JATIMTIMES - Warga Jawa Timur belakangan ini mengeluhkan cuaca yang terasa lebih panas dan menyengat. Di sejumlah daerah, terik matahari membuat udara terasa lebih 'gerah', terutama saat memasuki siang hari.

Kondisi panas juga sempat menjadi sorotan dalam gelaran Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 pada Minggu (4/10/2026). Perlombaan kategori maraton dihentikan pada pukul 08.27 WIB demi keselamatan peserta setelah indikator panas di lokasi menunjukkan angka Indeks stres panas atau Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) mencapai kisaran 42-46°C bahkan sempat menyentuh angka 48°C. 

Lantas, mengapa udara di Jatim terasa begitu panas dan sumuk akhir-akhir ini?

Stasiun Klimatologi Kelas I Jawa Timur BMKG menjelaskan salah satu faktor yang memengaruhi kondisi panas tersebut adalah posisi Matahari yang terus berubah sepanjang tahun akibat gerak semu Matahari.

BMKG menjelaskan gerak semu Matahari berkaitan dengan kemiringan sumbu Bumi sekitar 23,5 derajat serta peredaran Bumi mengelilingi Matahari. Akibatnya, posisi Matahari yang tampak dari Bumi berubah-ubah sepanjang tahun.

"Gerak semu matahari terjadi karena kemiringan sumbu bumi sebesar 23,5 derajat dan peredaran bumi mengelilingi matahari. Akibatnya, posisi matahari yang tampak dari bumi berubah-ubah sepanjang tahun," ungkap keterangan resmi BMKG Iklim Jatim, dikutip Rabu (7/10/2026). 

Ketika posisi Matahari berada relatif dekat dengan wilayah Indonesia, penerimaan radiasi Matahari di wilayah tersebut dapat menjadi lebih optimal. Kondisi ini turut membuat panas pada siang hari terasa lebih menyengat.

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan fenomena kulminasi Matahari. Untuk Surabaya dan sekitarnya, puncak kulminasi utama diperkirakan terjadi pada 12 Oktober.

Kulminasi utama merupakan kondisi ketika Matahari berada di posisi paling tinggi di langit hingga berada tepat di atas kepala pengamat pada lokasi tertentu. Fenomena ini dikenal juga sebagai hari tanpa bayangan.

Selain posisi Matahari, kondisi musim juga ikut memengaruhi cuaca panas di Jawa Timur. 

Jawa Timur masih berada dalam periode musim kemarau pada Oktober. BMKG Juanda menyampaikan suhu udara maksimum di Surabaya pada periode ini masih berpotensi meningkat hingga sekitar 37 derajat Celsius.

Kelembapan udara juga menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa panas kondisi yang dirasakan tubuh. Saat udara lembap, keringat lebih sulit menguap dari permukaan kulit. Padahal, penguapan keringat merupakan salah satu mekanisme tubuh untuk melepaskan panas.

Akibatnya, suhu yang dirasakan tubuh atau feels-like temperature bisa terasa lebih panas dibandingkan angka suhu udara yang ditunjukkan termometer. BMKG menjelaskan, dengan suhu udara yang sama, kondisi yang lebih lembap dapat membuat panas terasa lebih menyengat.

Hal ini juga menjelaskan mengapa angka pada indikator panas saat Surabaya ISOPLUS Marathon bisa jauh lebih tinggi dibandingkan suhu udara yang tercatat pada pengamatan BMKG.

Dalam lomba tersebut, indikator WBGT sempat menunjukkan angka 42-44 derajat Celsius dan bahkan mencapai 48 derajat Celsius. Kondisi itu menjadi pertimbangan penyelenggara bersama tim medis untuk menghentikan kategori maraton demi keselamatan pelari.

Dengan kondisi cuaca yang masih panas, masyarakat diminta tetap memperhatikan kondisi tubuh, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

Warga juga disarankan mencukupi kebutuhan cairan dengan rutin minum air putih dan menghindari paparan panas berlebihan. Pembaruan informasi cuaca dari BMKG juga penting dipantau, terutama bagi masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan.