya ditanggung sesuai ketentuan, dan saya tidak mengeluarkan biaya tambahan untuk pelayanan yang dijamin. Alhamdulillah, saya bisa tetap menjalani aktivitas dan menjaga kondisi tubuh dengan baik,” ujarnya.

Pengalaman tersebut membuat Iswati memahami pentingnya memiliki kepesertaan JKN yang aktif, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan pengobatan dalam jangka panjang. Baginya, kepastian akses pelayanan kesehatan membantu peserta lebih fokus menjalani perawatan.

Meski telah menjalani hemodialisis selama sekitar satu dekade, Iswati tetap optimistis dalam menghadapi kondisi kesehatannya. Ia berharap pengalamannya dapat menguatkan semangat pasien lain sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keaktifan kepesertaan JKN.

“Saya berharap semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya memiliki kepesertaan JKN yang aktif. Bagi saya, menjalani cuci darah selama kurang lebih 10 tahun bukanlah perjalanan yang mudah. Saya bersyukur bisa terus menjalani pengobatan dan beraktivitas dengan baik. Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi penyemangat bagi pasien lain untuk tidak menyerah dan tetap optimistis dalam menjalani pengobatan,” ungkap Iswati.