JATIMTIMES – Festival Lomba Burung Berkicau Piala Bakorwil III Malang yang berlangsung Minggu (11/10/2026) di Gantangan Wijaya Kusuma, Rest Area Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, menyoroti potensi ekonomi di balik komunitas penghobi burung. Dengan 400-an peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur, kegiatan dalam rangka memperingati Hari Jadi Ke-81 Provinsi Jawa Timur ini membuka ruang aktivitas bagi pelaku UMKM, karang taruna, penangkar, hingga pedagang perlengkapan burung.

Sekretaris Badan Koordinasi Wilayah Pemerintahan dan Pembangunan (Bakorwil) III Malang Widodo Joko Santoso SHut MM mengatakan kegiatan tersebut sejalan dengan arahan gubernur Jawa Timur agar penyelenggaraan acara mampu memberikan dampak nyata kepada masyarakat, bukan sekadar menjadi agenda seremonial.

“Kalau ekosistemnya hidup, yang mendapatkan manfaat bukan hanya penangkar atau penghobi. UMKM bisa bergerak, karang taruna bisa terlibat, masyarakat bisa mendapatkan pekerjaan, dan kegiatan seperti ini juga bisa menjadi bagian dari aktivitas ekonomi lokal,” paparnya.

Menurut Widodo, penyelenggaraan festival burung berkicau memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas melalui kolaborasi lintas komunitas dan pelibatan masyarakat di sekitar lokasi. Bakorwil III Malang juga membuka peluang agar penyelenggaraan pada tahun berikutnya dapat berlangsung dengan skala lebih besar dan melibatkan lebih banyak pihak.

"Tentunya kami berharap ini bisa terus berlanjut dan semakin berkembang, apalagi dampaknya atau imbas pada masyarakat begitu positif," ujar dia.

Dampak ekonomi yang diharapkan tidak hanya berasal dari transaksi selama perlombaan. Berkembangnya komunitas burung berkicau turut membentuk rantai usaha yang mencakup penangkaran, perdagangan burung, penyediaan pakan, pembuatan sangkar, aksesori, jasa perawatan, transportasi, hingga penyelenggaraan kegiatan komunitas.

Penangkaran menjadi salah satu mata rantai yang memiliki peluang untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Ketika usaha penangkaran tumbuh, kebutuhan terhadap berbagai perlengkapan dan layanan pendukung ikut meningkat. Perputaran usaha tersebut dapat melibatkan pelaku ekonomi dalam skala kecil maupun menengah.

Di sisi lain, pengembangan komunitas penghobi juga berkaitan dengan pengetahuan mengenai karakter burung, teknik pemeliharaan, perawatan, dan penangkaran. Kecintaan terhadap burung diharapkan dapat diarahkan melalui praktik penangkaran yang legal dan berkelanjutan, sehingga pemenuhan kebutuhan penghobi tidak bergantung pada pengambilan burung dari alam.

Dalam festival tersebut, sejumlah jenis burung diperlombakan, meliputi murai batu, anis merah, cucak ijo, cendet, dan sogon. Masing-masing memiliki karakter suara dan basis penggemar tersendiri. Murai batu, misalnya, dikenal dengan variasi suara dan karakter kicauannya, sedangkan jenis lainnya memiliki ciri khas yang menjadi perhatian komunitas masing-masing.

Keragaman jenis burung tersebut turut memperlihatkan luasnya ekosistem penghobi yang terbentuk. Aktivitas komunitas tidak hanya berpusat pada kompetisi, tetapi juga mencakup pertukaran pengetahuan, pemeliharaan, penangkaran, dan aktivitas perdagangan yang menopang keberlangsungan hobi tersebut.

Muslimin Nyoni, panitia sekaligus owner Gantangan Wijaya Kusuma, mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap penyelenggaraan festival. Menurutnya, dukungan tersebut memberikan semangat bagi para penghobi dan pecinta burung berkicau untuk terus mengembangkan komunitasnya.

“Dukungan dari pemerintah tentu menjadi penyemangat bagi para penghobi dan pecinta burung kicau,” ujar Muslimin.

Ia berharap dukungan pemerintah dapat berlanjut agar festival serupa semakin berkembang dan mampu menjangkau lebih banyak peserta serta komunitas. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang kompetisi, tetapi juga memberikan hiburan kepada masyarakat.

“Dampaknya juga merambah pada pergerakan ekonomi. UMKM bisa lebih bergeliat, bisnis burung ikut bergerak, dan harga burung juga berpeluang meningkat,” kata Muslimin.

Keterlibatan UMKM dan karang taruna di sekitar lokasi menjadi salah satu aspek yang dinilai penting dalam pengembangan festival. Kehadiran peserta dan pengunjung membuka peluang bagi usaha lokal untuk menawarkan produk maupun jasa, sekaligus memperluas aktivitas ekonomi di kawasan Sumbersekar, Kecamatan Dau.

Penyelenggaraan Piala Bakorwil III Malang tahun ini menjadi pijakan untuk memperluas kolaborasi pada tahun mendatang, dengan harapan skala kegiatan semakin besar dan keterlibatan komunitas serta masyarakat semakin luas.