JATIMTIMES - Pernah merasa uang Rp 100 ribu sekarang lebih cepat habis? Nominal yang dulu terasa cukup untuk membeli beberapa kebutuhan, kini terkadang hanya cukup untuk makan dan membeli sedikit kebutuhan lainnya.
Kondisi tersebut tidak selalu berarti pengeluaran seseorang semakin boros. Perubahan harga barang dan jasa juga dapat memengaruhi kemampuan uang untuk memenuhi kebutuhan. Dalam ekonomi, hal ini berkaitan dengan daya beli.
Lantas, dengan kondisi harga saat ini, uang Rp 100 ribu sebenarnya bisa mendapatkan apa saja dan bagaimana cara menghitung daya belinya?
Inflasi Membuat Daya Beli Berubah
Daya beli menggambarkan seberapa banyak barang atau jasa yang dapat diperoleh dengan sejumlah uang. Ketika harga barang naik, jumlah barang yang bisa dibeli dengan uang yang sama otomatis dapat berkurang.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, inflasi secara bulanan tercatat 0,30 persen. Rilis BPS tentang inflasi September 2026
Angka tersebut tidak berarti semua barang mengalami kenaikan harga 3,28 persen. Setiap kelompok barang memiliki perubahan harga yang berbeda.
Hal itu juga terlihat pada kelompok pangan yang harganya bergejolak. Bank Indonesia mencatat volatile food mengalami inflasi tahunan sebesar 5,03 persen pada September 2026. Sejumlah komoditas seperti cabai, daging ayam ras, beras dan telur ayam ras turut memberikan tekanan terhadap harga. Rilis Bank Indonesia tentang inflasi September 2026
Rp 100 Ribu Bisa Dapat Apa?
Tidak ada jawaban yang sama untuk semua orang karena harga barang berbeda-beda berdasarkan daerah, toko, merek dan kualitas.
Namun, secara sederhana, Rp 100 ribu bisa digunakan untuk beberapa kebutuhan sehari-hari. Misalnya untuk membeli makanan, bahan dapur, transportasi atau kebutuhan rumah tangga dalam jumlah tertentu.
Sebagai gambaran, jika satu kali makan seharga Rp 20 ribu, maka Rp 100 ribu cukup untuk lima kali makan. Tetapi jika harga satu kali makan menjadi Rp 25 ribu, uang yang sama hanya cukup untuk empat kali makan.
Nominalnya tetap Rp 100 ribu, tetapi jumlah barang atau jasa yang diperoleh berkurang. Itulah gambaran sederhana mengenai penurunan daya beli.
Begini Cara Menghitung Daya Beli Rp 100 Ribu
Perubahan daya beli dapat digambarkan menggunakan angka inflasi. Misalnya menggunakan inflasi tahunan September 2026 sebesar 3,28 persen.
Jika sebuah keranjang kebutuhan sebelumnya bernilai Rp 100 ribu, setelah mengalami kenaikan harga 3,28 persen, maka nilainya menjadi:
• Rp 100.000 × 1,0328 = Rp 103.280
Artinya, barang yang sebelumnya bisa dibeli dengan Rp 100 ribu membutuhkan sekitar Rp 103.280 setelah terjadi kenaikan harga sebesar 3,28 persen.
Sebaliknya, jika uang yang dimiliki tetap Rp 100 ribu, maka daya belinya terhadap keranjang barang dengan harga sebelumnya secara matematis menjadi:
• Rp 100.000 ÷ 1,0328 = sekitar Rp 96.826
Angka tersebut bukan berarti uang Rp 100 ribu berubah menjadi Rp 96.826. Uang yang dimiliki tetap Rp 100 ribu. Angka Rp96.826 hanya menggambarkan daya beli relatifnya setelah memperhitungkan kenaikan harga 3,28 persen.
Perasaan uang Rp 100 ribu cepat terasa habis bisa semakin terasa ketika barang yang paling sering dibeli mengalami kenaikan harga lebih tinggi dibanding inflasi umum.
Contohnya adalah kebutuhan pangan. Jika harga beras, telur, minyak goreng, cabai atau lauk mengalami kenaikan, pengeluaran rumah tangga bisa langsung bertambah karena barang-barang tersebut dibeli secara rutin.
Itulah sebabnya pengalaman setiap orang terhadap inflasi bisa berbeda. Orang yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk makanan mungkin lebih merasakan perubahan harga pangan dibandingkan orang yang memiliki pola pengeluaran berbeda. Selain itu, harga barang di setiap daerah juga tidak selalu sama.
Cara Sederhana Mengukur Daya Beli Sendiri
Tidak harus menggunakan rumus ekonomi untuk mengetahui apakah daya beli uang berkurang.
Cara paling sederhana adalah membandingkan keranjang belanja yang sama dari waktu ke waktu.
Misalnya, catat berapa biaya yang dibutuhkan untuk membeli beras, telur, minyak goreng, sayuran dan kebutuhan lainnya. Setelah itu, bandingkan dengan pengeluaran beberapa bulan atau tahun sebelumnya.
Jika sebelumnya seluruh kebutuhan tersebut bisa diperoleh dengan Rp 100 ribu, tetapi sekarang membutuhkan Rp 110 ribu, berarti uang Rp 100 ribu tidak lagi mampu membeli barang dalam jumlah yang sama.
Jadi, ketika merasa Rp 100 ribu semakin cepat habis, bukan berarti nilai nominal uang tersebut berubah. Yang berubah adalah kemampuan uang tersebut untuk membeli barang dan jasa.
Inflasi September 2026 yang tercatat 3,28 persen secara tahunan menjadi salah satu gambaran perubahan harga secara umum. Namun, daya beli yang dirasakan setiap orang tetap bergantung pada barang yang dibeli dan pola pengeluarannya.
Dengan kata lain, Rp 100 ribu tetap Rp 100 ribu, tetapi apa yang bisa didapat dengan uang tersebut dapat berubah seiring naik turunnya harga.



